Polah Tingkah ‘Pengemis’ Jakarta

Marini, salah satu teman yoga saya di Taman Suropati, pernah bercerita bagaimana menjengkelkannya menjadi pelampiasan kemarahan seorang peminta-minta dengan kewarasan yang diragukan di salah satu kawasan yang sering ia sambangi di Jakarta. Saya terpingkal-pingkal saat ia dikata-katai seorang pengemis ibu-ibu paruh baya di pelataran Masjid Sunda Kelapa sehabis latihan.
Pernah suatu kali ia menolak memberi, karena menurutnya orang itu hanya berpura-pura fakir saja. Tidak miskin sungguhan. Karena si peminta-minta merasa dilecehkan, ia meludahi Marini. Rasa syok tentu saja tidak terbayangkan. Diludahi seorang pengemis! Di tempat umum pula.
Di lain kesempatan, ia berjumpa dengan seorang pengemis lainnya. Marini menolak lagi memberikan uang. Kali ini bukan imbalan air ludah menjijikkan yang ia terima. Si pengemis yang lagi-lagi ibu berusia paruh baya juga memancing kemarahannya. Usai menolak, Marini yang sedang asyik bercanda ria dengan temannya didatangi lagi oleh si pengemis yang menghardik,”Kamu ngetawain saya ya?” Marini pun ternganga dan langsung melayani pengemis itu dengan emosional,”Siapa yang ngetawain ibu? Orang saya ngetawain yang lain kok! Emang kapan saya ngetawain ibu?” “Tahun kemarin???!!”sergah si pengemis.
Seketika itu pula ia sadar bahwa si ibu kurang waras. Oalah!

2 Comments

Filed under writing

2 responses to “Polah Tingkah ‘Pengemis’ Jakarta

  1. Hahaha… Saya anti memberi ke pengemis, biarpun pengemis tua. Apalagi kalau pengemis anak-anak, makin anti, bukannya ga kasihan tapi demi kebaikan bersama. Mendingan bayar abang ojek dilebihi deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s