Nobokov, Kupu-Kupu dan Aku

Monument to Nabokov at Montreux.

Monument to Nabokov at Montreux. (Photo credit: Wikipedia)

Aku tidak percaya aku baru saja bertemu dengannya di alam mimpi. Ia berdiri begitu saja di hadapanku. Aku tidak ingat tempat apa yang menjadi latar belakang kami bertemu saat itu tetapi semuanya begitu kabur. Memang masih suasana kampus, tempat kami biasa bertemu tetapi kampus itu begitu lain.
Ia menghampiri sebuah deretan almari yang ternyata berisi laci-laci kecil. Akhirnya aku mengenalinya seperti pigeon holes. Itu istilah yang salah satu dosenku gunakan untuk menyebut laci-laci mungil berisi dokumen, surat atau apapun itu yang bisa dimasukkan ke ruang yang tersekat-sekat sekecil itu.
Aku menghampirinya, seolah tertarik daya magnet. Kami bertatap muka. Jilbabnya masih yang sama. Ia masih juga berkacamata, dengan frame yang sama bentuknya. Aku masih mengenali cara bicaranya juga.
Ia pun tersenyum dan bentuk senyumnya aku juga hafal betul. Aku sering menyaksikannya di kelas-kelasnya. Ia pernah mengajarku di universitas dulu.
Aku masih teringat dengan kelasnya dulu, Introduction to Literature. Mata kuliah yang bisa dikatakan paling aku suka, karena untuk itulah aku masuk ke sana. Aku suka sastra tetapi aku belum banyak membaca buku dan karya sastra karena aku mudah bosan. Aku pernah membeli setumpuk naskah drama Shakespeare dan tak pernah membacanya hingga tuntas. Itulah aku, begitu mudah bosan dan jika aku sudah tidak tertarik, tak akan ada yang bisa memaksaku untuk tetap tinggal kecuali diriku sendiri.
Aku gembira melihatnya karena aku tahu pasti ia sibuk mengerjakan sesuatu yang menarik dan berhubungan dengan sastra.
Dalam lelapku, aku masih ingat kami bercakap-cakap. Mungkin tentang kuliah, mungkin tentang sastra, mungkin tentang apa yang ia akan lakukan setelah itu. Kupikir ia akan mengajar karena di sampingnya terletak sebuah deretan ruang kelas yang riuh rendah dengan mahasiswa yang bercakap-cakap seenak sendiri sebelum sebuah kuliah dimulai. Ia tampak bersiap memasuki kelas itu dan meraih sesuatu di pigeon holenya.
Itu hanya mimpiku di sebuah pagi di hari Sabtu yang mendung tetapi sejuk. Entah mengapa alam bawah sadarku menuntunku kepadanya.
Kami tidak pernah berkomunikasi lagi sejak terakhir kali aku bertemu di galeri. Ia hadir sekonyong-konyong untuk memenuhi undangan petinggi perusahaanku. Ini sungguh seperti takdir Ilahi. Siapa yang bisa menyangka dunia begitu sempit. Ia menjadi salah satu pengajar yang disponsori untuk mengajarkan kewirausahaan ke sekitarnya nanti.
Aku mengaguminya. Ia berpikiran terbuka tetapi di saat yang sama memiliki pendirian yang teguh tentang bagaimana ia akan menjalani hidup ini. Bisa dikatakan ia sosok yang tidak hanya sekadar pengajar bagiku, tetapi juga role model, panutan yang hampir sempurna.
Aku masih ingat pujiannya padaku saat aku ikut dalam sebuah acara kerohanian kampus di fakultas lebih dari satu dekade lalu. Kalimatnya membekas seperti pahatan di batu granit yang tidak terhapus. Aku tidak mau mengingat pujian itu. Yang penting aku tahu ia menghargai pengorbananku mengikuti acara itu dan mungkin sebelumnya ia menganggapku sebagai mahasiswa yang sepenuhnya sekuler. Entah apakah aku memang demikian tetapi aku hanya tidak mau terlihat pamer untuk kerelejiusan. Aku anggap itu terlalu pribadi. Komunikasiku dengan Sang Pencipta terlalu pribadi untuk dipamerkan. Lalu kenapa pagi ini aku bertemu dengannya di dunia mimpi?
Aku hampir tidak paham, lalu aku bongkar kembali tumpukan memori dan emosi dalam benak. Inikah saatnya aku harus menjangkau kotak di pojok gelap itu dan membukanya di siang hari yang benderang ini untuk mengetahui semua isinya? Aku mau, tetapi aku takut, aku takut lelah karena membuka kotak itu berarti membebaskan kupu-kupu yang terlihat indah tetapi mematikan. Ia akan kabur dari kotak yang memerangkapnya itu dan aku akan dikutuk untuk selalu mengejarnya hingga nafas penghabisan. Aku tahu kupu-kupu bersayap jingga itu akan mengejekku di setiap kepakan sayapnya yang anggun bahwa aku hanya menghabiskan tenaga setiap kali aku mencoba menangkapnya dengan kedua tangan. Aku benci membunuhnya atau memasang tali pengikat di batang tubuhnya yang empuk. Kupu-kupu indah sialan itu ditakdirkan untuk terus terbang dan hinggap lalu terbang lagi dan aku harus mengejarnya terus sambil tersengal. Aku tidak akan pernah bisa menangkapnya lalu menelentangkannya di kertas dan menjemurnya untuk disimpan agar bisa dipandang di waktu luang suatu hari nanti. Haruskah aku diam saja dan hanya memandang kupu-kupu itu terbang ke sana kemari mengejekku? Aku hanya mau menikmati keindahannya dari kejauhan. Tetapi kalau cuma begitu, aku tidak bisa mengajak orang lain menikmati keindahannya. Sial, mungkin aku memang harus mengejarnya terus menerus lalu istirahat sebentar untuk menyusun strategi menggapainya lebih dekat. Dengan begitu aku bisa mencatat detil tubuhnya, corak dan motif warna di sayapnya, jumlah kakinya, bentuk antenanya, ukuran matanya, cara bernafasnya…
Dan di dalam kotak itu, konon ada ratusan kupu-kupu yang terperangkap, menunggu aku bebaskan. Aku berpikir, ”
Jumlah itu lebih dari cukup untuk aku kejar sepanjang hidupku.” Sayangnya aku tidak sekaya Vladimir Nobokov untuk bisa mengejar kupu-kupu di halaman hotel mewah tempat menghabiskan waktu.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s