Sadhana (Kunci menuju Kebebasan)

English: taki-gyo

(Photo credit: Wikipedia)

Semua literatur utama dalam Yoga menyatakan penekanan yang tinggi pada sadhana atau abhyasa (latihan konstan). Sadhana tidak hanya sebuah studi teoretis dari literatur Yoga. Ini merupakan perjalanan spiritual. Biji yang berminyak harus ditekan sedemikian rupa agar minyaknya keluar. Kayu harus dipanaskan agar menyala dan mengeluarkan nyalanya yang tersembunyi di dalam. Dengan cara yang sama, sadhaka dengan latihan secara terus menerus akan menerangi cahaya ilahiah dalam diri manusia.
“Mereka yang muda, tua, uzur, bahkan sakit dan lemah karena tua akan mencapai kesempurnaan dalam Yoga dengan terus menerus berlatih. Keberhasilan akan mengikuti orang yang berlatih, bukan orang yang tidak berlatih. Keberhasilan dalam Yoga tidak dicapai dengan hanya membaca teks suci yang teoretis. Keberhasilan tidak diperoleh dengan memakai pakaian yogi atau sanyasi (pertapa), atau dengan hanya memperbincangkannya. Latihan yang konstan merupakan rahasia keberhasilan. Sesungguhnya tidak ada keraguan di dalam pernyataan ini. “- (Hatha Yoga Pradipika, bab 1, ayat 64-6.)
“Karena dengan belajar abjad seseorang bisa belajar, melalui latihan, menguasai semua pengetahuan, demikian juga dengan berlatih fisik pertama kali secara intensif, seseorang mempelajari pengetahuan Kebenaran (Tatta Jnana) yang merupakan sifat alami jiwa manusia yang identik dengan Jiwa Tertinggi yang menguasai Alam Semesta.” (Gherand a Samhita, bab 1, ayat 5)
Dengan upaya yang terfokus dan terkoordinasi dari tubuh, indra, pikiran, akal budi, dan jiwa, seseorang dapat mendapatkan karunia perdamaian dalam diri dan menjawab pencarian jiwa agar kembali pada Sang Pencipta. Untuk mencapai tujuan, ia membutuhkan fungsi tubuh, indra, pikiran, akal budi dan Pribadi yang berkembang dan dikoordinasikan dengan baik. Bila upaya ini tidak dikoordinasikan, yogi akan gagal dalam perjalanannya. Dalam valli (bab)-nya yang ketiga di bagian pertama Kathopanishad, Yama (Dewa Kematian) menjelaskan Yoga ini pada muridnya Nachiketa dengan menggunakan parabel orang yang mengendarai kereta kuda.
“Ketahui Atman (Pribadi) sebagai Penumpang di sebuah kereta kuda, akal budi sebagai kusirnya dan pikiran sebagai tali kendali. Mereka mengatakan semua indra ibarat kudanya, dan objek yang dikehendaki ialah padang rumput. Pribadi saat disatukan dengan indra dan pikiran, orang bijak memanggilnya sebagai si Penikmat (Bhoktr). Mereka yang tidak membeda-bedakan tak akan pernah mengganggu pikiran; indra-indranya menyerupai kuda-kuda yang telah dijinakkan. Mereka yang tidak membeda-bedakan menjadi tidak berkesadaran penuh, selalu tidak murni; ia tidak mencapai tujuan, berkelana dari satu tubuh ke tubuh lain. Yang tidak membedakan menjadi lebih berkesadaran penuh, bahkan murni; ia mencapai tujuan dan tak pernah terlahir kembali. Manusia yang memiliki kereta kuda yang dapat membedakan untuk mengendalikan pikirannya mencapai akhir perjalanan – Rumah Agung dari Jiwa yang abadi.
Indra-indra lebih kuat daripada objek nafsu. Pikiran lebih agung daripada daripada indra, akal budi lebih tinggi daripada pikiran dan yang lebih agung daripada akal budi ialah Tuhan – Jiwa dalam semua hal. Mendisplinkan diri sendiri dengan Pribadi dan menghancurkan musuh yang licik dalam bentuk hawa nafsu. “ (Bhagavad Gita, bab III, ayat 42-3.)
Untuk menyadari ini, tidak hanya dibutuhkan latihan konstan tetapi juga penolakan. Berkenaan dengan penolakan, pertanyaan muncul mengenai hal yang harus ditolak. Seorang yogi tidak menolak dunia ini, karena itu berarti menolak Sang Pencipta. Yogi menolak semua hal yang membawanya jauh dari Sang Penciptaia menolak hawa nafsunya sendiri, mengetahui bahwa semua ilham dan tindakan yang benar datang dari Tuhan. Ia menolak mereka yang melawan apa yang dikerjakan Tuhan, mereka yang menyebarkan ide-ide jahat dan yang hanya membicarakan nilai moral namun tidak mengamalkannya.
Seorang yogi tidak menolak tindakan. Ia memutus keterikatan yang mengekang dirinya dengan tindakannya dengan mendedikasikan hasil entah kepada Tuhan atau pada umat manusia. Dengan demikian, dikatakan bahwa di malam hari semua makhluk, manusia yang berdisiplin dan khidmat terjaga hingga pagi.

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s