Apakah Guru Yoga Perlu Gunakan Social Media?

Social Media Site Management Strategy

Haruskah guru yoga menjadi social media junkie? (Photo credit: Chris Pirillo)

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sebuah perbincangan santai dengan seorang teman akrab saya yang sudah relatif  berpengalaman mengajar yoga secara profesional, kami membicarakan tentang penggunaan social media dalam marketing yoga. Tidak bisa dipungkiri, keampuhan digital marketing yang sudah banyak dikenal luas oleh para pengusaha juga merambah dunia yoga. Sebagian guru yoga seolah berlomba-lomba menggunakan jejaring sosial, entah itu blog, Facebook, Twitter, atau Instagram, untuk memasarkan dirinya. Sebagian dari mereka tidak lagi enggan dan malu-malu untuk mengunggah beberapa foto kegiatan mengajar mereka, atau foto bersama dengan peserta kegiatan (teacher training/ workshop) mereka di media sosial.

Sebetulnya, pada hakikatnya guru yoga juga seorang pedagang. Karena ia seorang pedagang, perlu dipahami pula bahwa ia mau tidak mau perlu memasarkan jualannya, ketrampilan, pengalaman dan keahliannya beryoga. Apalagi jika mengajar yoga adalah satu-satunya mata pencahariannya, atau pekerjaan yang utama.  

Namun, masalah menjadi timbul saat hasrat berdagang di media sosial ini terlalu kuat sampai-sampai membuat risih yang melihatnya karena terlalu di luar ambang kewajaran.

Ada yang cukup intens dalam berpromosi. Bahkan di beberapa kesempatan, promosi itu dilakukan secara terbuka, tanpa merasa malu dan segan. Mereka memasuki grup-grup di Facebook untuk menjajakan workshop atau yoga retreat di sebuah resor atau tempat tetirah yang eksklusif atau menghubungi sejumlah teman untuk menyebarkan berita tentang event yoga dengan membayar sejumlah biaya.

Ada juga yang relatif masih terkendali. Dalam sebuah workshop oleh seorang guru dari AS yang pernah saya ikuti, sang guru mengedarkan sebuah perangkat tablet yang diperuntukkan bagi peserta yang bersedia menerima newsletter dari situs bisnis yoganya. Itu dilakukan secara sukarela. Jadi jika merasa tidak membutuhkan newsletter itu hadir di kotak masuk email, silakan saja melewatkannya. Dengan cara ini, bisnis bisa tetap berjalan tanpa menyakiti kepercayaan dan respek yang diberikan peserta terhadap si guru dan reputasinya akan tetap lumayan utuh karena tidak adanya unsur pemaksaan atau rasa ‘dibombardir’ dengan promosi yang membabi buta. Cukup seperlunya tetapi bermakna dan berguna.

Ada yang mengaku menghindari promosi di jejaring sosial atau media beriklan lain apapun yang terkesan komersial. Biarkan mengalir saja, begitu katanya. Mereka yang menyukai cara apa adanya ini lebih sibuk menjalin hubungan offline. Mereka tidak suka terlalu menarik perhatian di dunia maya dan nyata tetapi mencoba lebih menawarkan kenyamanan dalam belajar layaknya dengan teman, bukan dengan seorang guru yang biasanya lebih tegang dan terkesan jauh.

Yang mana yang benar atau salah? Rasanya hal ini tidak bisa diputuskan begitu saja. Banyak sekali faktor yang perlu dipertimbangkan dan memutuskan benar tidaknya apa yang guru-guru yoga ini lakukan juga bukan hak saya. Saya menghormati setiap pilihan yang mereka buat dalam memasarkan diri. Semua sah-sah saja. Semua boleh-boleh saja. Asal tidak ada yang dirugikan dan tidak melanggar norma dan hukum yang berlaku.

Masalah juga makin menjadi-jadi saat seorang guru yoga terkesan menjanjikan secara muluk-muluk atau bombastis. Misalnya mengatakan bahwa pose ini bisa menyembuhkan kelainan ini secara instan
Puncaknya adalah saat seorang guru yoga yang relatif agresif memasarkan dirinya itu kurang mengimbangi dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman serta penghayatan beryoga, yang dirasa belum memadai bagi muridnya secara umum. Tentu sangat sulit mendefinisikan frase “belum memadai” ini karena sangat kabur batasannya. Siapa yang bisa mengukur secara pasti bahwa seseorang sudah kompeten atau tidak dalam mengajar? Tidak ada yang bisa. Semua hanya berdasarkan asumsi yang subjektif, yang bisa berubah dari satu orang ke orang lain. Akan tetapi, ada juga sebagian pengetahuan dasar beryoga yang sudah pakem dan paten seperti yang ditemui teman saya itu yang ditanya mengenai seorang guru yoga kenalannya, sebut saja X, oleh seorang murid yang kita sebut saja Y. Murid Y ini penasaran mengapa menurut guru yoga X ini, punggung diperbolehkan untuk melengkung (rounding) dalam melakukan asana downward-facing dog yang menurut pemahaman si Y dari guru lainnya adalah bentuk punggung harus sebisa mungkin lurus. Masalah juga menjadi semakin pelik saat saya menyadari itu bisa jadi muncul dari kurang pahamnya si Y dengan kalimat yang disampaikan si X. Harus kita akui, sering kalimat itu bisa membawa makna yang kabur dan ambigu.

Kesalahpahaman semacam ini terkadang bisa terjadi dan kita perlu berbaik sangka bahwa mungkin maksud si X bukanlah seperti itu, tetapi mungkin si Y yang kurang memahami kalimatnya saja.

Tetapi terlepas dari semua teknik marketing yang diterapkan seorang guru yoga dalam mendapatkan murid, kembali lagi bahwa dewan juri yang paling berkuasa adalah masing-masing murid. Apakah mereka merasa nyaman belajar dan diajari oleh si guru? Atau mereka merasa tidak ada perbaikan dalam beryoga setelah belajar dari si guru yang bersangkutan? Dan perbaikan ini juga hendaknya jangan hanya diukur dari pengusaan teknik asana yang tepat tetapi juga aspek-aspek lain dalam yoga yang juga perlu untuk diketahui dan dipelajari.
 

 

 

 

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s