Sopir Taksi dengan Segudang Kisah Misteri (dan Bertabur Komedi)

image

Perjalanan ke salah satu bandara terprimitif di dunia, bandara Soekarno Hatta, tidak pernah terasa mulus bagi siapa saja. Acap kali ketegangan muncul jika terjadi kemacetan. Dan tiba-tiba muncul skenario terburuk dalam pikiran. Bagaimana jika pesawat lepas landas tanpa kita di salah satu kursinya? Atau apakah pesawat akan ditunda keberangkatannya demi menunggu kita yang terjebak kemacetan terkutuk di jalan tol, yang kadang tak lebih baik dari jalan tikus di kampung? Atau apakah setidaknya ada refund bagi kami konsumen nan kritis karena beranggaran tipis?

Sementara pikiran ini terus menggelayut di benak saya dan 2 teman yang berada di taksi yang sama, sang sopir pun mencoba mengalihkan pikiran kami dengan membeberkan kisah-kisah misteri terpilih dari database pribadinya yang telah terkumpul selama karirnya bekerja sebagai sopir salah satu perusahaan taksi terkemuka. Latar tempat semua kejadian ini adalah di ibukota dan sekitarnya, paling jauh Bogor.

Di sela-sela penuturan kisah-kisah misteri ini, saya tergelak-gelak. Bukan karena ini kisah misteri dengan bumbu komedi tetapi karena 2 teman saya yang perempuan itu belum mendengar ceritanya saja sudah menutup telinga mereka, supaya tidak mendengar karena begitu takutnya.”Pak pak pak…!!”begitu jerit mereka saat cerita hampir dekat ke klimaksnya sambil menutup telinga, meringkuk ke pojok jok dan tangan mencengkeram erat jok kursi. Makin konyol reaksi mereka, makin senanglah saya.

Begini ceritanya… (Sebagaimana dikutip langsung dari sang narasumber)

“Kalau ini siang kejadiannya kira-kira jam 2 siang. Yang mengalami teman saya, dari Hotel Sultan ke (Jakarta) Kota. Yang menumpang wanita paruh baya. ‘Bu bu…ini kita mau ke mana?’
Eh ibu itu diam saja. Kok nggak disahutin, pikirnya. Teman saya menoleh ke belakang, eh lho nggak ada orang! Padahal argo sudah 40 ribu. Terus habis itu, teman saya dapat penumpang nggak berhenti-berhenti. Terusss dapet.!!!.”

Saya katakan mungkin itu bawa hoki. Ia melanjutkan ceritanya.

“Yang ini cerita lain. Orang yang naik mas-mas. Saya tanya,’Ke mana mas?’ Dia jawab,’Ke Merdeka, pak!’ Nah pas itu kan jamannya demo di Monas tuh. Jadi saya pikir,’Wah ni orang mau demo.’Di sepanjang perjalanan dia nyanyi-nyanyi terus. ‘Wah nggak beres ini,’batin saya. Saya tanya lagi,’Ke mana ni mas?’ Dia jawab,’Ke Bogor, pak!’ Wah bener nih orang gilaaa… Akhirnya saya turunin kan. Dia nggak mau. Saya putar otak, gimana caranya nurunin orang ini. Kalau marah-marah juga sama aja saya gilanya. Akhirnya saya sabarin,’Udah ya mas ya turun sini aja ya. Kan sama aja mas turun sana ama turun sini.’ Dia diam saja. Lama-lama dia bilang,’Ya udah pak saya turun sini.’Wah habis itu penumpang, dari jam berapa tuh, jam satu siang sampai jam 12 malem nggak ada berhentinya. Kalau saya nggak istirahat…istirahat ngopi aja belum abis, ada penumpang lagi, jalan lagi, di tempat yang sempit, sepi, pokoknya mustahil lah di situ ada penumpang ya. Itu orang turun, ada lagi penumpang. Naik turun pokoknya. Itu habis orang gila itu…”

“Cuma kalau yang kasihan itu di Kebayoran. Kalau ini yang mengalami teman saya. Dari Sudirman, dia mengantar perempuan pakai jilbab ke rumahnya. Ditunggu, tapi kok ngga keluar-keluar. Lalu keluar ibu-ibu. Mungkin ibunya yang memberi 25 ribu ke teman saya. Di depan rumah itu pas ada warung, teman saya ngopi dulu, ngrokok, istirahat, kan capek karena macet di Sudirman. Habis itu ditanya sama yang punya warung,’Mas, habis nganter orang ya mas?’ Iya, jawab teman saya. ‘Di mana?” Di situ di pojokan, kata temen saya. ‘Oh di situ, oh itu ya masih muda pakai jilbab?’ Iya, kata temen saya. ‘Itu kan udah meninggal, mas!’Jadi rupanya setiap malam, ibunya nunggu taksi karena tahu. Jadi dia membayar terus tiap malam. Awalnya dia tidak tahu tapi karena tiap malam ada taksi berhenti karena katanya ada perempuan turun ke sini. Akhirnya tiap malem tuh dia keluar bayar 35 ribu. Kasian banget. Mudah-mudahan udah nggak ada lagi lah. Kasihan orang tuanya.”

“Kali ini saya yang kebetulan dibooking penumpang yang pergi ke Bogor. ‘Ke Bogor mau nggak?” Saya jawab mau. Terus ditutup pintunya. Jeglek! Saya jalan. Pas sampai pintu tol. ‘Bu, argonya, bu?’ Nggak ada orangnya! Lalu saya telepon ke hotelnya. Saya tanya kok orangnya tadi nggak ada. Dijawab,’Lha bapaknya tadi ibunya belum naik tapi udah kabur!’ Ternyata pas ibu itu nutup pintu, dia ke dalam hotel ambil tas. Padahal saya sudah mikir dia sudah masuk ke dalam taksi. Akhirnya sudah argo jalan, masuk pintu tol saya juga harus bayar! Balik lagi sudah hilang orangnya. Yah, apes. Namanya juga abis bangun tidur pas itu.”

“Lalu ada lagi, dua perempuan. Yang satu pakai baju merah, yang satu pakai hitam. Yang merah ngucapin salam,’Malem pak.”Malem, ke mana bu?” “Ke Tebet, pak.’ Pas di depan tujuan, begitu turun, bayar dulu. Anehnya yang turun cuma yang baju hitam, yang baju merahnya tidak ada di dalam taksi. Bingung kan saya? Tapi itu kalau menurut orang-orang jaman dulu, tiap orang kan punya ari-ari. Nah itu yang melindungi kita.”

3 Comments

Filed under writing

3 responses to “Sopir Taksi dengan Segudang Kisah Misteri (dan Bertabur Komedi)

  1. Kalau di kalangan pengemudi Blue Bird ada juga yang mbak2 meninggal, rumahnya di Depok dan argo bisa 50lebih.

  2. bhetsy

    Iyyaa tuu yg cerita wanita muda ga turun2 dan ibunya keluar rmh utk bayar itu pernah jg diceritain ma bapak taksi bluebird, wanita muda itu naiknya dr sekitaran UI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s