Kafein+Rokok+ Sepakbola=…

Di kantor, tampaknya semua orang (kecuali saya) selalu minum kopi untuk memulai aktivitas. Entah itu kopi instan atau kopi tubruk, semuanya suka menyeduh kopi. Tidak cuma di pagi hari tetapi juga di sore hari saat kantuk menyerang. Seolah ini menjadi bagian penting dari ritual harian agar tetap produktif, menghasilkan, dan pada akhirnya menguntungkan perusahaan dan diri sendiri.
Di kalangan penerjemah dan jurnalis, kafein dikenal luas sebagai doping yang ampuh untuk Tetapi tunggu, apakah benar seperti itu?
Saya terus mempertanyakan tradisi minum kopi dan minuman berkafein lainnya di pagi hari karena saya gagal merasakan faedahnya dalam tubuh saya. Apakah itu cuma sugesti belaka dari mereka? Ataukah fakta yang dapat dipercaya?
Saya merasa sangat skeptis karena merasa kafein bukan solusi jangka panjang yang baik. Konsumsi terus menerus kafein (dan gula) rasanya kurang sehat.
“Ah itu kan karena kamu belum pernah minum kopi!” Mungkin sebagian dari Anda mencela begitu.
Saya sudah pernah meneguk kopi di usia kanak-kanak. Almarhum kakek saya adalah penikmat bola, kopi dan rokok sejati. Beliau habiskan banyak malam menikmati siaran langsung sepakbola Eropa di TVRI selepas tengah malam sembari terbatuk dan menyeduh kopi kesukaan. Saya yang masih berusia 4-5 tahun tahu karena saya juga kadang masih ikut terjaga. Apakah itu sesuatu yang membanggakan? Tidak juga. Saya tidak bisa membanggakan di depan teman sekelas saya bahwa saya bisa tetap melotot di depan televisi saat mereka pasti sudah terlelap. Saya masih ingat jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam tetapi saya masih memandang langit-langit, merasa bosan setelah televisi dimatikan kakek.
Saya teringat mengendap-ngendap di dapur untuk meramu secangkir kopi. Enak, harum, dan hangat. Saya meneguknya dan berpikir kalau saya lebih besar saya pasti akan bisa minum lebih banyak lagi. Untunglah tidak demikian. Terlepas dari status saya sebagai perokok pasif di rumah kakek sepanjang masa kanak-kanak, saya di kemudian hari justru menjauhkan diri dari kombinasi 3 komoditas mematikan ini: rokok, kafein dan sepakbola. Saya membenci semuanya setengah mati karena saya tahu persis akibat nyatanya pada badan kakek saya.
Lalu teman-teman saya setengah bercanda berkomentar,”Jangan kebanyakan kopi! Nanti sakit jiwa!” Salah satu artikel dengan hits paling banyak di situs kami saat itu adalah tentang kopi dan kesehatan jiwa. Kami membuatnya jadi headline, mungkin sebagai olok-olok atas diri mereka sendiri yang gemar minum cairan hitam pekat itu.
Nathanael, salah seorang kakak kelas saya di kampus dulu, pernah berteori,”Ini (rokok, dan mungkin juga kopi) adalah harga yang harus dibayar untuk pertemanan dan hubungan sosial.” Ya, saya tidak menampik teorinya itu. Sangat masuk akal. Lihat saja betapa mudahnya mengawali percakapan dengan orang asing dengan berbekal pemantik api, rokok dan kopi. Di warung kopi sebelah rumah adalah contohnya. Gelak tawa dan lelucon jorok selalu menyembur dari dalam kedai kopi yang dijejali bapak-bapak dan pemuda kampung yang menikmati sajian gorengan, rokok dan kopi panas. Lalu ada pojok laknat di kantor yang dipenuhi perokok-perokok impulsif, yang sesekali tawanya pecah membahana, setelah membawa kopi dan rokok secukupnya untuk membicarakan pertandingan sepakbola semalam yang membuat mereka kerja sambil terkantuk-kantuk. Saya selalu menyaksikan betapa kedekatan antarmanusia itu bisa tercipta dari penggadaian kesehatan dengan kenikmatan temporer dari benda-benda terkutuk itu.
Apa saya sedang mengutuk perokok? Tidak. Karena setiap perokok mengingatkan saya pada kakek. Saya hormat pada kakek, saya cinta kakek, saya mendoakannya terus agar tenang di alam sana. Tetapi itu tidak akan mengubah kebencian saya pada tembakau, kafein dan sepakbola.

3 Comments

Filed under writing

3 responses to “Kafein+Rokok+ Sepakbola=…

  1. interesting. When did last time you drink coffee?

  2. Yunanta C. Buana

    Waow, benar benar cerita yang sama. tapi saya nggak benci sepak bola, hanya benci pengurusnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s