Pianis Indonesia Berusia 7 Tahun Ini Bermain Solo di Opera House, Sydney

Michelle Haryanto, seperti anak lain pada usia 7 tahun, mungkin tidak berambisi banyak untuk menjadi setersohor saat ini. Michelle yang mulai belajar piano di umur 3 tahun ini baru saja mewangikan nama bangsa di ajang Protege International Talent yang digelar di kota New York, AS, tahun ini. Ia berlatih piano sepulang sekolah dan menganggap piano sebagai bagian dari permainan masa kecilnya. Hanya saja jenis permainan itu kurang lazim untuk anak seusianya. Piano adalah instrumen musik yang begitu rumit dan membutuhkan bakat luar biasa untuk bisa memainkannya dengan memukau. Dan satu lagi, berlatih piano bukan hobi yang murah. Sama sekali tidak murah.

Melihat Michelle, saya cuma menganga kagum. Saya hanya bisa menerawang, bagaimana kerja otak anak ini saat membaca dan menghafal not-not balok yang, ya Tuhan, sungguh tidak mudah bagi saya. Saya pernah belajar memainkan biola, hanya bertahan beberapa bulan, setelah upaya yang luar biasa untuk mengejar ketertinggalan dengan teman-teman selevel saya di tingkat dasar. Teman-teman saya itu adalah anak-anak sepantaran Michelle, murid-murid sekolah dasar yang hanya bisa merengek meminta uang jajan kalau ada pedagang makanan lewat. Ditambah dengan cara mengajar seorang pelatih yang kurang simpatik, kompetisi menjadi makin brutal dan kejam di sini. Saya merasa seperti om-om idiot yang tidak bisa menggesek biola dan memainkannya dengan benar di depan mereka. Tanpa bakat bermusik dan latihan yang dimulai sangat amat terlambat di usia pertengahan dua puluhan, tantangan untuk bermain sangatlah tinggi bagi saya. Susah sekali mengkoordinasikan gerak tangan untuk menekan dawai dan menggeseknya. Hingga saya berada di suatu titik dan berpikir,”Jelas sudah saya lebih berbakat untuk mendengarkan biola dimainkan daripada memainkan biola.” Saya pun membulatkan tekad untuk berhenti berlatih tetapi hingga saat ini biola itu masih tersimpan di sudut kamar. Saya tidak akan menjualnya agar saya bisa melihatnya di waku senggang, dan mengenang bahwa saya bukan diciptakan oleh Tuhan sebagai seorang pemusik. Untuk menyelamatkan seonggok harga diri yang sudah tercabik-cabik selama berlatih bersama anak-anak itu, saya sudah kubur dalam-dalam ambisi menjadi violinis dan hanya mau menjadi penikmat. That’s it.

Sembari menerima kenyataan pahit itu, saya kembali terpesona dengan prodigy bernama Michelle yang sudah ikut serta Recital Master Class sebagai peserta termuda di usia 6 tahun (setahun lalu). Peserta yang termuda kedua setelahnya baru berusia 10 tahun.

Tokoh Jaya Suprana yang juga pianis andal sampai memanggil Michelle dengan sapaan “beliau” dengan alasan begitu terkagum-kagumnya dengan bakat dan kemampuan Michelle di usia yang semuda itu. Ia bertemu anak ini setahun yang lalu.

Tentang Recital Master Class ini, Jaya mengatakan,”Memang tidak ada seleksi tetapi ada semacam pertimbangan apakah yang bersangkutan layak atau tidak ikut di dalamnya.”

Jika disetarakan dengan program pendidikan formal, kelas ini setara dengan level master. Programnya berat dan menuntut latihan yang intensif, bahkan untuk ukuran pianis dewasa. Tetapi sekali lagi, bakat seolah menjadi minyak pelumas yang sangat memudahkan rantai dan roda untuk bergerak maju, dibandingkan mereka yang tingkat bakatnya lebih rendah atau yang sama sekali tak berbakat yang harus mati-matian mendorong diri dengan rantai yang berkarat, tanpa pelumas apa pun, dan roda yang reot dimakan usia dan cuaca.

Jaya ‘mencap’ Michelle sebagai ‘anak tak tahu diri’ karena sudah lancang berpartisipasi dalam program yang normalnya diikuti pianis berusia 21 tahun. Dengan asumsi yang sama, mungkin saya juga sudah lancang memasuki level kelas dasar yang diperuntukkan bukan bagi murid setua saya. Karenanya, (harga diri) saya terluka. Itu risiko yang harus ditanggung karena masuk ke tempat yang tidak semestinya. Tetapi Michelle lancang secara elegan dan bergaya karena ia punya bakat.

Jaya berkomentar dirinya juga tidak percaya Michelle bisa memainkan komposisi rumit dengan jangkauan nada-nada yang sangat banyak mengingat ukuran tubuh, tangan dan jari jemari Michelle sangat mungil.

Michelle dijadwalkan bermain solo recital di Opera House, Sydney, akhir Oktober ini. Dan ia tampil 60-70 menit di panggung tanpa pendamping. Di sini Michelle menyuguhkan komposisi-komposisi klasik yang rumit seperti Arabesque, Minuette dan tidak ketinggalan ada pula kreasi Jaya Suprana “Gethuk” untuk memberikan ciri khas Indonesia. Michelle, ungkap Jaya, sudah mampu menangkan dan menginterpretasikan Gethuk karya Manthous dengan indah. Jaya mengenang sebagian komposisi klasik yang dimainkan Michelle saat ini baru ia bisa tampilkan di usia 18 tahun. Tetapi Michelle sudah bisa memainkan semua bagian dengan kerumitan luar biasa itu di usia 7 tahun.

Diakui Jaya, untuk urusan mengasah bakat memang sering dijumpai ketidakadilan. Maksudnya, tidak semua anak berbakat seperti Michelle bisa mendapatkan fasilitas yang sama dan bertemu atau/ dan ditemukan oleh mentor yang membuat si anak makin bersinar dan dikenal banyak orang. Apalagi piano bukan alat musik yang berharga terjangkau. Bahkan untuk les piano saja sudah relatif mahal. Tetapi ada sebagian kasus dari pengalaman Jaya di sekolah musiknya yang menunjukkan kepemilikan piano dan status ekonomi bukan menjadi penghalang bagi seorang murid yang sekarang sudah mencapai tingkat diploma. “Padahal ia bukan dari keluarga yang memiliki piano dan ini mematahkan kesan bahwa tanpa memiliki piano, anak yang berbakat menjadi pianis tidak akan bisa menggali bakat dengan maksimal. Asal ada kemauan, ia pasti bisa,”Jaya menerangkan.

Michelle menjadi makin bersinar karena ia memiliki bakat alami untuk menjadi makhluk panggung dan fokus pada piano dalam kesehariannya. Masa kecilnya lebih banyak diisi piano daripada bermain, mungkin karena berlatih piano adalah permainan juga baginya.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s