Abdullah Alamudi: Accuracy, Accuracy, Accuracy!

image

“Pers Indonesia sepanjang sejarahnya sejak tahun 1778 ketika koran pertama di negeri ini didirikan oleh VOC sampai saat ini, tidak pernah merasakan kemerdekaan pers sampai tahun 1999. Saat itu bangsa Indonesia kaget sebab selama Orde Baru, kita diajari untuk meyakini dogma “pers Indonesia bebas dan bertanggung jawab”. Bebas dari apa? Anda bebas memilih apa saja untuk diberitakan, kata pemerintah Orba, KECUALI memilih tema tulisan mengenai jenderal yang korup, BUMN yang merugi, keluarga Cendana, dan lain-lain. Wartawan dibenturkan oleh pemerintah Orba dengan “rasa tahu diri” sebagai WNI. Sebagai warga negara yang baik, jurnalis juga harus tahu diri! Jurnalis harus bertanggung jawab pada negara. Itulah ajaran yang disebarkan saat itu padahal pada saat yang sama, kaum kuli tinta juga bertanggung jawab pada masyarakat, yakni pembaca, penonton dan pendengarnya. Orba membelokkan pertanggungjawaban ke arah negara, bukan ke masyarakat Indonesia, karena saat itu negara (para oknum pejabat yang mengaku sebagai negara) adalah pemegang kebenaran mutlak,”terang pria di depan saya yang berbicara di depan audiens yang termangu-mangu. Entah karena mengantuk di dalam ruangan berpendingin udara yang bekerja maksimal atau karena berusaha menyerap apa yang pria itu sampaikan.
“Merah kata negara, merah kata pers,”ujar Abdullah Alamudi, jurnalis kawakan yang mengepalai sebuah lembaga jurnalisme untuk menegaskan kondisi pers Indonesia saat Orba.

Abdullah dengan senang hati membagikan kisah nyata yang ia alami saat bekerja di The Jakarta Post. Saat itu peristiwa Tanjung Priok yang penuh pertumpahan darah baru saja terjadi. Saya sendiri belum lahir dan tidak tahu kondisinya dari kacamata saya sendiri tetapi dengan lamanya kasus itu masih menjadi bahan pembicaraan, skala keparahannya pasti tidaklah kecil. Salah satu wartawan yang ia pimpin dengan bangga masuk ke ruangan Abdullah untuk memamerkan hasil jepretannya, hasil kerja keras yang begitu susah payah tercapai. Ia dengan optimis mengira foto-foto penuh kekerasan dan darah itu akan dimuat dan menjadi bagian dari pemberitaan bersejarah yang akan selalu diingat orang. Sang wartawan salah mengira. Abdullah mengenang saat itu,”Saya katakan foto-fotonya bagus. Ada beberapa yang bagus memang. Tetapi kalau foto-fotonya itu dimuat, kami mau kerja di mana hari berikutnya? Bisa dituntut The Jakarta Post!” Abdullah pun memerintahkan wartawannya itu untuk menyimpan hampir semua fotonya dalam ‘dark room’ sebagai bagian dari tumpukan file yang mungkin suatu saat nanti akan sangat berguna. Tetapi itu nanti, tidak saat itu. Dengan alasan bahwa The Jakarta Post saat itu adalah jendela demokrasi Indonesia (karena banyak warga asing yang membacanya), Abdullah pun mencari akal dengan menggunakan pernyataan dari pejabat Kokamtib yang mengatakan 30 tewas, 100 luka-luka. Namun, dikutip pula pernyataan sangkalan dari sejumlah saksi mata yang mengklaim jumlahnya lebih besar dari angka Kokamtib itu. Itulah yang ditulis oleh The Jakarta Post. Keesokan harinya, AFP menurut Abdullah memuat berita bahwa 200 jiwa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Reporter pun diperintahkan Abdullah untuk mengkonfirmasi kesimpangsiuran ini dan kala itu Pak Domo (Sudomo) sambil menggebrak meja dan tampak gusar berkata,”Mana bisa? Kita sudah putuskan 30 yang mati!!!” Itulah pers kita di masa Orba.

Sebagai jurnalis yang bekerja dengan idealisme dan visi, Abdullah Alamudi mengedepankan prinsip akurasi. “Accuracy, accuracy, accuracy!”ia setengah berteriak. Namun bagaimana bisa prinsip itu diberlakukan pada jurnalisme daring (online)? Para wartawan online berargumen,”Setiap detik adalah deadline…” Abdullah mengeluhkan prioritas mereka pada kecepatan daripada akurasi berita yang disajikan. Dan ia menjawab argumen itu,”Betul, saya sudah bekerja di BBC London selama 7 tahun. Kalau ada kejadian kudeta misalnya dan koresponden BBC sudah kirimkan laporannya. BBC tidak akan merilis berita dari koresponden kecuali sudah ada berita sebagai verifikasi dari 2 media independen lainnya, misal dari AFP, Reuters, Itass, dan lain-lain.
Dari pengalamannya di Dewan Pers, Abdullah mengetahui para wartawan online kerap diadukan karena pemberitaan yang tidak akurat, bahkan cenderung menyesatkan karena akurasi yang rendah dan terlalu mengutamakan faktor kecepatan.

the Jakarta Post 30th anniversaryPemberitaan yang bersifat one-sided atau kurang berimbang karena hanya memuat satu sisi saja (tidak mengkonfirmasi pihak lain yang terkait dengan isu yang diangkat) umumnya cuma tersaji dalam berita yang pendek, seolah seperti penggalan-penggalan yang kurang lengkap, yang jika dipahami secara parsial akan memercikkan kesalahpahaman. Di sini, jurnalis berisiko terkena ancaman pasal 310-311 KUHP terkait pencemaran nama baik.

Kini pertanyaannya dikembalikan pada wartawan, kata Abdullah,”Seberapa taatnya wartawan dengan kode etik jurnalistik? Yaitu verifikasi, verifikasi, verifikasi!”
Lalu ia melanjutkan,”Seberapa besar media besar mau menyatakan bahwa akurasi lebih baik daripada kecepatan?” Apakah layak jika kita dapatkan scoop eksklusif sebagai yang pertama tetapi di kemudian hari harus menuai masalah hukum karena pemberitaan yang tidak akurat?

Abdullah menghimbau pada para pemilik modal agar memikirkan masak-masak bahwa dengan membiarkan para pekerja pers menjadi profesional terbaik yang mengutamakan akurasi daripada kecepatan, itu juga akan menyuburkan bisnis mereka nantinya. Sayangnya, logika pebisnis dan pemilik modal kebanyakan bersifat jangka super pendek. Mereka mau menikmati hasil instan. “Banyak pemilik modal tak paham industri media. Mereka menganggap ini seperti berdagang baju, makanan, dan semacamnya. Jual sekarang, laku, uang masuk. Di media terutama media cetak ada yang mungkin berdarah-darah karena sudah 4 tahun beroperasi belum mencapai titik impas (BEP),”tuturnya. Di sini terjadi pertempuran antara pemilik modal versus redaktur/ pewarta yang mewakili kepentingan bisnis pragmatis dan idealisme-profesionalisme jurnalistik. Para pemilik modal belum banyak yang sadar bahwa dengan membiarkan para pekerja pers untuk bekerja sesuai hati nurani dan profesionalisme, bisnis media mereka juga akan makin menguntungkan meski tidak secara instan.

Abdullah berbagi kisah nyata lagi. Saat ia masih bekerja di Bisnis Indonesia, ia harus mengecap pengalaman pahit dengan seorang eksekutif perusahaan yang masih satu kelompok usaha dengannya. Pemberitaan kala itu membahas tentang korupsi di Ancol. Bukan rahasia lagi bahwa Ancol identik dengan sosok Ir. Ciputra, yang juga memiliki saham di Bisnis Indonesia. Ia memastikan reporter yang menulis berita korupsi Ancol itu telah menggunakan sumber-sumber dan pernyataan yang akurat dan bisa diverifikasi jika dibutuhkan. Setelah rapat redaksi, diputuskan berita itu diterbitkan. Tetapi sekonyong-konyong seseorang yang mengaku dari Ancol datang ke ruangannya dan berkonfrontasi. “Ancol itu milik Pak Ciputra dan beliau punya modal di Bisnis Indonesia. Artinya Anda mencoreng muka sendiri!” Abdullah beralasan reporter sudah bekerja dengan menaati prinsip-prinsip dan etika jurnalistik jadi tidak ada yang salah. Dan jika mau mengklarifikasi, dipersilakan menggunakan hak jawab. Namun, sang oknum tetap berkilah bahwa intinya sebagai anggota grup, Bisnis Indonesia tidak sepantasnya memuat berita yang menjelek-jelekkan anggota lain dalam grup.
“Adalah demi kepentingan pemilik modal sendiri, media ini dikelola secara profesional,”Abdullah menegaskan lagi, seolah para pemilik modal di perusahaan media sedang mendengarkan perkataannya. Karena itu wartawan harus meningkatkan kualitas profesionalismenya agar pemilik modal mau mendengarkan. (Dirangkum dari pemaparan Abdullah Alamudi)

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s