“Mungkin Kami Memang Tidak Bisa Beradaptasi dengan Kemiringan Kami Sendiri”

English: Jerusalem Prize עברית: הרוקי מורקמי ב...

English: Jerusalem Prize עברית: הרוקי מורקמי בטקס פרס ירושלים (Photo credit: Wikipedia)

Kalimat di atas saya ambil dari novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami halaman 129 tepat di tengah halaman. Itu adalah cukilan isi surat yang panjang dari seorang wanita muda yang merasa jiwanya miring lalu menghabiskan waktu berbulan-bulan menyeimbangkan diri dengan menerima kenyataan bahwa ia memang miring.
Dulu saya pernah belajar matem. Oh, jangan menyebutnya matem. Teman SMA saya Bayu yang tubuhnya tambun itu marah-marah,”Benci kalau dengar kata matem. Tidak enak didengar sama sekali!” Betul juga memang pemenggalannya kurang elegan. Lebih enak “mat” tapi apa bedanya dengan kata “mat” untuk tikar atau mat untuk yoga. Dalam pelajaran matematika itu saya masih ingat harus mempelajari gradien, istilah khusus untuk kemiringan. Dan rasanya setelah menonton video Vicky Prasetyo mantan tunangan Saskia Gotik akhir-akhir ini, saya menganggap jargon-jargon ilmiah dan tidak membumi seperti gradien ini sebagai musuh dalam berkomunikasi, termasuk menulis. Menulis, dan berbicara, menurut saya lebih enak dilakukan dengan bahasa yang pas dengan konteksnya. Tidak berlebihan dan terukur.
Dulu saat saya masih mengajar speaking, saya selalu mendorong mahasiswa untuk berbicara sebisa mereka dalam bahasa Inggris. Tetapi ketakutan mereka memang beralasan. Penguasaan bahasa mereka belum baik dan sangat amat wajar jika perasaan malu dan grogi muncul sepanjang kelas saat saya terus menerus membombardir mereka dengan instruksi,”Speak up!” atau “Speak more loudly!”. Saat itu saya pikir rasa malu mereka untuk membuka mulut terlalu berlebihan, dan saya sangat frustrasi kalau ada yang menolak untuk berbicara atau bahkan menirukan sebisa mereka kata-kata yang perlu dimengerti dalam bercakap-cakap.
Ternyata ada baiknya memiliki rasa malu. Kata Rosul, malu sebagian dari iman juga. Tetapi tidak semua malu itu bermanfaat. Malu yang bermanfaat itu misalnya malu karena kebebalan diri yang makin kentara saat yakin sudah 100% benar.
Tidak hanya Vicky Prasetyo yang malang itu, tetapi juga banyak orang lain di luar sana yang begitu yakin dan percaya diri dengan kemampuan diri mereka sampai mereka menelanjangi diri tanpa sadar, dan tidak merasa bersalah sedikit pun.
Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Sudahkah menerima kemiringan dalam diri kita selama ini? Bukan hanya kemiringan berbahasa Inggris tetapi juga kemiringan dalam semua aspek kehidupan kita.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s