@nukman: “Boleh Twitwar Asal Tetap Cool”

image

Kasus tuntutan hukum yang menimpa pemilik akun Twitter @benhan menarik perhatian publik. Karena dianggap mencemarkan nama baik seorang politisi melalui isi tweet-tweetnya yang kritis, @benhan harus rela diciduk polisi.
Sebenarnya kasus seperti ini tidak mengejutkan. Sebelumnya juga sudah banyak terjadi saling cerca di linimasa, saling fitnah tentang tuduhan ini itu di jejaring sosial, dan sebagainya.
Dan lagi-lagi muncul perdebatan tentang kebebasan berpendapat dan berbicara di muka umum. Apakah Twitter harus steril dari jangkauan hukum dunia nyata? Mengapa celotehan di Twitter harus ditanggapi sedemikian serius? Dan mengapa si politisi menganggap tweet-tweet @benhan yang followernya saja cuma puluhan ribu harus dibungkam? Padahal di saat yang sama, akun pseudonim berfollower jutaan merajalela, menyebar ‘kabar’ dan ‘berita’ serta ‘fakta’ yang belum tentu benar serta menohok banyak orang penting semaunya. Aneh saja menurut saya.
image

Menyaksikan tayangan langsung dialog tentang kasus ini baru saja, rasanya memang dilematis. Di satu sisi, pihak yang merasa dijelek-jelekkan (terlepas valid tidaknya bukti yang diberikan terkait tuduhan atau dugaan yang dilontarkan) pastinya ingin sebuah payung hukum agar diri mereka tidak menjadi bulan-bulanan massa di jejaring sosial terutama Twitter. Patut diketahui bahwa Twitter memang bisa dianggap cuma wadah kata-kata omong kosong, bisa dianggap angin lalu kalau mau. Tetapi kecenderungan pers saat ini juga mengarah pada perlakuan terhadap Twitter sebagai satu sumber berita yang layak diandalkan. Jika tak bisa bertemu sosoknya langsung, mention saja nama akunnya, mungkin begitu pikir para jurnalis. Ini menunjukkan bahwa Twitter makin dianggap serius sekarang, tidak bisa dianggap sebelah mata. Akurat atau tidak, bukan masalah, yang penting cepat. Toh kalau keliru nanti bisa diralat! Inilah ciri khas jurnalisme media baru, bertolak belakang dengan jurnalisme gaya lama yang memegang teguh prinsip “akurasi baru publikasi”. Tak ada yang lebih baik. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Jadi bisa dipahami kalau ada pihak yang merasa omelan di Twitter harus ditanggapi secara sangat serius hingga ke tingkat hukum.
Di sisi lain, mereka para aktivis social media yang menghendaki kebebasan berpendapat dipertahankan, yang artinya menebas kungkungan undang-undang ITE yang sudah diberlakukan, juga tidak mau hak-haknya terampas begitu saja. Indonesia bukan China yang ketat dengan aturan, sensor, pemblokiran, dan lain-lain. Bagaimana pun buruknya pemerintahan sekarang ini, menurut saya salah satu hal yang terbaik yang masih ada adalah kebebasan berpendapat tanpa banyak diintervensi pemerintah. Lihat saja Amerika Serikat yang menganggap dirinya kiblat demokrasi dan kebebasan berpendapat, mereka juga menerapkan kebijakan pengawasan yang bahkan jauh lebih mengerikan skala dan intensitasnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Gatot Dewa S. Broto dari Kemenkominfo dalam acara dialog yang mengatakan bahwa pemerintah RI pernah ditawari oleh Twitter di tahun 2011 untuk memonitor tweet-tweet pengguna di Indonesia (terutama yang berkicau terlalu vokal melawan pemerintah) tetapi pemerintah menolak. Ia mencontohkan kasus bullying yang dialami politisi PKS sekaligus Menkominfo Tifatul Sembiring. Dengan follower sekitar 600 ribu, tak heran kalau tiap hari ia selain menuai pujian juga kecaman, cercaan. Dan jika semua itu dianggap serius, tentunya akan sangat melelahkan untuk menjebloskan setiap orang di balik akun-akun sinis itu ke hotel prodeo. “Begitu seseorang masuk ke social media, ia harus siap di-bully,”kata Gatot,”Jadi harus legowo (lapang dada) lah.” Sayangnya, politisi satu itu tidak.
Praktisi social media Nukman Luthfie yang aktif berkicau di Twitter mengatakan masyarakat Indonesia tak perlu cemas akan dibui hanya karena berkomentar vokal di Twitter. Twitwar alias perang kata-kata di linimasa (timeline) Twitter itu sah-sah saja. “Isi Twitwar tidak harus mencela pihak tertentu. Banyak tema Twitwar yang menarik tanpa menyinggung orang lain. Kita itu bisa saja bertengkar di Twitter tetapi tetap cool!”ujar pria kocak ini.
Dalam berkata-kata dan menyusun argumen di Twitter juga perlu dihindari kalimat eksplisit dan frontal. Alih-alih mengatakan:” Si Bagor itu perampok”, kita bisa mengatakan:” B mengambil yang bukan haknya.” Mungkin tweetnya menjadi lebih panjang dan ‘kabur’ tetapi akan lebih aman dan menghindari Twitwar yang membabi buta tanpa kendali akal sehat. Karenanya, Nukman menyarankan untuk mempublikasikan dan mengunggah konten positif di jejaring sosial lalu bangun interaksi dengan orang lain yang menjadi teman kita.

Leave a comment

Filed under social media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s