The Franzenstein Effect: Jonathan Franzen on the ‘Eternal’ Battle of PC versus Mac

image
Those sharp eyes and the stare! (Image credit: GQ.com)

As he was reading his own essay on the Kraus Project, the contemporary renowned American author Jonathan Franzen showcased his bitter, cynical view towards the latest progress of the world of technology. And that makes him so much intelligently ‘sexier’ than any other authors, in my view. I’m glad that he spoke about it with utterly no regret.

During his brief reading, anyone can notice the underestimating tone he was using to explain Apple’s product that J. K. Rowling said while interviewed by Anne Pachett to have changed her own life because of its light weight. Thanks to the slim design and dimension of MacBook Air, the British writer admitted she now can write “really anywhere”.

But, Mr. Franzen begs to differ! He’s got his own belief and stance.

And I coined the term “Franzenstein” to show you how much I love this dark, studious and super serious literary monster, like one created by Frankenstein in a gothic novel by Mary Wollstonecraft Shelley (the creator’s name is commonly used to refer to his creation). He is the man who obviously escapes control (of the society’s) and destroys its creator (society too).

Franzen refers to this as “Kraus’ dichotomy” of coolness and uncoolness, content versus form.

He lashed out with his eyes swiftly sweeping the audience and entire room he was in,”Is it the essence of the Apple product that you have coolness by virtue of owning it? Doesn’t matter what you’re creating on your MacBook Air, simply using a MacBook Air and using its elegant design of hardware and software is a pleasure in itself. Like walking down the street in Paris, while we’re working on some clunky utilitarian PC, where the only thing to enjoy is the quality of your work itself… As Kraus said in its Germanic life, the PC sobers what you’re doing. It allows you to see it unadorned.”

The author again added spontaneously,”This was especially true in the years of DOS Operating System and early Windows…”

To emphasize his point, he sheepishly whispered, almost unheard,”I like DOS…”

And he didn’t want to stop there. Franzen also criticized Microsoft on how messy Windows now has become since the corporation’s engineers decided to choose the pursuit of becoming more like Macintosh in and out. As Franzen put it,”One of the developments that Kraus would decry in this essay is the Viennese dolling up the German language and culture with decorative elements imported from Romans language and culture has a correlative in more recent editions of Windows which borrow ever more features from Apple but still can’t conceal their essential and uncool Windows-ness. Worse yet, it was chasing after Apple’s elegance, they betray the old austere beauty of PC functionality.

image
The MacBook that Franzen says won’t stop teasing you switching from your virus-ridden, sluggish PCs.

New Flyover in Jakarta: Will It Be the Answer?

As of today, Satrio Flyover in South Jakarta is officially opened for public traffic. The street has been widely notorious for its traffic jam during rush hours. Now that it is already opened, I wonder whether it works or fails to tackle this traffic jam “phantom” that has been haunting all of Jakartans all this time once and for all. What do you think?
image

image

This is how the flyover looks from the 39th floor. No huge traffic is seen up there on the flyover just yet.
image

Don’t Say Yoga is Boring before You Even Try!

So I saw this on my Twitter search result about yoga:
“@Funniest_Joke: I’ve tried yoga, but I find stress less boring.””
image

I cannot stress how often I am asked if yoga is about sitting all the time and closing the eyes. That is meditation, which is part of doing yoga usually done after asanas but meditation is not an entire, complete picture of what yoga is.
image

That picture may not be adequate enough to tell people what we do as yogis but we don’t always sit down in lotus position. We too do have fun!
image

‘Rahasia’ Badan Lebih Lentur Minim Cedera

image

“Gila! Kok, bisa lentur gitu sih? Latihan berapa lama?” “Kok latihan baru (masukkan jumlah bulan atau tahun berlatih yoga), udah segitu lenturnya?” “Aku dah latihan yoga segini lama tapi kok belum selentur itu ya?” “Kamu dari bayi makannya karet ya? Lentur banget.” “Kamu latihan tiap hari ya? Bisa sampai selentur itu?” “Gimana caranya bisa nekuk gitu? Kok gue gak bisa?”

Itulah beberapa pertanyaan yang sering saya temui saat berlatih yoga atau setelah mengunggah foto atau memasang foto profil baru bertema yoga di jejaring sosial. Terus terang saja saya TIDAK TAHU jawabannya. Saya benar-benar tidak tahu, karena meski ini tubuh yang diberikan Tuhan kepada saya, saya tidak memahaminya secara sepenuhnya. Sebelum beryoga, saya tidak tahu saya bisa selentur itu. Jadi jika Anda bertanya pada saya, saya cuma bisa tersenyum simpul dan berkata lirih,”Bawaan orok mungkin…”
Namun, jika saya boleh mengajukan hipotesis sendiri, itu boleh jadi karena anatomi badan saya yang menguntungkan dari segi yoga. Saya tetap tidak bisa menjelaskannya secara ilmiah tetapi ada faktor-faktor yang belum terungkap yang membuat sebagian orang lebih mudah berasana menantang daripada yang lain. Dan faktor ini bukan cuma KURUS atau GEMUKnya seseorang! Saya seringkali mendengar beberapa orang berkaTa,”Ah kamu pasti bisa hanumasana (split), kan kamu kurus!” Tunggu dulu, itu belum sepenuhnya benar! Orang-orang kurus sering diasosiasikan memiliki kelenturan dan daya gerak yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih ‘berbobot’. Tidak salah tetapi juga belum bisa dijamin demikian. Adakah orang kurus yang kaku luar biasa? Banyak. Tetapi saat Anda menyaksikan beberapa orang berbadan gempal yang juga cukup lentur dan lincah, Anda mungkin akan berpikir kembali,”Ternyata berat badan juga bukan segalanya.” Jadi kelenturan jangan semata-mata dinilai dari penampilan fisik seseorang.

Lalu kembali ke pertanyaan semula:”Bagaimana caranya agar lebih fleksibel tanpa harus mengalami cedera?”

Kalau saya harus menjawabnya, selain faktor bawaan seperti anatomi tubuh masing-masing, cara yang lain ialah dengan pemanasan dan stretching yang cukup (tidak kurang tapi juga jangan berlebihan).

Dan satu trik lagi yang baru saya ketahui dari Didot teman saya sesama yogi pagi ini, yang mengatakan ia menggunakan minyak angin dan param kocok untuk memanaskan ototnya sebelum berlatih. Tujuannya agar otot lebih cepat panas dan akhirnya lentur, sehingga akan lebih mudah mencapai asana-asana yang menantang dan membutuhkan kelenturan otot dan sendi di luar kewajaran manusia.

Itulah mengapa saya suka menghindari beryoga dengan pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Saya beralasan suhu dingin membuat otot lebih dingin dan susah dipanaskan, padahal jika dingin, ia akan lebih kaku dan susah digerakkan. Murid saya suka AC dan setiap kali saya mengajar saya minta ia memasang suhu setinggi mungkin dengan alasan itu. Jadi ada benarnya juga prinsip bikram (hot yoga). Sepanjang panasnya tidak berlebihan dan tidak membuat kita dehidrasi, mengapa tidak? Tetapi saya sendiri belum mencoba bikram yoga karena beryoga di temperatur ruangan yang normal di negeri tropis seperti Indonesia saja sudah cukup gerah bagi banyak orang.

Akan tetapi yang patut kita ingat adalah dalam berlatih yoga, jangan datang ke kelas dengan pikiran penuh eskpektasi (harapan, target, ambisi), termasuk di dalamnya target untuk lebih lentur saat hanumasana. Karena dengan begitu, kita tidak akan terpacu berkompetisi dengan orang lain, bahkan dengan diri kita. Tak harus selalu lebih baik dari hari kemarin. Bukan masalah jika split kita kurang bagus dibandingkan minggu lalu, mungkin badan kita perlu sedikit istirahat. Pahami itu. Tetapi jika bisa, jangan sampai berlebihan hingga menyakiti diri (himsa). Itulah mengapa saya jatuh cinta pada yoga. Karena yoga bukan competitive sport, seperti senam lantai, meski pada dasarnya keduanya banyak kemiripan. Yoga isn’t about perfection after all. It’s about compassion.
image

Satu hal yang saya pikir perlu diketahui ialah jangan sampai mendewa-dewakan fleksibilitas fisik sehingga menjadikannya sebagai tujuan utama latihan. Karena seperti sebuah pernyataan yang pernah saya baca, mereka yang lebih kaku sering mengalami risiko cedera jangka pendek tetapi mereka yang lebih lentur lebih rawan pada risiko cedera jangka panjang. “Jadi kita harus bagaimana?” Mungkin begitu pertanyaan Anda. Cukup berlatihlah dengan semampu kita, yang wajar, yang normal, tanpa terlalu memaksakan. Dan karena standar normal itu berbeda-beda antarmanusia, temukan sendiri titik kewajaran Anda. Jangan jadikan orang lain patokan pasti apalagi harga mati untuk diikuti.

Namaste…

Tidak Peduli Usia 90 Tahun, Pria Inggris Ini Selesaikan Pendidikan Doktoralnya

Seorang kakek yang pernah ikut berperang dalam Perang Dunia II menyelesaikan pendidikan doktornya (S3) 1 bulan setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-90.

Eric Woof, sang kakek yang dulu bekerja sebagai pengajar, merayakan prestasinya itu. Ia meraih gelar Ph.D. dari Lancaster University, setelah 74 tahun meninggalkan dunia kampus.

Woof yang tumbuh sebagai anak seorang pekerja pelabuhan di London ini mengatakan dirinya meninggalkan sekolah saat berusia 16 tahun untuk mendapatkan pekerjaan tetapi kemudian berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai guru matematika dan kembali belajar setelah memasuki usia pensiun.

“Kelulusan ini merupakan salah satu pengalaman paling memuaskan dalam kehidupan saya,” kata Dr. Woof.

“Saat dulu saya masih usia sekolah, saya tidak bisa kuliah di kampus,”ia menjelaskan.

Di dekade 1930-an, ia mendapatkan beasiswa ke grammar school (sebuah sekolah lanjutan yang menekankan pada bahasa Latin dan Yunani untuk bersiap menghadapi kurikulum pendidikan tinggi) tetapi dipindahkan ke Somerset di awal berkecamuknya perang dan harus meninggalkan bangku sekolah di usia 16 tahun dan bekerja keras, meskipun ia sebenarnya memenuhi syarat untuk kuliah di London University.

Ayah Eric menyuruh anaknya itu bekerja dan menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga. “Saya kembali ke London sebelum serangan dan bekerja di sebuah kantor di West End. Kami harus pindah saat rumah kami rusak berat.”

Setelah mengabdikan diri pada RAF selama perang, Eric kembali ke pekerjaan asalnya, pindah ke utara di tahun 1952. Di usia 39 tahun, ia memiliki pekerjaan yang mapan dan seorang istri dan 4 anak.

“Saya memutuskan mengajar dan berpikir apakah saya benar-benar menginginkannya sebagai cara untuk menghabiskan waktu hidup ini. Istri saya sangat mendukung.”

Jadi ia mendapatkan kursi di universitas dan belajar menjadi guru matematika, dan bekerja di Appleby Grammar School, Cumbria dan di tingkat pendidikan selanjutnya selama lebih dari 20 tahun.

“Saya menyukai dunia mengajar karena memberikan kepuasan pribadi yang begitu besar.”

Dr. Woof mulai belajar di waktu senggang dan sukses mendapatkan gelar MA di University of East Anglia pada tahun 2003.

Tahun 2008, ia mulai belajar kembali di University of Cumbria. Di sini ia didorong untuk belajar kembali di program doktoral bidang pendidikan di Lancaster University.

“Pendidikan tinggi meningkatkan kualitas diri dan wawasan saya,” ia berujar.

“Suasana keseluruhan di sana sangat kondusif dan mendorong (diri saya). Saya suka bertemu mahasiswa lain dan staf yang juga sangat membantu. Saya menikmati bersama dan bekerja dengan orang-orang muda sehingga saya bergaul dengan baik dengan mahasiswa lain.”

Ia berharap bisa menyerahkan artikel untuk jurnal-jurnal profesional di topik favoritnya: pendidikan.

Dari keempat anaknya, Louise ialah pensiunan guru, Chris bekerja di University of Liverpool, dan kini sudah pensiun, Clare bergerak di bidang manajemen dan Francis bekerja di University of Salford. Istrinya Joan sudah meninggal tahun 1990.

“Saya sangat beruntung karena sudah diberkati dengan kesehatan yang baik dan dukungan banyak orang,”pungkasnya.

Apa yang dapat kita petik dari pencapaian Eric Woof ini?

How to Tell Someone is a Hacker or a Cracker

First of all, before liberally label some cyber criminals ‘hackers’, let me tell you how “hacker” and “cracker” carry slightly yet important difference of meaning. The first has gotten its notoriety these recent years because laymen like me only know that hackers tend to commit hateful, law-violating crimes such as intruding into your personal web accounts by finding your overly predictable and simple passwords.

But wait a minute! As hacker anthropologist Eric Raymond puts it, hackers DO know how to make things. They’re geniuses who have a knack for computers, who pay attention to what normal uninformed un-geeky Internet and computer users would ignore (for instance, the importance of making a relatively solid and unpredictable password). A cracker, on the other hand, is one who annoys millions of Internet users these days with illegal selfish actions like phishing, financial information theft, sites defacing, etc. In short, Eric tells, hackers are usually good, crackers bad.

Crackers, says Eric, are defined as people who break into computer systems, commit vandalism and computer crimes. They’re generally neither very bright nor very skilled. “You can distinguish them (crackers) from hackers by the fact that they typically use a username or handle to describe their identities. Hackers don’t do this,” added he. “Hackers make things, crackers only know how to break them.”

Geeks like one named “Cold Fire” and “Captain Zap” are disowned by him. They simply don’t belong to the hacker group after some stunts causing hackers in general to lose trust and respect from society.

If you’re writing or reading a news article on cyber crimes, and find one of the victims of crackers on social media sites like Hajriyanto Thohari labelling the criminal “hacker”, remember always this distinction. These culprits are not computer geniuses, but only some silly youths with no academic background and computer expertise. They download a software from the web spread on forums (like “Hacker Indonesia” on Facebook) and misuse it to exploit some unlucky Internet users.

3 Cool Things to Do Instead of Plunging into the Annual Debate on ‘Merry Christmas’

Global climate change might be changing all the patterns of humanity’s life. But what one thing it can’t alter? Human’s ultimate stubbornness, to stick to one issue and debate over it year by year until we reach the acme of insanity and complete saturation of SICKNESS.

While I keep what I believe in for myself, let me tell you 3 cool things to do besides participating in the annual, seemingly endless debate that I hate.

1. Sleeping
It’s the best thing you can do during holiday season. Go get some longer sleep, at night, at noon, in the afternoon, anytime you wish.

2. Blogging
Yet, make sure when you blog, you leave the uncool topic behind. Give some new fresh perspectives towards the issue, which may require some I-don’t-give-it-a-f*ck attitude. Don’t bore the readers with the dilemma whether a moslem must or must not extend christmas greeting. I’d say, “Let’s move on, shall we?”

3. Meditating
Monkey mind is anyone’s problem, and I develop the syndrome, too. So I’m trying to forget worldly stuff for a while and to get some inner peace whenever I can. And because meditation instills serenity and silence, you may find yourself drenched in self content. Nothing else matters but yourself. Suddenly everything seems perfect and you’ll love yourself more than before.

What could be the next…? It’s all up to you.

Small Talks to Remember (Poligama – Politik dan Agama)

Alkisah di sebuah mobil yang melaju di jalan Jakarta. Dua orang berbicara. Aku terpana, di sana, dengan kata-kata mereka, yang berguna. Mungkin Anda juga menyukainya. Atau mencerca. Silakan saja. Tak perlu malu ungkapkan rasa. Katakan apa adanya. Jadi demikianlah isi cerita.

Y: “Aku begini ini dilihat orang kayaknya agamais banget.. Apa gitu lah pokoknya. Spiritual banget! Tapi rasanya nggak bisa lah gitu contact ama Tuhan. Tuhan, apa ini ini ini…”

X: “Ho’oh…”

Y:”Ya udah. Jadinya malah nggak pernah ke tempat ibadah. Bukannya anti tetapi menganggap itu bukan hanya apalah…komunitas atau ritual, adat jadi hanya mau mendapat pengakuan di sosial aja. Dan itu intinya! Malahan setelah aku yoga, aku menganggap bahwa yoga itu di atasnya agama. Ketika melakukan yoga itu, sudah tidak mengenal agama lagi. Kita bisa bergabung bersama. Itu, spiritnya dapet semua. Ketika kita menyebut diri kita beragama, udah mulai memisahkan diri lagi jadinya. Orang-orang yoga juga gitu. Oh dia muslim. Oh dia kristen. Jadi ada rasa meskipun dia bilang semua kan sama tujuannya tapi di dalamnya sudah ada rasa yang berbeda gitu. Seolah-olah merasa memisahkan dia dari temennya yang lain. Yang biasanya yoga bareng atau apa..makanya aku pikir sebenarnya agama itu mengkotak-kotakkan orang. Ya liat aja kasus-kasus di mana sampai bunuh-bunuhan, sampai bakar-bakaran. Itu persis kayak partai politik aku bilang! Pokoknya makin yakin kalau agama itu nggak jauh beda dari parpol.”

X:”Haha…”

Y:”Iya kan? Orang PDI-P di daerahku sama Golkar, masih satu keluarga udah kayak musuh bebuyutan, mau gontok-gontokkan. Kebanyakan saudaraku kan PNS, gitu lah udah jadi dedengkot dari dulu. Nah ada yang mulai nggak suka PDI-P. Di sana kan suka gitu. Udah ya keluarga jadi pecah.”

X:”Ohhh. Berarti kalau ketemu pas acara keluarga gitu?”

Y:”Iya udah ngga rukun deh.”

X:”Tapi sekarang udah nggak gitu. Nggak partai-partaian. Sudah akur lagi… Makanya aku mikir,’Segitunya!'”

Y:”Oh pas dulu kan PNS diwajibin mihak Golkar ya.”

X:”Iya kok bisa sampai harus mempertaruhkan segalanya. Nah sekarang kalau dipertentangkan, coba ditelusuri. Agama Kristen, boleh mencuri? Tidak. Boleh berselingkuh? Tidak. Semua sama. Intinya sama kan? Mengajarkan kebaikan! Pokoknya intinya sama semualah. Nilai-nilai kebaikan… Tapi kenapa harus bermusuhan.”

Y:”Hehe iya… Mungkin karena merasa paling benar ya.”

Hening.

Y:”Yah itulah manusia.”

X:”Ho’oh…”

3 Public Speaking Tips from a Shy Guy

image

Public speaking has always been and will always be so hard for introverted shy people, like me or some of you. And the best thing that inescapably has to come to introverted people is when they need (or are made) to come up in front or up on the stage to speak, deliver speech, lead, perform or teach.

I’m a shy person. And you don’t know how much I HATE public speaking.

At times I give up on public speaking. Totally. I’m not that eloquent or outspoken to be a personality that stuns everyone in a certain situation or room. I want to! But something holds me back. It’s the FEAR that holds me back, I get chained to the bar and fail miserably to move forward. To be a better version of myself. I have things, messages and ideas on my mind to get across, to get understood or challenged or agreed.

Come what may!!!

Public speaking makes it possible for me to convey my worth-noting messages to more people out there but the fear and public speaking anxiety turns out a little bit too much and I can’t let it be that way.

So I decided to get rid of the fear, though it doesn’t vanish completely. The fear is still inside but at the very least, it has turned more controllable than ever before.

So I have tried public speaking gigs for a few times (several hundreds of times, if teaching for 5 years is included) and never managed to speak like a world-caliber speaker but I get used to it anyway. It is most likely because I have no choice and I can’t leave the responsibility to anyone else. And voila! I find myself speaking in front of hundreds of audience, something that normally makes me tremble to death.

As we’re enough with the preamble, these are my tips for you.

1. Know exactly what you’ll tell your audience.

Master the material you would present like no one else can. You, therefore, can speak like an expert. Experts are not a bunch of geniuses knowing all things. They know merely a few things, but only too well!

Also, it’s important to pick ONLY the topics you have a full grasp of. That said, you know what to do when offered to speak publicly about things you hardly know. Either you say NO immediately or you’d better learn it fast, which puts more pressure on you.

To avoid disappointment in audience, provide clear description in advance what your speech is all about, and if necessary, tell them what you will not cover in upcoming speech or presentation. It’s fine for some to leave if they don’t feel interested in your talks but hey, isn’t that better than speaking and seeing your audience yawning and scratching heads all the time?
This very first point is fundamental to public speaking, regardless of the fact that you’re an introverted or extroverted one.

Once you understand it all, you suddenly feel more relaxed and a lot more outspoken when told to speak in public. It’s because you feel confident enough to say:”Hey everyone, I declare humbly I know this better than you all so please listen to me now. I’m telling you things you will find beneficial sooner or later.”

2. Be honest.

Honesty is the best policy, especially when you are presenting yourselves in front of many people. Once you want to give audience a false impression of you, they’re likely to think,”Does s/he really mean what s/he says? Is that really who s/he is in the reality? Should I believe what s/he utters?”

If you think you can easily impress them with lies, believe me that they won’t be impressed. Once they find out, they’ll loathe you instead. Thus, be blunt and be candid. You’ll impress more if you stick to this.

3. Befriend audience.

Although you’re the authority as the speaker, you can’t speak rudely to audience, telling them unpleasant words you usually keep for yourself or family members. Be their friends. Don’t preach, just share. That way, they’ll listen to you better. So don’t judge them if you find them wrong. Share what you experienced before without giving the impression that you’re the right one, or you have one right solution to the problems they are facing, and claim,”I’m the judge. I’m right, you’re wrong. Period.”

So don’t get cocky even if you have plenty to share and have got more to show off. As a speaker, you need to show off but make sure it’s done wisely. Remain humble and be fully aware of the fact that one or some of audience can know more than you, have more profound understanding than yours. Or else, you will humiliate yourself in the process.

Happy speaking!

When Language is Your Passion…

You can naturally become a teacher. It is one inevitability, to say the least. One type of career you can pursue easily when no field of work is available is teaching.

You may write days and nights without no one’s telling you to do so. Passion may murder the overly passionate sometimes. Thus, know you have limits in the first place.

You don’t know how long days are and suddenly find yourself alone in the dark. It’s hard to pay attention to your surroundings because you’re so engrossed with all the cerebral things going on in your brain that others think you’re antisocial, cold, nerd. But you take it all and continue working. So be it, you say.

You don’t really mind gaining or losing weight after months of sedentary writing. Obviously, I can’t lose because gaining is even much harder. But you know it must feel great to be a muscular, physically attractive, and fit writer or linguist. Be neat. Don’t be like those shabby, unshaven, dishevelled-haired authors who don’t dress properly. It’s definitely okay to be fashionably dressed and neatly trimmed and fascinatingly groomed if you’re a gentleman. And don’t drink alcoholic beverages, caffeine in any forms, and avoid smoking at all cost. You’ll be fine and live healthier.

You want to meet more people to see if they can speak or write better and hence learn from them. Surrounding yourself with people having greater linguistic talents, like authors and seasoned journos, can be a bliss you won’t regret.

You want to spend every minute of your life writing even that requires you to scribe on leaves, tusks, typing on BlackBerrys, or PCs. But then you must know when to take breaks or you’ll break permanently.

And eventually, you wish to live long enough to write as much as you can.

Day One at the Height

I was given an access card and it didn’t work. I managed to get into the lift but it turned out the lift on 39th floor is still out of service.There is no Internet connection other than my own. And now I am thirsty and want to sip some water but can’t find a water dispenser and am offered a box of water cups. I should say this is not an ideal working space I have in my mind. I miss the trees, the musholla, the earth. And oh don’t you know the higher you stay or live, the more rapidly you get old, or age. Isn’t that horrible???

Trik Blogging via BlackBerry Tanpa Install Aplikasi WordPress

blackberry
blackberry (Photo credit: arrayexception)

BlackBerry, ponsel ‘relatif pintar’ yang kerap menjadi bulan-bulanan pengguna smartphone lain ternyata bisa membuat blogger jadi lebih produktif. Alasannya tentu adalah tombol qwerty-nya yang masih terlalu nyaman untuk digadaikan dengan layar sentuh.

Jika Anda suka blogging di platform WordPress (baik wordpress.com yang gratis dan praktis atau wordpress.org yang juga gratis tetapi memerlukan lebih banyak pengetahuan teknis saat instalasi dan pemeliharaan) dan memiliki sebuah ponsel BlackBerry, jangan sia-siakan BlackBerry hanya untuk bertukar pesan di BlackBerry Messenger saja. Dan jika Anda termasuk orang yang seperti saya (tidak terlalu suka ribet dengan upgrade sistem operasi BlackBerry yang justru kadang membuatnya bermasalah), tak perlu menginstal aplikasi WordPress di BlackBerry Anda. Setahu saya makin minim aplikasi, makin minim risiko ngadat. Dan saya juga tidak mengupgrade sistem operasi setelah tahu risiko yang harus dibayar jika upgrade tidak berakhir mulus dan berbagai gangguan menjengkelkan lainnya.

Akan tetapi ada satu fitur sederhana yang terlupakan banyak blogger WordPress. Fitur itu adalah “post by email”, yaitu mengunggah tulisan cukup melalui email. Dan karena BlackBerry memiliki email sebagai fungsi dasarnya, tentu kita bisa menggunakannya jika kondisi tidak memungkinkan untuk membuka laptop di tengah jalan atau diburu waktu atau sekadar ingin menulis di blog kesayangan tetapi tak ada koneksi internet yang stabil di musim hujan seperti sekarang.

Your BlackBerry is your savior, bloggers!

Simak saja prosedur berikut untuk mengaktifkan fitur simpel “post by email” ini di akun WordPress.com Anda (jadi ini BUKAN untuk akun blog yang menggunakan software blogging WordPress.org dengan hosting sendiri. Saya belum tahu ada kemiripan atau tidak dengan prosedur aktivasi fitur tersebut di sana).

Langkah 1: login ke wordpress.com dan masuk ke dasbor, temukan tab “Setting” dan klik

Langkah 2: temukan tab “Writing” dan klik

Langkah 3: temukan tab “post by email” dan klik

Langkah 4: akan ditemukan kalimat
“You can publish posts using emails with the post by email feature. To enable this visit your My Blogs page and create a secret address” (Anda bisa mengunggah artikel via email dengan fitur ini. Untuk mengaktifkannya, kunjungi laman web ‘My Blogs’ dan buat alamat email rahasia). Jadi logikanya, kita harus membuat alamat email rahasia yang kita bisa jadikan perantara dan hanya kita yang bisa mengetahuinya agar akses unggahan ke blog kita tidak dimiliki sembarang orang. Alamat email ini dihasilkan secara acak dan agak sukar diprediksi karena memang hakikatnya agar tidak mudah ditemukan orang yang tidak berhak mendapat akses.

Langkah 5: temukan nama blog (jika blog Anda di 1 akun wordpress ada lebih dari satu), dan klik.

Langkah 6: aktifkan fitur “post by email” dengan 1 klik kiri, dan muncul nama email rahasia, catat (saran saya buat entri tersendiri di kontak BlackBerry, misalnya “my blog”). Jika tidak suka dengan alamat email rahasia pemberian WordPress itu, klik “regenerate” sampai menemukan yang lebih cocok.

Langkah 7: cobalah mengetik satu tulisan di email pada BlackBerry, jika ada gambar dan video yang mau ditayangkan bersama tulisan, lampirkan saja seperti attachment file biasa. Tentu harus sadar dengan kemampuan perangkat, artinya jika Blackberry hanya bisa 2G, jangan dipaksa mengunggah video yang ukurannya besar sekali. Alamatkan tulisan ke email rahasia yang sudah dicatat tadi sebagai, misalnya, “my blog” di daftar kontak Anda.

Sebenarnya ada lagi cara untuk mengelompokkan artikel yang diunggah berdasar kategori dan memberikan tags pada artikel, tetapi caranya agak rumit dan tidaklah sekrusial esensi dari tulisan/ konten Anda. Kategori dan tag bisa dilakukan setelah menemukan PC atau laptop atau sambungan Internet yang lebih stabil.

Untuk Anda yang ingin blogging lebih dinamis via BlackBerry, ini adalah salah satu solusi. Selamat mencoba!

%d bloggers like this: