Kisah Harun Al Rasyid dan Segelas Air Putih

Jika aku diperbolehkan membawa selembar kertas dan mencatat apa yang aku dengar setiap kali aku hadir dalam khotbah Jumat yang sudah aku hadiri sejak awal akil balig, mungkin sekarang aku sudah bisa menulis ratusan buku.

Melihat ke sekelilingku saat khotib (penceramah) berorasi, berceloteh, berargumen, atau sekadar membaca lembaran naskah di hadapannya, memang membuat miris. Lebih banyak mata yang tertutup atau setengah terbuka di sini. Padahal nasihat-nasihat kebajikan dan kisah-kisah bermakna sedang dikumandangkan. Namun, apa boleh buat. Semua hal yang baik, termasuk isi Khotbah Jumat selalu membosankan bagi jiwa-jiwa manusia pendosa seperti kami ini.

Kadang untuk mengusir rasa bersalah itu, aku harus berjuang untuk tetap duduk tegak, menata setiap ruas tulang belakang, kemudian memposisikan tulang duduk sebagaimana mestinya seperti sebelum melakukan latihan pranayama dalam yoga. Menegakkan batang tubuh memang ampuh membuat tetap terjaga tetapi sayangnya itu melelahkan dan tidak bisa bertahan terlalu lama. Beberapa detik kemudian, aku pun kembali membungkuk dan setelah membungkuk, hembusan udara sejuk pendingin udara pun menerpa kepala dan kantuk menjalar.
Dalam khotbah Jumat kemarin, aku mendengar samar-samar sebuah kisah menarik dan dengan tetap memerangi rasa kantuk, aku berhasil menyerap isinya.
Begini ceritanya. Ada seorang bijak yang diundang Raja Harun Al-Rasyid ke istananya yang megah. Ia diperintahkan untuk memberikan sebuah nasihat.
Orang bijak pun memilih menceritakan nilai air putih di hadapan sang raja.
“Wahai khalifah, bagaimana sekiranya engkau dahaga luar biasa, tetapi sekali pun engkau menyeberangi negeri jiran pun tetap kau tak dapatkan, berapa harta yang kau akan bayarkan untuk segelas air putih seperti ini,” tanya si orang bijak sambil memandang gelas tersebut.
“Aku bersedia membayarnya dengan separuh harta dan kerajaan yang aku miliki ini,” jawab si khalifah.
“Kalau demikian, silakan baginda meminum air ini,” kata orang bijak pada raja di hadapannya.
Sesaat kemudian Harun meneguk air putih yang tersedia.
Si orang bijak kembali bertanya padanya,”Setelah meminum air tadi, bagaimana jika air tadi tidak bisa keluar dari tubuh baginda? Baginda tidak bisa buang air kecil atau besar, cara pengobatan apapun yang sudah dicoba ternyata tidak mampu membuangnya dari tubuh baginda. Berapa sekiranya yang akan baginda bayarkan untuk membuang air tadi?”
Sang khalifah menjawab dengan mantap, “Akan aku serahkan separuh kerajaanku yang tersisa agar air ini bisa keluar dari badanku.”
Si orang bijak menyimpulkan,”Ternyata Raja Harun Al-Rasyid, harga kerajaan dan semua isinya ini tak lebih dari segelas air putih.”
Kalau mengingat kisah-kisah seperti ini rasanya mereka yang mendengar langsung menyadari betapa berharganya hal-hal sepele dalam kehidupan mereka. Cara yang klise untuk menumbuhkan rasa bersyukur tetapi itulah jalan satu-satunya. Peringatan halus, sebelum waktunya akan datang untuk peringatan tegas yang lebih nyata dan mengerikan.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s