Kenapa Dosen Pria Suka Pakai Kemeja Batik Panjang (Khusus Mahasiswa, Dosen Dilarang Baca!)

Mengajar dan bekerja sebagai dosen memang menyenangkan. Saya sudah mengalaminya. Begitu menyenangkannya pengalaman itu sampai saya menyudahinya karena terlalu takut lupa daratan.

Kalau bisa saya simpulkan, pekerjaan sebagai dosen itu kurang lebih sama dengan pekerjaan public figure. Dosen harus selalu siap menjadi fokus sorotan. Pertama, tentu menjadi sasaran sorotan mata mahasiswanya di ruang kuliah. Apa yang dikenakan si dosen pasti sedikit banyak dibahas mahasiswanya. Gerak-gerik dosen di depan kelas juga tak luput dari perbincangan. Di luar kuliah, tingkah lakunya juga terus dipantau. Kedua, sorotan orang-orang yang suka menelisik kehidupan pribadinya, yang jika bisa diekspos akan berguna untuk menjatuhkan nama baik di depan yang diajar. Singkatnya ada banyak ‘ranjau’ saat harus bekerja menjadi dosen.

Harus pandai menjaga reputasi, bisa jadi salah satu syarat penting dalam mengajar tetapi tidak demikian halnya dengan dosen satu ini. Ia ikut dalam Standup Comedy. Saya lupa namanya tetapi leluconnya cukup segar dan menghibur, terutama karena ia berani mengolok-olok profesinya sendiri: dosen. Profesi yang dulunya sakral itu sekarang mengalami dekonstruksi juga akhirnya. Buktinya dosen mudanya saja seperti ini, doyan ngocol. “Biru muda…,”begitu kata si comic yang berusaha menggambarkan situasi perkuliahan.

Menjawab pertanyaan misterius itu, comic (sebutan untuk pelawak Standup Comedy) ini berargumen bahwa jika seorang dosen pria sering mengajar di kelas auditorium yang berundak-undak seperti terasering, ia lebih memilih mengenakan kemeja batik dengan ujung kemeja bawah dikeluarkan, alih-alih dimasukkan ke dalam celana. Itu karena baju model ini bisa untuk menutupi benjolan di celana akibat ereksi melihat mahasiswi dengan rok mini.

Situasi jenaka khas kampus lainnya yang ia angkat dalam lawakannya ialah saat para mahasiswa ujian. Saya lebih dari setuju. Mahasiswa dan mahasiswi bisa berubah menjadi makhluk paling menjengkelkan di waktu ujian tertulis. Bahkan yang di kelas terlihat paling menyenangkan pun bisa berubah menjadi pencontek ulung. Itulah kenapa saya muak dengan ujian tertulis. Saya capek membaca tulisan tangan yang jauh dari kata “terbaca” dan mereka juga lelah menulis untuk menyalin jawaban tetangga sepanjang waktu ujian. Jadi, ujian lisan menjadi kompromi yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Dan kampus tak perlu repot mencetak soal dan membeli lembar jawaban. Semua riang, semua senang bukan?

Bukan rahasia bahwa ulah mahasiswa mencontek itu sudah memfosil sedemikian rupa sehingga tidak bisa dicegah lagi. Tetapi kalau dipikir-pikir ulah itu sebenarnya jenaka juga. Seperti yang diceritakan si comic, seorang mahasiswi nekat mencontek dengan ponsel tersimpan di bawah paha. Semua file sudah disimpan di situ. Dan seperti biasa ia mencontek tanpa rasa berdosa karena si dosen pengawas laki-laki dan tidak mungkin akan menyentuh pahanya atau berisiko dituduh melakukan tindak pelecehan seksual (bayangkan hal yang sama oleh mahasiswa dan dosen wanita). Bukan dosen kalau akalnya pendek. Dosen pria pun ke kantor untuk meminta nomor ponsel si mahasiswi dan nekat menelepon nomor ponselnya. Dan selama sisa waktu ujian, mahasiswi itu harus bertahan dengan ponsel yang terus bergetar di bawah pahanya.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s