Small Talks to Remember (Poligama – Politik dan Agama)

Alkisah di sebuah mobil yang melaju di jalan Jakarta. Dua orang berbicara. Aku terpana, di sana, dengan kata-kata mereka, yang berguna. Mungkin Anda juga menyukainya. Atau mencerca. Silakan saja. Tak perlu malu ungkapkan rasa. Katakan apa adanya. Jadi demikianlah isi cerita.

Y: “Aku begini ini dilihat orang kayaknya agamais banget.. Apa gitu lah pokoknya. Spiritual banget! Tapi rasanya nggak bisa lah gitu contact ama Tuhan. Tuhan, apa ini ini ini…”

X: “Ho’oh…”

Y:”Ya udah. Jadinya malah nggak pernah ke tempat ibadah. Bukannya anti tetapi menganggap itu bukan hanya apalah…komunitas atau ritual, adat jadi hanya mau mendapat pengakuan di sosial aja. Dan itu intinya! Malahan setelah aku yoga, aku menganggap bahwa yoga itu di atasnya agama. Ketika melakukan yoga itu, sudah tidak mengenal agama lagi. Kita bisa bergabung bersama. Itu, spiritnya dapet semua. Ketika kita menyebut diri kita beragama, udah mulai memisahkan diri lagi jadinya. Orang-orang yoga juga gitu. Oh dia muslim. Oh dia kristen. Jadi ada rasa meskipun dia bilang semua kan sama tujuannya tapi di dalamnya sudah ada rasa yang berbeda gitu. Seolah-olah merasa memisahkan dia dari temennya yang lain. Yang biasanya yoga bareng atau apa..makanya aku pikir sebenarnya agama itu mengkotak-kotakkan orang. Ya liat aja kasus-kasus di mana sampai bunuh-bunuhan, sampai bakar-bakaran. Itu persis kayak partai politik aku bilang! Pokoknya makin yakin kalau agama itu nggak jauh beda dari parpol.”

X:”Haha…”

Y:”Iya kan? Orang PDI-P di daerahku sama Golkar, masih satu keluarga udah kayak musuh bebuyutan, mau gontok-gontokkan. Kebanyakan saudaraku kan PNS, gitu lah udah jadi dedengkot dari dulu. Nah ada yang mulai nggak suka PDI-P. Di sana kan suka gitu. Udah ya keluarga jadi pecah.”

X:”Ohhh. Berarti kalau ketemu pas acara keluarga gitu?”

Y:”Iya udah ngga rukun deh.”

X:”Tapi sekarang udah nggak gitu. Nggak partai-partaian. Sudah akur lagi… Makanya aku mikir,’Segitunya!'”

Y:”Oh pas dulu kan PNS diwajibin mihak Golkar ya.”

X:”Iya kok bisa sampai harus mempertaruhkan segalanya. Nah sekarang kalau dipertentangkan, coba ditelusuri. Agama Kristen, boleh mencuri? Tidak. Boleh berselingkuh? Tidak. Semua sama. Intinya sama kan? Mengajarkan kebaikan! Pokoknya intinya sama semualah. Nilai-nilai kebaikan… Tapi kenapa harus bermusuhan.”

Y:”Hehe iya… Mungkin karena merasa paling benar ya.”

Hening.

Y:”Yah itulah manusia.”

X:”Ho’oh…”

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s