Menanti Apresiasi Pemerintah terhadap Rakyat Bertalenta

image

Saya suka mendengar cerita. Cerita dari siapa saja. Lalu saya akan ingat atau catat di benak untuk disebarkan atau dipendam sementara hingga lupa atau diolah lagi menjadi kisah yang patut disimak. Sayangnya ingatan sungguh lemah jadi saya lebih suka menulis dengan mengandalkan rekaman suara. Suara orang lebih membekas di benak. Mungkin karena saya condong ke tipe auditori, atau memang hanya malas mengingat saja.
Suatu hari saya pernah datang ke sebuah acara peluncuran produk elektronik baru. Sama sekali bukan hal yang tidak bisa ditolak. Tugas tetaplah tugas. Lagipula, apa juga yang harus dikeluhkan? Transportasi ke sana tersedia, makanan mahal gratis ada di mana-mana, dan yang paling penting, pertemuan tak sengaja dengan orang-orang yang unik dan memiliki segunung kisah yang menarik.
Seperti celoteh acak si anak diplomat Indonesia yang kini menjadi jurnalis senior. Jujur saja aku tidak tahu namanya, tetapi menyaksikan bagaimana seorang wartawan lain yang lebih muda (tetapi jauh lebih senior dariku) terdiam dan sesekali menimpali ceritanya yang panjang lebar itu sudah cukup membuatku tahu senioritas pria itu. Aku tak memperkenalkan diri kepadanya. Aku hanya berdiri di meja kecil di sampingnya. Tepat di sampingnya, bergeming sambil kadang melirik ke arahnya lalu kembali pura-pura meneliti naskah press release di tangan. Tak ada yang menarik di kertas itu, hanya detil produk dan nama pejabat perusahaan yang akan meluncurkan produk. Aku iseng mengetiknya di perangkat Blackberryku. “Lumayan mencicil penulisan berita, jadi nanti tinggal kirim”, pikirku.
Cerita wartawan senior ini menarik. Dan aku tak peduli betapa panjangnya ceritanya, aku hanya berdiri di sana, sambil meletakkan handphone dengan aplikasi perekam suara yang menyala tanpa sepengetahuan mereka. Lalu aku ambil sepiring salad, kembali ke meja dan makan sambil berdiri. Ya, aku menyadap pembicaraan mereka. Seperti seorang agen rahasia, lalu melaporkannya ke seluruh dunia. Tidak seberisiko perbuatan Edward Snowden tetapi aku yakin pasti ada yang menyukai kisah ini, tak peduli satu ekor manusia pun. Pasti ada! Karena aku juga suka.
Berdiri sungguh cara makan yang aku benci, karena sebagai anak muslim Jawa yang patuh aku didoktrin sejak kecil untuk makan dalam posisi duduk di kursi. Makan berdiri itu seperti kuda, kata seseorang di masa laluku yang terngiang-ngiang melulu. Lalu sekarang berbagai bukti ilmiah mengatakan memang kebiasaan makan dan minum seperti itu kurang bagus untuk kesehatan. “Ya, sekali lagi, tempo-tempo tak mengapa lah. Toh ini darurat!” aku hardik si anak patuh dalam diriku. “Aku tidak bisa menemukan satu kursi kosong pun di sini, okey? Jadi jangan menyusahkan diri sendiri. Makan saja sambil berdiri, toh ini tidak akan membuat orang mati seketika,” gumamku sinis. Dua kursi yang ada di meja ini sudah diduduki kedua wartawan yang sudah berbincang lama sebelum aku masuk.
Si jurnalis senior terus berbicara dengan sesekali menyantap makanan di hadapannya. Tema pertamanya tentang keluhannya mengenai betapa tidak pedulinya pemerintah negeri ini dengan talenta asli Indonesia. Ia bandingkan China dan Indonesia.
Kondisi China dan Indonesia itu kurang lebih sama dulunya di tahun 1950-an. Bahkan si jurnalis senior berani mengatakan lebih baik Indonesia. Lho kok bisa? Dari semua segi yang bisa dibandingkan, menurut si jurnalis senior, keadaan China lebih buruk dari kondisi di sini. Peningkatan sektor pertanian China besar-besaran gagal tetapi China kemudian bisa mengejar berkat munculnya komitmen yang besar dari para pemimpinnya. Dari Mao Zhe Dong hingga Deng Xiao Ping, semuanya mau bersinergi. Visi dan misinya sama dan saling berkesinambungan. Mereka mau China bangkit kembali meraih kejayaan mereka menjadi salah satu pusat peradaban dunia seperti di era dahulu kala, seperti Yunani dan Romawi Kuno, Mesopotamia, Mesir, Maya, Atlantis, dan sebagainya.
Bagaimana dengan Indonesia? Adakah yang mau memikirkan kembali kejayaan nusantara? Adakah yang mau membangkitkan kembali kejayaan era keemasan Majapahit?
Si jurnalis senior mengatakan dengan tegas, “Tidak ada yang mau memikirkan untuk meraih masa kejayaan Indonesia seperti Majapahit.” Mungkin ada, tetapi sayangnya bukan dari pemerintah kita, jadi gaungnya tidak terlalu hebat. Saya pernah bertemu dengan sekelompok anak muda yang mengembangkan video game dengan tema sejarah Majapahit. Maka dari itu, saat ia dengan semena-mena mencap seperti itu, saya seolah mau membentaknya,”Anda salah, pak tua!”
Andai saja ia bertemu dengan Ivan Chen, anak muda dari Jawa Timur, yang dulu pernah saya wawancarai di ajang INAICTA. Bukan bermaksud negatif apapun, Ivan bahkan berkulit kuning, dan itu cukup menampar saya yang pribumi.

Kisah bapak roket China
Ini pertama kali saya mendengar cerita ini. Apa? Bapak roket China? Memang ada julukan seperti itu ya? Aneh. Tapi si jurnalis senior itu terus menyerocos.
Orang ini, yang namanya tidak ia sebutkan dengan jelas, adalah orang jenius yang konon emigrasi ke Amerika Serikat dari China untuk belajar di Harvard University. Sebelum menjadi pakar roket, Ia dijemput oleh seorang ilmuwan roket yang si jurnalis senior itu bilang sebagai bapak roket nazi (saya terus bertanya dalam hati, memang ada ya?). Ia pun menjadi siswa magang alias apprentice dari si ilmuwan roket dan AS menemukan potensinya. Suatu ketika, imigran China yang berguru ke ilmuwan roket itu difitnah sebagai antek komunis di tanah AS yang kapitalis. Tidak mengherankan karena saat itu terjadi perang dingin antara Uni Soviet dan negeri Paman Sam. Begitu kabar itu terdengar pemerintah, semua jabatan dan fasilitas yang ia peroleh dari Uncle Sam diminta kembali secara paksa. Sebelumnya, kata si jurnalis senior, imigran China ini diangkat menjadi seorang pejabat di AS, dan diperlakukan sebagai warga negara terhormat, tanpa diskriminasi meskipun sebenarnya seorang imigran atau pendatang. Mendengar kabar terjungkalnya si imigran berbakat ini, pemerintah China gembira dan menghubunginya untuk segera kembali ke negeri asalnya dan akan menggajinya dua kali lipat dari yang dibayarkan pemerintah AS. Pemerintah China seolah berkomitmen untuk memenuhi segala ambisi si ilmuwan roket itu. Si jurnalis mengambil kasus Suharto dan Habibie sebagai contoh yang lebih dekat. Suharto tahu kejeniusan Habibie dan keinginan Habibie pun dituruti. Semua rencana untuk memajukan sektor teknologi negara dilakukan. “Sekarang masalahnya: apakah pemerintah yang berkuasa saat ini berkomitmen serupa?” Si jurnalis senior melempar pertanyaan retoris nan pesimis.
Ambil contoh, seorang teman si jurnalis senior yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Ia kuliah di negeri asing dan menggunakan biaya sendiri. Namanya Uno, dan saat bertemu dengan si jurnalis itu di tahun 1960-an ia dikawal dengan 2 orang bodyguard Rusia. Pengawalan ketat itu dilakukan karena Uno terlibat dengan pembuatan bom atom Soviet. Sekarang ia menjadi warga negara Jerman dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas sebuah instalasi nuklir di sana.
Untuk menambah keyakinan bahwa Indonesia bukan bangsa idiot, si jurnalis menceritakan satu kisah sukses warga Indonesia di Cape Canaveral, Florida. Si warga keturunan Jawa ini bertanggung jawab untuk pengisian oksigen di misi ulang alik, ujar si jurnalis senior. Ditanya apakah ia mau pulang kampung, orang itu berkata,”Kalau saya pulang apa pekerjaan saya nanti? Bisa tidak mereka (pemerintah Indonesia) gaji saya seperti apa yang saya dapat di sini (AS)?” Tidak bisa disalahkan juga. Jangan membahas nasionalisme di sini. Ia emigrasi ke AS dengan biaya sendiri. “Sekarang bagaimana dengan pemerintah, mau tidak membawa orang-orang seperti ini pulang?” Pertanyaan si jurnalis senior seperti bulu yang melayang di udara. Tertiup angin perlahan-lahan lalu lenyap dari pandangan. Persis cara pemerintah menangani masalah, biarkan mengambang tidak pasti lalu sementara akan dilupakan. Muncul sebentar lagi kemudian sirna.
Si jurnalis senior terkesan sekali dengan perjuangan China membangun bendungan raksasa di sungai Yangtze. Ia tahu kegagalan China membangun bendungan itu di dekade 1950-an saat ayahnya masih bertugas entah sebagai dubes atau staf dubes di sana. “Ayah saya pernah diundang mewakili Indonesia untuk melihat Sun Yat Sen membangun bendungan yang ternyata gagal dibangun,” kisahnya. Teknologi tidak ada, apalagi dana. Ditambah dengan berkecamuknya Perang Dunia II, ambisi itu seperti tertelan bumi. Namun, tempat pembangunannya sudah ditentukan. Lalu datang Mao Zhe Dong cs menggarap proyek bendungan raksasa ini. Demikian juga Deng Xiao Ping, sang penerus. Mereka menabung dan akan membuat bendungan itu 50 tahun setelah itu. Tahun 2004 si jurnalis senior itu kembali ke China dan menyaksikan bendungan itu sudah berdiri megah. Untuk merealisasikan proyek itu, China harus menabung US$26,6 miliar. “Uang sendiri, teknologi sendiri. Generatornya semuanya produk China, hanya 4 mesin cadangan dari Siemens. Bisa dibayangin gak proud of being Chinese??!! Di Indonesia, ini tidak ada,” vonis si jurnalis senior,”Semuanya konsumtif.” Saya hanya bisa mendengarkan sambil menghela nafas panjang sambil menelan ludah. Pahit.

(Bersambung)

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s