Chitta Vrtti (Penyebab Perubahan Pikiran)

B.K.S. Iyengar

B.K.S. Iyengar (Photo credit: Wikipedia)

Dalam Yoga Sutra yang disusun Patanjali, dijelaskan 5 kelompok chitta vrtti yang menciptakan kenikmatan dan penderitaan, yakni:
1. Pramana (standar atau kondisi ideal) yang menjadi standar pengukuran nilai atau benda oleh pikiran atau objek yang sudah diketahui yang telah disepakati manusia (a) bukti nyata seperti persepsi (pratyaksa), (b) kesimpulan (anumana) dan (c) testimoni atau perkataan dari pihak berkuasa saat sumber pengetahuan dipastikan telah tepercaya dan dapat diandalkan (agama).
2. Viparyaya (sebuah pandangan yang keliru yang tampak salah setelah belajar). Sebuah diagnosis medis yang salah yang didasarkan pada hipotesis yang salah atau berdasarkan pada teori yang berlaku sebelumnya dalam astronomi bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, merupakan contoh dari viparyaya.
3. Vikalpa (impian atau imajinasi, bersandar hanya pada ekspresi verbal tanpa adanya dasar faktual). Seorang pengemis mungkin merasa bahagia saat ia membayangkan dirinya membelanjakan uang jutaan rupiah. Orang kaya yang pelit di sisi lain mungkin membuat dirinya begitu kelaparan karena yakin bahwa dirinya masih miskin.
4. Nidra (tidur), yakni ketiadaan gagasan dan pengalaman. Saat seorang manusia tidur dengan nyenyak, ia tak ingat namanya sendiri, keluarganya atau statusnya, pengetahuan atau kebijaksanaannya atau bahkan keberadaan dirinya sendiri. Saat seorang manusia melupakan dirinya dalam kondisi tertidur ini, ia akan bangun dalam kondisi lebih segar. Namun jika pikiran yang mengganggu merasuk ke dalam benaknya saat ia hendak tertidur, ia tidak akan bisa beristirahat dengan baik.
5. Smrti (ingatan, penyimpanan kesan yang begitu mendalam terhadap objek-objek yang telah dialami seseorang). Sebagian orang hidup dalam pengalaman masa lalu mereka, meskipun masa lampau sudah di luar jangkauan ingatan. Ingatan sedih atau bahagia memasung mereka di masa lampau dan mereka tidak mampu melepaskan diri dari ikatan ini.
Patanjali menyebutkan 5 penyebab chitta vrtti yang memicu penderitaan (klesa), yaitu:
1. Avidya (ketidaktahuan); (2) asmita (perasaan individualitas yang membatasi seseorang dan membedakannya dari kelompok dan dapat berwujud fisik, mental, intelektual atau emosional); (3) raga (keterikatan atau gairah); (4) dvesia (kebencian atau ketidaksukaan) dan (5) abhinivesa (cinta terhadap atau ketamakan akan hidup, keterikatan naluriah terhadap kehidupan duniawi dan kenikmatan ragawi dan ketakutan bahwa semua ini akan berakhir jika ia meninggal). Ini semua menyebabkan penderitaan yang tetap tersembunyi dalam pikiran sadhaka (si pengelana atau pembelajar). Mereka seperti gunung es yang hampir tidak menampakkan kepala mereka di lautan kutub. Selama kelimanya tidak dikendalikan dengan ketat dan dibasmi, tidak akan terwujud kedamaian. Yogi belajar melupakan masa lalu dan tidak memikirkan masa depan. Ia hidup di masa kini yang abadi.
2. Sebagaimana angin sepoi-sepoi yang menerpa permukaan air danau dan membuyarkan pemandangan yang tecermin di atasnya, demikian juga halnya dengan chitta vrtti yang mengganggu kedamaian pikiran. Air danau yang tenang mencerminkan keindahan di sekelilingnya. Saat pikiran tenang, keindahan Jiwa seolah dapat dilihat tengah terpantul di atasnya. Seorang yogi menenangkan pikirannya dengan belajar terus menerus dan dengan membebaskan dirinya dari hawa nafsu. Delapan tahap Yoga menunjukkan pada seorang yogi cara meraih hal tersebut.
3. Chitta Viksepa (Gangguan dan Hambatan)
4. Gangguan dan hambatan yang menghalangi latihan Yoga seorang yogi ialah:
5. Vyadhi: Penyakit yang mengganggu keseimbangan fisik
6. Styana: Kelambanan atau kurangnya sikap mental dalam bekerja
7. Samsaya: keraguan atau ketidakpastian
8. Pramada: Ketidakpedulian atau ketidakpekaan
9. Alasya: Kemalasan
10. Avirati: Sensualitas, perangsangan hawa nafsu saat objek-objek indrawi menguasai pikiran
11. Bhranti darsana: Pengetahuan yang tidak benar atau keliru, atau ilusi
12. Alabdha Bhumikatva: Kegagalan mencapai kontinuitas pemikiran atau konsentrasi sehingga menghalangi pandangan menuju kenyataan
13. Anavasthittva: Kegoyahan dalam berpegang teguh pada konsentrasi yang telah diperoleh setelah lama berlatih.
Namun, ada 4 gangguan selain yang telah disebutkan di atas: (1) dukha – penderitaan atau rasa sakit, (2) daurmansya – keputusasaan, (3) angamejayatva – kelemahan tubuh fisik dan (4) svasa-prasvasa –pernafasan yang kurang mantap.
Untuk memenangkan pertempuran, seorang jenderal meninjau medan dan musuh dan menyusun rencana untuk pembalasan. Dengan cara yang sama, seorang Yogi merencanakan penaklukkan Dirinya.
Vyadhi: Akan diketahui bahwa hambatan pertama ialah kesehatan yang buruk atau penyakit. Bagi seorang Yogi, tubuhnya ialah alat utama mencapai tujuan. Jika kendaraannya rusak, si pengelana tidak akan dapat berjalan jauh. Jika badan rusak karena kesehatan yang buruk, Yogi hanya dapat belajar sedikit. Kesehatan fisik sangat penting bagi perkembangan mental sebagaimana pikiran yang bekerja secara normal melalui sistem syaraf. Saat tubuh ini sakit atau sistem syaraf terganggu, pikiran terusik atau bosan dan lamban dan konsentrasi atau meditasi menjadi tidak mungkin.
Styana: seseorang yang menderita kelesuan tidak memiliki tujuan, tidak ada jalan untuk diikuti dan tidak punya antusiasme. Pikiran dan kecerdasannya menjadi tumpul karena ketiadaan aktivitas dan semua perangkatnya menjadi berkarat. Aliran yang konstan menjaga aliran sungai di gunung tetap jernih, lain dari air dalam got yang menggenang dan tidak ada sesuatu yang baik yang dapat berkembang di dalamnya. Mereka yang lesu layaknya mayat hidup karena tidak dapat berkonsentrasi pada apapun.
Samsaya: Mereka yang kurang bijak, tidak memiliki keyakinan dan menderita keraguan menghancurkan diri sendiri. Bagaimana bisa mereka menikmati dunia ini atau setelahnya atau mengalami kebahagiaan? Seorang Yogi harus memiliki keyakinan dalam dirinya sendiri dan gurunya. Ia harus yakin bahwa Tuhan akan selalu berada di sisinya dan bahwa tidak ada keburukan yang dapat menyentuhnya. Saat keyakinan bersemi di hati, hawa nafsu, kehendak jahat, kemalasan mental, kesombongan spiritual dan keraguan akan sirna, dan hati yang terbebas dari semua hambatan ini menjadi tenang dan damai.
Pramada: Seseorang yang menderita pramada dipenuhi dengan keegoisan, kesombongan dan yakin bahwa ia sendiri sudah begitu bijak. Tak diragukan lagi ia mengetahui hal yang benar dan salah tetapi ia bersikeras dalam ketidakpeduliannya pada yang benar dan memilih apa yang nikmat dan menyenangkan. Untuk memuaskan gairah egois dan impiannya akan kemenangan pribadi, ia akan secara sengaja dan tanpa penyesalan mengorbankan orang lain yang menghalangi jalannya.Orang seperti ini buta terhadap keagungan Tuhan dan tuli terhadap firman-Nya.
Alasya: Untuk menyingkirkan hambatan kemalasan, antusiasme yang terus menerus (virya) dibutuhkan. Sikap seorang Yogi mirip dengan sikap yang dimiliki seorang kekasih yang terus merindukan orang yang dicintainya namun tak pernah terpikir untuk kehilangan harapan. Harapan harus menjadi perisainya dan keberanian menjadi pedangnya. Ia harus terbebas dari kebencian dan penderitaan. Dengan berbekal keyakinan dan semangat, ia harus menaklukkan kelembaman badan dan pikiran.
Avirati: Inilah keinginan yang menggebu terhadap objek-objek indrawi setelah ditnggalkan secara sadar, yang demikian sukar untuk dibendung. Tanpa terikat pada objek indrawi, yogi belajar menikmati semuanya dengan bantuan indra yang ada yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Dengan mempraktikkan pratyahara, ia memenangkan kebebasan dari keterikatan dan terlepasnya diri dari nafsu dan mencapai kepuasan dan ketenangan.
Bhranti Darsana: Seseorang yang terhalangi dengan pengetahuan yang salah mengalami delusi dan meyakini bahwa ia sendiri telah melihat Cahaya sejati. Ia memiliki kecerdasan yang kuat tetapi tak memiliki kerendahan hati dan memamerkan kebijaksanaannya. Dengan tetap berada di tengah-tengah kumpulan orang yang berjiwa baik dan melalui bimbingan mereka, ia menapakkan kaki dengan mantap di jalan yang tepat dan menaklukkan kelemahannya.
Alabdha bhumikatva: Seperti seorang pemanjat gunung yang gagal mencapai puncak karena kurangnya stamina, demikian pula seseorang yang tidak bisa mengatasi ketidakmampuannya berkonsentrasi yang juga tidak bisa mencari kebenaran. Ia mungkin bisa menemukan secercah kebenaran itu tetapi tidak melihatnya dengan jelas. Ia seperti seorang musisi yang telah mendengar musik ilahi dalam mimpinya, tetapi tidak bisa mengingatnya saat terbangun dari mimpi dan tidak bisa mengulangi mimpi itu.
Anavasthitattva: Seseorang yang terpengaruh dengan anavasthitattva telah mencapai jangkauan realitas dengan kerja kerasnya. Karena merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya, ia menjadi malas dalam berlatih (sadhana). Ia memiliki kemurnian dan kekuatan konsentrasi yang besar dan telah berada di ujung proses pencariannya. Bahkan pada tahap akhir ini, upaya konstan penting artinya dan ia harus berada di jalan yang benar dengan kesabaran yang tanpa batas dan tekad bulat dan harus menyingkirkan kemalasan yang menghambat kemajuan dalam mencapai perwujudan Tuhan. Ia harus menunggu hingga kekuatan ilahi itu menyambanginya. Dikatakan dalam Katopanishad: ”Diri tidak diwujudkan melalui belajar dan instruksi, atau dengan kehalusan akal budi, atau dengan banyak belajar tetapi hanya dengan menjadi seseorang yang mengharapkan Tuhan, dengan menjadi manusia yang Tuhan pilih. Sesungguhnya pada manusia seperti inilah, Diri menunjukkan jati dirinya yang sebenar-benarnya.”
Untuk mengatasi kendala dan mendapatkan kebahagiaan yang murni, Patanjali memberikan sejumlah cara perbaikan. Yang terbaik dari perbaikan ini ialah perpaduan 4 cara perbaikan: Maitri (keramahtamahan), Karuna (kasih sayang), Mudita (kesukaan) dan Upeksa (sikap acuh).
Maitri tidak hanya keramahtamahan tetapi juga perasaan menyatu dengan objek keramahtamahan (atmiyata). Seorang ibu merasakan kebahagiaan yang membuncah saat anak-anaknya berhasil karena atmiyata, sebuah perasaan penyatuan, Patanjali merekomendasikan maitri untuk sukha (kebahagiaan atau kebajikan). Yogi mengelola maitri dan atmiyata demi kebaikan dan mengubah musuh menjadi kawan, menetralkan kebencian.
Karuna tidak hanya menunjukkan belas kasihan atau kasih sayang dan meneteskan air mata kesedihan saat menyaksikan penderitaan (duhkha) orang lain. Inilah kasih sayang yang disertai dengan tindakan bakti untuk meringankan penderitaan orang lain. Yogi menggunakan semua yang ia miliki – fisik, ekonomi, mental atau moral – untuk meringankan rasa sakit dan penderitaan orang lain, ia berbagi kekuatannya dengan yang lemah hingga mereka menjadi lebih kuat. Ia berbagi keberaniannya dengan mereka yang ketakutan hingga mereka menjadi lebih berani dengan becermin dari keteladanannya. Ia menyangkal pemikiran “mereka yang paling layaklah yang menang” tetapi membuat si lemah menjadi cukup kuat untuk bertahan. Ia menjadi pelindung bagi semua orang.
Mudita merupakan perasaan suka ria terhadap pekerjaan yang baik (punya) yang dilakukan oleh orang lain meskipun ia mungkin seorang musuh. Melalui mudita, seorang yogi menyelamatkan dirinya sendiri dari banyak penderitaan dengan tidak menunjukkan amarah, kebencian atau kecemburuan pada orang lain yang telah mencapai tujuan yang diinginkan yang ia sendiri gagal untuk capai.
Upeksa: Konsep ini bukan hanya suatu perasaan hina atau kebencian terhadap orang yang terjebak dalam keburukan (apunya) atau seseorang yang bersikap acuh atau semena-mena terhadapnya. Menemukan cara seharusnya bertindak saat dihadapkan pada godaan yang sama merupakan upaya mawas diri. Ia juga menjadi ujian untuk mengetahui seberapa jauh seseorang bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpanya dan upaya selanjutnya untuk kembali ke jalan yang benar. Yogi memahami kesalahan orang lain dengan mengamati dan mempelajari kesalahan itu dalam dirinya sendiri. Upaya mawas diri ini mengajarkannya untuk lebih dermawan pada semua orang.
Pentingnya peran perpaduan 4 cara perbaikan maitri, karuna, mudita dan upeksa tidak dapat dirasakan dengan pikiran yang tidak tenang. Pengalaman saya membawa saya pada kesimpulan bahwa bagi seorang pria atau wanita dalam masyarakat apapun di dunia, cara mencapai ketenangan pikiran ialah dengan bekerja dengan tekad yang kuat dalam 2 dari 8 tangga Yoga yang disebutkan oleh Patanjali, yaitu asana dan pranayama.
Pikiran (manas) dan nafas (prana) terhubung secara intim dan kegiatan atau ketiadaan kegiatan dari salah satunya akan mempengaruhi yang lain. Dengan demikian, Patanjali merekomendasikan pranayama (pengendalian pernafasan yang berirama) untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian dalam diri. (BKS Iyengar, Light on Yoga)

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s