Nagawa-san:”95% Orang-orang yang Ingin Jadi Birokrat adalah SAMPAH”

image

Sebelum Anda semua yang berstatus pegawai negeri dan bekerja di pemerintahan memburu untuk menyeret saya ke pengadilan dan memenjarakan saya seperti @benhan, silakan dengar penjelasan saya dulu. Judul di atas saya ambil dari halaman 80 novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Semuanya persis seperti itu kecuali penulisan kata “sampah”. Saya pakai huruf kapital sebagai penekanan saja agar lebih dramatis dan menarik perhatian.

Kutipan ini sangat relevan dengan tren saat ini di negeri kita. Tren yang juga pernah membuai saya di masa lalu. Saya juga pernah ingin menjadi seorang pegawai negeri. Tidak terlalu ingin sebenarnya, hanya saja karena tidak ada pekerjaan lain, saya merasa harus mendapatkan peluang itu. Dan saya terus terang gagal, lalu logisnya tentu saya agak kecewa meskipun kemudian merasa sangat lega. Teramat sangat lega…

Minggu-minggu belakangan ini diwarnai dengan pengumuman pembukaan lowongan kerja di berbagai instansi pemerintahan. Seorang mantan mahasiswi yang pernah saya ajar dengan membabi buta menyebarkan lowongan link di dinding akun Facebooknya. Rupanya bahkan di Facebook ada orang yang membuat halaman tersendiri untuk para penggemar pengumuman semacam ini, dan sangat laris manis tentunya, banyak yang like. Mungkin kepopuleran fanpage lowongan CPNS ini setara dengan halaman untuk berita selebriti Korea. Sementara fanpage saya sendiri saja demikian memprihatinkan, tidak beranjak dari angka 200-an. Lihat saja di kolom sebelah kanan tulisan ini.

Bukannya sombong tetapi saya dulu juga pernah ikut tes masuk CPNS Departemen Luar Negeri, Departemen Pertanian dan posisi dosen di almamater saya, Universitas Negeri Semarang. Lagipula apa yang mau disombongkan karena semuanya gagal.

Saat ikut CPNS Deplu kedua kali tahun 2006, saya masih ingat bahwa saya harus sampai berangkat dengan tubuh yang belum pulih benar tertimpa penyakit tipus. Saat itu panggilan tes terakhir, yang ketiga. Perjalanan panjang pulang pergi Jakarta-Kudus dalam jarak waktu beberapa minggu membuat saya ambruk secara fisik. Tekanan psikologis juga menguat karena ketegangan menunggu pengumuman. Tes pertama berupa pengetahuan umum, saya lolos. Padahal sebenarnya jawaban saya tak terlalu bagus juga. Bayangkan harus mengisi jawaban dari soal-soal yang berupa hafalan pengetahuan umum seperti sejarah dan pengetahuan terbaru kawasan ASEAN dan dunia. Jadi jika salah, salahlah total, tak mungkin ada setengah atau seperempat. Kalau benar-benar tidak tahu, ketrampilan mengarang pun tak berguna. Tes kedua ialah kemampuan berbahasa Inggris. Sebetulnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari lolosnya saya di sini. Kuliah tentang sastra Inggris selama 6 tahun (sarjana dan magister) membuat keberhasilan ini adalah sebuah keniscayaan dan jikalau gagal adalah sebuah kenistaan. Seberat itu memang. Lalu yang terakhir adalah tes interviu. Sakit tipus itu tidak menghalangi saya nekat ke Jakarta, demi menjalani tes tahap akhir ini. Perjalanan di kereta api di siang itu rasanya panjang sekali karena saya pergi sendirian. Teman-teman saya yang bersama di tahap 1 dan 2 sudah tersingkir semua. Alih-alih bangga dengan kesuksesan sementara itu, saya justru kesepian. Perut melilit dan berusaha mengganjalnya dengan makanan seadanya berupa roti. Saya baru terkena tipus dan rasanya roti bukan makanan tersehat untuk membuat proses pemulihan kesehatan lebih cepat. Saat tes menghitung cepat di lembaran mirip koran yang berguna mengukur stabilitas daya fokus kognitif, saya seperti keledai kelaparan dan sakit yang terus dipacu dengan cemeti oleh tuan saya yang duduk di pedatinya. Suara penghapus kayu yang diketukkan ke meja oleh si penguji saat itu untuk menandai saatnya berpindah ke kolom angka selanjutnya terdengar nyaring dan mengancam. Benar-benar mencekam, tegang dan tidak ada waktu untuk berpikir tentang perut yang tak karuan rasanya.

Saat interview dengan panelis, jas pinjaman yang saya kenakan makin tidak nyaman rasanya. Tema wawancara adalah isu internasional. Dari masalah nasionalisasi minyak di Venezuela sampai yang lain yang bahkan saya tak pernah dengar sebelumnya. Jawaban spontan saya rasanya hambar, mengambang, tanpa poin yang memiliki makna yang menggebrak dan menjatuhkan rahang anggota panel. Ruangan itu serasa makin dingin dan keringat dingin bercucuran, entah karena tipus atau rasa gugup. Dan saya harus bertarung sekali lagi. Kali ini berhadapan dengan satu orang laki-laki, dalam ruangan yang sunyi. Mungkin ia psikolog, saya pikir juga begitu. Atau psikiater, karena meski berbaju ala angkatan bersenjata, ia sangat cerdik bersilat lidah. Pertama-tama ia membuat saya agar lebih santai. Bertanya tentang keluarga, pendidikan. Lalu tibalah bertanya tentang skripsi karena saat itu saya belum lulus S2. Ia bertanya dan terus menerus bertanya, menggiring saya sedemikian rupa, berputar-putar tentang satu pertanyaan utama: apakah saya meneliti American dream dalam karya rekaan atau kenyataan? Saya menjawab awalnya karya fiksi, novel Gone with the Wind. Tetapi begitu saya dicecar, ia berhasil membuat saya kebingungan dan mengatakan dengan mulut saya sendiri bahwa saya meneliti kenyataan. Menyadari saya sudah memberikan jawaban yang tidak konsisten, saya menyandarkan punggung ke kursi, sedikit menghela nafas dan tersenyum. “Gotcha!”begitu saya dengar sebuah suara dalam kepala. Saya keluar setelah berjabat tangan dengannya dan tidak peduli peningnya kepala lalu keluar menghambur dan ingin tidur!

Beberapa minggu setelah itu, saya hanya bisa memelototi layar komputer di sebuah warnet penuh rasa kecewa. Tak ada nama saya. Tapi kalau ada, itu malah lebih mengejutkan lagi, mengingat blunder besar yang saya perbuat.

Saya ikut tes CPNS Deptan setelah itu tetapi tak ada kabar lalu bertaruh peruntungan di tes perekrutan dosen di tahun 2009. Tak ada ruginya, sekadar iseng, dan ‘membahagiakan orang tua’, satu alasan klasik yang sangat berbisa. Itu karena hampir semua orang tua mau anaknya menjadi PNS, apalagi orang tua yang sudah bekerja puluhan tahun sebagai PNS. Mereka mau anaknya juga begitu. Melanjutkan jejak mereka di dunia yang sama, mendedikasikan diri pada pemerintah Indonesia. Ah, sayangnya saya berkehendak lain. Kehendak saya adalah bekerja apapun yang bukan PNS, bukan di jajaran birokrasi, tidak bersentuhan dengan pemerintah. Aneh bukan? Orang lain menganggap saya aneh tetapi saya hanya bosan dan yang saya tahu pasti adalah saya tidak menginginkannya. Mengetahui yang disukai memang penting tetapi mengetahui yang tidak disukai juga sama pentingnya agar tidak menyiksa diri di kemudian hari. Berawal dari pemahaman itu, saya lalu mencoba mengeksplorasi diri. Pastilah ada celah. Pasti ada banyak ladang rejeki di luar sana selain PNS, saya hanya mau yang lain.

Akhirnya saya menemukan pekerjaan saya sekarang.

Tidak peduli dengan kegagalan-kegagalan tadi, saya hanya berasumsi inilah jalan agar saya sampai di titik ini. Dan bagaimanapun jua, tidak ada lagi keinginan menjadi buruh negara. Karena sungguh saya tidak suka dikekang, sebab makin disuruh tunduk, seringnya saya makin menentang. Haha…

Ya, saya tidak bisa menyangkal saya termasuk bagian dari 95% sampah yang dituduhkan Murakami melalui tokoh rekaannya itu. Karena niat awal saya memang tidak tulus berdarma bakti pada negeri. Bayangkan kehancuran yang bisa timbul kalau saya nanti masuk. Mungkin bukan instansinya yang hancur karena saya tetapi saya yang justru lebur karena masuk ke sana. Kalau saya ingat itu, saya tak henti-hentinya bersyukur. Bukan karena menjadi PNS itu pekerjaan yang buruk atau nista tetapi lebih karena itu bukan untuk saya! Kata orang Inggris,”It’s NOT so me!”

Jadi kalau Anda mau menjadi birokrat, pastikan Anda yang 5% itu. Cerdas, berdedikasi serta berintegrasi. Kasihan negeri ini. Mending Jepang masih semaju itu, kalau Indonesia birokratnya begitu juga, makin terbelakang kita. Kapan majunya??? Kalau cuma mau memperkaya diri atau mengejar gengsi, lebih baik jangan. Itu kalau masih punya otak dan nurani!

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s