Tentang Ahimsa

Yogi Friends

Yogi Friends (Photo credit: silentangel_79)

Kata ahimsa terdiri dari partikel ‘a’ yang artinya ‘tidak’. Dan kata benda ‘himsa’ yang berarti pembunuhan atau kekerasan. Ini lebih dari sekadar perintah untuk tidak melakukan pembunuhan karena artinya secara lebih luas ialah cinta kasih. Cinta kasih ini merengkuh semua makhluk karena kita semua adalah anak dari Ayah yang sama – Tuhan. Sang yogi meyakini bahwa membunuh atau menghancurkan sesuatu atau makhluk ialah tindakan yang menghina sang Pencipta. Manusia bisa membunuh karena makanan atau untuk melindungi diri dari bahaya. Namun hanya karena seorang manusia menganut pola vegetarian, tidak serta merta perangainya pasti mengikuti prinsip ahimsa atau bahwa ia adalah seorang yogi, meskipun pola makan vegetarian merupakan keharusan dalam berlatih yoga. Tiran yang haus darah mungkin seorang vegan tetapi kekerasan adalah kondisi pemikiran bukan makanan yang dimakan. Ia berada dalam pikiran seseorang dan bukan dalam alat-alat yang ia pegang di tangan. Seseorang dapat menggunakan pisau untuk mengupas buah atau untuk menusuk lawan. Kesalahan bukan ada pada alat yang dipakai tetapi pada pengguna.
Manusia menggunakan kekerasan untuk melindungin kepentingannya sendiri – tubuhnya, orang yang mereka kasihi, hak milik mereka atau harga diri mereka. Namun seseorang tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri untuk melindungi diri atau orang lain. Keyakinan bahwa ia dapat melakukan hal itu tidaklah benar. Seseorang harus bersandar pada Tuhan, yang menjadi sumber semua kekuatan. Kemudian ia tidak akan mudah takut pada kejahatan apapun.
Kekerasan muncul dari ketakutan, kelemahan, ketidaktahuan atau kecemasan. Untuk membasminya, apa yang paling dibutuhkan ialah perubahan cara pandang terhadap kehidupan dan mengubah orientasi pikiran. Kekerasan pasti akan menurun saat seseorang belajar untuk membangun keyakinan di atas kenyataan dan pengamatan daripada ketidaktahuan dan pengandaian.
Seorang yogi meyakini bahwa setiap makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup sebagaimana yang dimiliki yogi. Ia yakin bahwa ia terlahir untuk membantu orang lain dan ia melihat makhluk lain dengan kasih sayang. Ia mengetahui bahwa kehidupannya terhubung secara rumit dengan kehidupan orang lain dan ia bergembira jika ia bisa membantu orang lain menjadi lebih bahagia. Ia meletakkan kebahagiaan ornag lain di atas kebahagiaan diri sendiri dan menjadi sumber kebahagiaan bagi semua orang yang bertemu dengannya. Seperti orang tua yang mendorong bayinya untuk berjalan dengan kakinya pertama kali, ia mendorong orang lain yang kurang beruntung daripada dirinya dan membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupan.
Untuk suatu kesalahan yang dilakukan orang lain, manusia menuntut keadilan; sementara untuk kesalahan yang dilakukan dirinya sendiri, ia memohon pengampunan dan belas kasih. Seorang yogi di sisi lain meyakini bahwa untuk suatu kesalahan yang dilakukan diri sendiri, perlu ada keadilan pula, sementara untuk kesalahan yang dilakukan orang lain perlu ada pemaafan. Ia mengetahui dan mengajarkan pada orang lain bagaimana menjalani kehidupan. Dengan selalu berjuang menyempurnakan diri, seorang yogi menunjukkan pada orang di sekitarnya bagaimana memperbaiki diri dengan cinta dan kasih sayang.
Seorang yogi melawan kejahatan dalam diri orang yang melakukan kejahatan namun tidak melawan orang yang melakukannya. Ia menyarankan hukuman yang dilakukan diri sendiri bukan hukuman biasa untuk perbuatan yang salah. Perlawanan terhadap kejahatan dan cinta untuk orang yang melakukan kesalahan dapat dilakukan bersamaan. Istri seorang pemabuk dengan perasaan cinta pada suaminya mungkin melawan kebiasaan buruk itu. Perlawanan tanpa cinta menimbulkan kekerasan; mencintai orang yang berbuat salah tanpa melawan kejahatan dalam diri mereka adalah tindakan bodoh dan membuat semua menderita. Seorang yogi mengetahui bahwa untuk mencintai seseorang sembari memerangi kejahatan dalam diri orang itu ialah cara yang benar dan harus diikuti. Kemenangan akan diraih karena yogi memerangi dengan cinta. Seorang ibu yang penuh cinta kadang akan memukul anaknya untuk membuang kebiasaan buruk si anak; begitu juga halnya saat seorang pengikut sejati ahimsa yang mencintai lawannya.
Bersamaan dengan ahimsa yaitu abhaya (kebebasan dari ketakutan) dan akrodha (kebebasan dari amarah). Kebebasan dari ketakutan hanya mendatangi mereka yang menjalani hidup dengan murni. Seorang yogi tidak takut apapun dan tak ada orang yang perlu menakutinya karena ia menjadi murni dengan mempelajari Dirinya. Ketakutan mencengkeram manusia dan melumpuhkannya. Ia takut akan masa depan, hal yang tidak pasti dan yang tak aksat mata. Ia takut bahwa ia bisa kehilangan sarana mencari nafkah, kekayaan atau nama baik. Namun ketakutan terbesar ialah ketakutan terhadap kematian. Seorang yogi tahu bahwa ia berbeda dari badannya, yang menjadi rumah sementara bagi roh. Ia memandang semua makhluk dalam Diri dan Diri dalam semua makhluk dan dengan demikian ia menyingkirkan semua ketakutan. Meskipun badan bisa didera penyakit, penuaan, pembusukan dan kematian, roh akan tetap tidak terpengaruh. Bagi seorang yogi, kematian ialah sesuatu yang menambah semangat dalam kehidupan. Ia telah mendedikasikan pikirannya, akal budinya dan seluruh hidupnya pada Tuhan. Saat ia telah menghubungkan kehidupannya secara utuh pada Tuhan, lalu apa yang harus ditakuti?
Terdapat dua jenis amarah (krodha), yang pertama ialah amarah yang merusak pikiran dan yang kedua ialah amarah yang membimbing pada pertumbuhan spiritual. Akar dari amarah yang merusak pikiran ialah kesombongan yang membuat seseorang marah saat disakiti. Amarah ini mencegah pikiran melihat semua hal dalam sudut pandang yang semestinya dan mengaburkan akal sehat. Sang yogi di sisi lain marah pada dirinya sendiri saat pikirannya melemah atau saat semua pelajaran dan pengalamannya gagal mencegahnya melakukan kebodohan. Ia tegas pada dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan kesalahannya sendiri namun tetap lembut pada kesalahan yang dilakukan orang lain. Kelembutan pikiran merupakan sifat seorang yogi yang hatinya tidak tega menyaksikan penderitaan. Dalam diri yogi, kelembutan dan ketegasan untuk orang lain dilakukan bersama-sama dan jika ia hadir, semua kebencian dan permusuhan akan sirna.

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s