Kisah Si Pencari Mayat Nomor 89

Sebagai seseorang yang terlahir di era 1980-an, salah satu sarana hiburan yang paling mengasyikkan adalah menonton bioskop. Dan kala itu, hal yang paling berkesan adalah mengunjungi sebuah gedung bioskop kecil di kecamatan lain yang hanya memuat beberapa puluh orang dan gelap gulita tidak senyaman ruangan 21. Film yang saya tonton di antaranya adalah sebuah film yang bertema tragedi Bintaro. Yang saya ingat hanyalah tangisan, rel kereta api , dan semacamnya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah tragedi Bintaro II tanggal 9 Desember 2013. Korbannya cukup banyak (6 korban jiwa,menurut Tempo) dan terdiri dari sejumlah perempuan karena kebetulan gerbong depan dekat dengan lokomotif, yang bertabrakan langsung dengan truk tanki bahan bakar Pertamina. Pemberitaan di media begitu intens. Di TV ada, di media online juga banyak bertebaran.

Tetapi semua informasi itu dipandang dari sudut pewarta dan jurnalis, yang hambar, relatif tanpa emosi, dan cuma membeberkan fakta, meskipun pada kenyataannya ada media yang mengeksploitasi unsur emosi ini untuk menggenjot popularitas medianya sendiri dengan mencari sudut pemberitaan yang lebih mengaduk-aduk emosi, sebuah titik lemah yang dimiliki semua manusia normal dan waras.

Tidak sengaja saya menemukan kisah tragis dari insiden yang terjadi di tempat yang sama: Bintaro. Hanya saja, kecelakaan ini sudah terjadi 27 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 19 Oktober 1987.

Begini cerita bapak kos saya.

Saat itu hari Sabtu. Adiknya berkunjung ke tempat tinggalnya di Jakarta. Sang adik berkata akan pulang di hari Minggu dengan naik kereta.

Hari Senin, ia berkumpul di meja kerja bersama atasannya hanya untuk melipat kain batik yang harus dijual sambil mendengarkan siaran beriat terkini di radio. Saat itu anak bosnya yang bisa berbahasa Sunda berceletuk,”Tuh Man, kereta api Rangkasbitung tabrakan di Bintaro, banyak yang meninggal!” Seketika ia merasa terkejut tetapi ia masih menyanggah bahwa sang adik sudah pulang pada hari Minggu, jadi tidak mungkin adiknya kena musibah. Tidak mungkin hari Senin, meski dalam hati ia merasa ragu dan cemas. Mendengar itu ia memutuskan pada sore harinya ingin menengok sang adik yang tinggal di Pondok Pinang. Belum sempat melangkahkan kaki ke sana, ia sudah dihampiri seorang teman kerja sang adik yang mengatakan dua adiknya mengalami kecelakaan di kereta api yang sama tetapi tidak dikatakan secara persis kondisi keduanya, apakah selamat, luka-luka atau sudah tewas.

Saat ia pergi mengunjungi TKP Tragedi Bintaro I saat itu, kondisinya sudah kacau balau. Sangat banyak orang di tempat naas tersebut.

“Bau mayat bergelimpangan bikin enggak bisa menelan makanan sama sekali,”ia mengenang. Toh demikian, petugas-petugas kepolisian yang ada lahap saja menyantap jatah makanan mereka. Orang-orang awam yang tidak biasa berada dalam kondisi seperti itu tidak bisa. Begitu banyaknya, sampai-sampai mayat-mayat itu dikarungi, katanya lagi.

Di kamar mayat, pintunya tidak bisa ditutup dengan rapat karena jumlah mayat sangat banyak dan memenuhi lantai. Ratusan anggota keluarga korban mengantri hanya untuk masuk dan keluar di kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Jumlah korban yang mencapai ratusan jiwa membuat jenazah-jenazah harus dibagi ke beberapa rumah sakit besar di Jakarta.

Sambil kebingungan dan syok, ia harus mencari adiknya ke RS Pondok Indah, RS Fatmawati, RS Pusat Pertamina yang menjadi tempat perawatan korban luka-luka, termasuk RS Cipto Mangunkusumo yang kamar mayatnya digunakan untuk menampung jenazah hingga diambil oleh pihak keluarga setiap korban. Satu adiknya ditemukan hanya mengalami luka-luka. Setelah mencari-cari demikian lama dari hari naas Senin itu, ia disarankan oleh seorang petugas agar mencari satu adiknya yang lain ke kamar mayat. Di hari Rabu, ia baru menemukan jenazah adiknya. Satu tewas seketika karena tergencet di gerbong kereta. Sementara yang satu cuma luka-luka meski beberapa tahun setelah itu akhirnya sang adik yang masih hidup juga berpulang karena tertular penyakit yang disebut “virus onta”. Akhirnya ia pun meninggal di Kalimantan. Malam Kamis, ia membawa pulang jenazah adiknya yang katanya “gepeng” karena tergencet parah di gerbong dari kamar mayat RSCM yang luber dengan mayat-mayat yang sudah mulai membusuk.

Sebagai seorang kakak, ia masih teringat-ingat dengan mendiang adik yang sebelumnya mengunjunginya dan berbicara dari hati ke hati. Sebagaimana kakak dan adik, ia dan adiknya pun sering saling bercanda, seperti mengganggunya saat tidur dengan memencet hidungnya sampai terbangun. Dan adiknya sempat meminta bantuan pinjaman uang karena pekerjaannya belum selesai. “Saya dulu pas bekerja suka dikasih beras, seliter dua liter tiap hari. Separuhnya yang enggak kemakan, saya simpen. Nah sering dia pinjam beras itu,”katanya. Koesdinata, adiknya yang tewas itu, sebetulnya sudah ia suruh menikah (padahal baru 18 tahun, lepas SMA). Apa daya, maut lebih dulu menjemput.

“Sampai sekarang saya masih ingat nomor jenazah yang ada di jempol kaki adik saya… 89,” ucapnya lirih.

Kecelakaan yang terjadi di Stasiun Pondok Ranji ini dikenang sebagai satu insiden terburuk dalam sejarah transportasi tanah air sampai-sampai pers dunia memberikan perhatiannya untuk kasus ini.

Kereta api naas itu berangkat dari Stasiun Rangkasbitung (yang dinaiki dua adik pak kos) dan beradu dengan kereta api lain dari Stasiun Tanah Abang. Semuanya ternyata karena seorang petugas di Stasiun Sudimara lalai, sembarangan memberikan sinyal aman bagi kereta api dari Stasiun Rangkasbitung untuk melaju.

Mengapa Daerah Casablanca Jakarta Selatan Angker?

Jauh sebelum saya menghuni daerah ini, saya pernah mendengar film yang berjudul “Terowongan Casablanca” di media. Dikatakan film tersebut diangkat dari ‘urban legend’ masyarakat Jakarta. Terowongan itu sendiri benar-benar ada di ruas jalan Prof. Dr. Satrio Jakarta Selatan, yang ternyata sangat dekat dengan daerah saya tinggal saat ini.

Dengan berbekal rasa penasaran, saya melontarkan sejumlah pertanyaan bernada investigasi kepada bapak dan ibu kos. Mereka menjadi sumber yang tepercaya karena sudah sejak saya belum lahir tinggal dan mengais rupiah di daerah Karet Kuningan ini.

Dari penuturan pak kos saya yang sudah melanglang buana di ibukota sejak tahun 1970-an saat posisi gubernur dijabat oleh Ali Sadikin yang legendaris itu, diketahui bahwa dulu ada beberapa sebutan untuk area-area tertentu di Karet Kuningan dekat terowongan Casablanca tersebut. Yang sekarang ini diisi oleh ITC Kuningan dan sekitarnya termasuk Mall Ambassador bernama “Karet Komplek” dan area yang berada jauh dari ruas jalan disebut “Karet Sedikit”, mungkin karena dulu permukiman penduduk masih sangat sedikit, tidak sepadat saat ini. Dan area yang sekarang ditempati apartemen Somerset Grand Citra Mega Kuningan adalah ruas jalan kecil yang bernama “Gang Bernuk”.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Karet Kuningan adalah pusat produksi batik yang cukup aktif. Pak kos masih ingat bagaimana ia bekerja setiap hari di pabrik pembuatan batik cap dengan menggunakan trolley dengan muatan 50-60 kodi kain batik cap, lalu mendorongnya dengan seorang teman kerja ke gang Genteng Ijo.

Kemudian saya bertanya pada mereka,”Apakah di sini daerah yang dulunya banyak pekuburan?” Ibu kos yang juga sudah lama tinggal di daerah ini sebelum saya lahir pun mengiyakan. “Termasuk kantor lama saya yang banyak pohonnya itu?”saya bertanya lebih spesifik. Ia mengangguk.

Pantas saja…

Bahkan di dekat tempat kami tinggal pun ada sepetak tanah yang dulunya adalah makam. “Itu rumahnya mbak X (sambil menunjuk ke salah satu rumah tetangga)dulunya juga makam,”katanya. “Makam apa? Makam Belanda, makam China?”cerocos saya, tidak sabar menelisik masa lalu. “Enggak, makam orang biasa aja,”tukasnya. Apa yang ia maksud dengan ‘orang biasa’ saya pun tidak terlalu jelas. Mungkin artinya orang pribumi muslim.

Di area berdirinya ITC Kuningan dan Carrefour saat ini, kata ibu kos, dulu dipenuhi tempat produksi konveksi. Dan saat proses pembangunan pondasi (paku bumi), sejumlah pekerja menjadi korban. Mereka terisap lumpur, menurut ibu kos. “Daerah itu kan dulunya rawa. Mega Kuningan itu semua rawa-rawa dulunya,”tandas bu kos.

Sementara itu, jalan Karet Pedurenan dulu dipenuhi dengan kali dan pabrik-pabrik konveksi yang kemudian digusur, karena dianggap mencemari lingkungan. Apa yang saya anggap sebagai saluran air buatan manusia yang terbentang dari gang Blumbang sampai ke bagian belakang kos saya itu ternyata menurut bu kos adalah kali kecil yang mengalir sampai aliran sungai yang lebih besar dan dalam di dekat Siloam Hospital dan di belakang bangunan Sampoerna Strategic Jakarta.

Hipotesis saya terverifikasi sudah. Setidaknya secara historis. Secara empiris, juga sudah banyak pengalaman misterius di sini. Secara ilmiah? Itu yang belum dan mungkin juga tidak perlu dilakukan karena sia-sia saja.

Makanya hati-hati kalau di sini!

Arief Rahman: Dari Fotografer Satwa Hingga Kontributor Wikimedia Indonesia

image

Arief Rahman (baca profilnya di sini), seorang fotografer muda dari Manado, Sulawesi Utara, menjadi alasan utama mengapa pelatihan Wikimedia dan Wikidata kali ini diselenggarakan. Mengapa? Karena ia akan menerima hibah kamera profesional dari Wikipedia Foundation yang nantinya akan berguna untuk mengabadikan berbagai spesies burung khas Sulawesi di berbagai hutan dan daerah pedalaman.

Semua berawal saat Arief kehilangan kamera di tahun 2012. Mahasiswa tingkat akhir jurusan pertanian Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) ini mendapatkan hadiah kamera dari sang pacar tetapi kemudian singkat cerita kamera itu hilang saat dipinjam adik sang pacar. Karena itu, Arief kebingungan padahal ia masih ingin memotret berbagai spesies burung endemik di Sulawesi yang unik karena seperti kita tahu Sulawesi dilewati oleh garis imajiner Wallacea sebagai penanda peralihan satwa-satwa khas Asia di sebelah kiri dan khas Australia di kanan.

Di Facebook, Arief yang kebetulan berteman dengan salah seorang fotografer dari negeri kanguru yang menyarankannya untuk segera mengunggah foto-fotonya ke Wikimedia. “Foto-foto kamu cukup langka,”kata teman dari negeri jiran itu pada Arief. Jadi ia mulai aktif mengunggah di Wikimedia Commons setelah kameranya itu hilang. Sebetulnya teman fotografernya itu menyarankan Arif untuk mengumumkan kampanye di situs crowdfunding Kickstarter.com dan Wikimedia Australia tetapi karena ia diharuskan mengumpulkan foto-foto burung di Australia (tidak boleh dari wilayah lain, termasuk Sulawesi), Arief pun mengurungkan niatnya.

Saya tanya apakah ia harus pergi dan menjelajah hutan-hutan untuk menemukan dan memotret semua burung khas Sulawesi itu, Arif menjawab,”Iya, harus masuk hutan di pedalaman.”

Permintaan untuk membeli kamera baru senilai US$ 6000 itu sempat ditolak oleh pihak Wikimedia Foundation yang berkedudukan di Amerika Serikat. Itu karena permintaan kamera baru diajukan atas nama satu individu, Arief, bukan atas nama sebuah organisasi. Wikimedia ingin agar benda yang ia sumbangkan tidak cuma berguna untuk satu orang saja dan menjadi milik pribadi yang justru bisa banyak digunakan untuk kepentingan selain memotret foto yang akan diunggah ke Wikimedia. Akhirnya, agar bisa disetujui Wikimedia Foundation, Arief mengatasnamakan sumbangan kamera nanti pada klub burung. Arief juga mengurangi nilai nominal harga kamera yang akan diminta, dari jumlah 6000 menjadi hanya 3000 dollar AS yang akan dibelikan sebuah kamera profesional dengan lensa tele untuk memotret dari kejauhan, plus 300 dollar untuk pengeluaran pelatihannya di Jakarta. Arief masih dianggap memerlukan pelatihan dalam mengunggah konten hasil jepretan itu ke Wikimedia karena ia masih baru dan selain itu, pengunggahan di Wikimedia memerlukan aturan main khusus agar konten bisa terorganisir dengan baik sehingga mudah dicari dan dipakai. Jangan sampai asal memasukkan dan nantinya sukar ditemukan kembali oleh siapa saja yang ingin mengakses. Dan ini lebih rumit daripada hanya sekadar menentukan kata kunci, tags dan kategori yang sesuai dan relevan seperti yang kita biasa gunakan dalam mengunggah konten di blog atau situs.

Meskipun mengaku bahwa memburu foto burung-burung langka Sulawesi hanyalah hobi, Arief tidak ragu merogoh kocek lebih dalam untuk memiliki buku-buku asli (bukan hasil fotokopi) dari luar negeri yang membahas tentang spesies-spesies burung di Indonesia. Buku-buku yang ditulis para ilmuwan dan ornitolog Barat itu tidak dilengkapi foto tetapi banyak ilustrasi detil yang kaya sekali dengan warna dan ciri-ciri fisik setiap spesies burung endemik.

Karena keunikan inilah, proyek yang diajukan oleh Arief mendapatkan persetujuan dari Wikimedia Foundation. Diharapkan dengan adanya fasilitas kamera tersebut nanti, Arief bisa terus berkontribusi secara rutin ke Wikimedia Commons, memberikan pengetahuan mengenai spesies-spesies burung khas pulau Sulawesi secara gratis kepada setiap orang di muka bumi, dari yang sudah terjangkau akses Internet sampai yang belum.

Dengan makin terancamnya spesies-spesies burung langka itu, jumlahnya juga menyusut dan tidak tertutup kemungkinan kamera itu akan dipakai untuk mendokumentasikan tidak cuma burung tetapi juga satwa lain dan lingkungan hidup pada umumnya.

Klub pengamat burung (bird watcher club) AV Birder yang diikuti Arief ini banyak menjelajah alam bebas dan jika perlu mereka menghabiskan malam di ruang terbuka. Untuk memotret sarang burung, bahkan mereka harus memanjat pohon yang demikian tinggi di hutan.

Mau seperti Arief? Bisa saja, karena semua orang bisa mengajukan permintaan bantuan untuk pelaksanaan proyek yang berkontribusi nyata dan positif bagi perkembangan Wikimedia dan upaya penyebarluasan ilmu pengetahuan tanpa pungutan kepada siapa saja. Proses pengajuan bisa dilakukan secara online dan transparan.

Daftar Buku Baru Minggu Ini

Komitmen saya untuk membaca buku yang sudah saya miliki dan menghabiskan sampai tuntas baru membeli yang baru ternyata susah dipertahankan. Sore tadi, beberapa menit sebelum jam kerja berakhir, saya menyelinap ke mall sebelah, sebuah pusat perbelanjaan yang konon penuh cinta, nuansa Korea (selatan), dan muda-mudi ceria atau eksekutif muda khas Jakarta. Inilah kelemahan berkantor di superblock, semuanya ada di satu tempat, baik bekerja dan menghabiskan dana. Sebuah keseimbangan ekonomi yang ideal; kerja banting tulang lalu dihabiskan di gerai-gerai dan ATM terdekat.

Buku-buku yang saya beli ini kebetulan dijual dengan harga diskon di toko buku “Periplus”. Katanya diskon menjelang perayaan tahun baru China alias Imlek.

Kenapa tidak beli buku elektronik saja ya? Kan lebih ringkas, lebih hemat kertas. Saya juga sempat tergiur membeli buku Jonathan Franzen via Google Play. Tetapi media pembayarannya lumayan rumit karena harus pakai kartu kredit. Saya cukup kolot dalam hal ini. If you can do it cash, why go cashless? Setidaknya sampai infrastruktur benar-benar siap terutama soal keamanan. Kalau melihat begitu mudahnya data kartu kredit dibobol oleh peretas (hacker) saat ini, rasanya cemas juga. Dan satu alasan lagi ialah kenapa saya harus menghabiskan waktu dengan menatap layar lagi hanya untuk membaca buku? Delapan jam lebih saya sudah memandang layar komputer. Setidaknya saya bisa memegang sesuatu yang bukan termasuk gadget bahkan jika itu ebook reader. Saya mau membawanya ke mana-mana tanpa takut terinjak atau tergencet di tas, atau karena tidak menemukan sumber listrik jika perangkat itu sudah ‘sekarat’.

MADRE
Harus saya akui saya jarang sekali membeli karya penulis fiksi Indonesia, tetapi untuk Dewi Lestari saya buat pengecualian. Sampai sekarang saya sudah ‘terhasut’ membeli Rectroverso. Dan sekarang Madre. Buku ini bukan buku yang didiskon tetapi ironisnya harganya paling murah dari yang akan saya sebutkan setelahnya: cuma Rp47.000. Satu cup kopi Starbucks dan kuenya juga tidak sampai semahal itu. Begitu membaca sinopsis di belakangnya saya cukup tertarik karena isi salah satu ceritanya dibuat film. Ada foto Vino Sebastian berambut gimbal memegang toples kaca bening. Dan kata “Tionghoa” dipakai di sini. Aneh.

THE ICARUS DECEPTION
Tulisan nonfiksi Seth Godin ini cukup menarik juga. Satu kalimat yang saya suka di sampul belakangnya:”It is better sorry than safe.” Damn, that’s such a bold remark! Harganya Rp156.000 (pasca diskon). Penulis dan pembicara yang berkepala botak ini dikenal dengan kalimatnya yang kocak, blak-blakan dan sarat makna. Saya sendiri suka membaca blognya di sethgodin.typepad.com. Sebenarnya buku ini memiliki kemiripan juga dengan konsep hiu lautan dan hiu kolam dari Antonius Tanan. Hanya saja Godin menggunakan metafora burung dan sangkar emas. Dan mengacu pada mitologi Yunani, kita pasti tahu bahwa Godin mencoba mengaitkan Icarus – yang ingin terbang setinggi-tingginya tetapi jatuh ke bumi setelah sayapnya meleleh karena konon terbang terlalu dekat dengan matahari – dengan burung yang terbiasa dipelihara lalu dibebaskan.

ULTIMATE GUIDE TO LINK BUILDING
Buku tulisan Eric Ward dan Garrett French tahun 2013 ini membahas tentang membuat jejaring tautan dalam web dengan tujuan utama memenangkan persaingan dalam mencapai posisi jawara di hasil pencarian Google. Membangun backlinks (tautan balik ke situs kita), mendapatkan peringkat mesin pencari yang lebih tinggi dan menaikkan reputasi dan popularitas situs adalah 3 pokok bahasan utama dalam buku ini. Harganya Rp209.000, cukup mahal memang tetapi anggap saja membaca buku ini adalah sebuah kursus pembelajaran dan praktik langsung, karena saya juga bergerak sehari-hari di bidang web dan konten.

WEB COPY THAT SELLS
Sebetulnya saya pernah melihat buku ini di bandara Hongkong tetapi untung saya belum beli. Tulisan Maria Veloso itu membahas web copywriting. Jangan paranoid mendengar kata “copywriting”, karena saya tidak akan lembur dan membanting tulang sekeras alm. Nita Diran yang meninggal tragis. Harga yang cuma Rp219.000 pasca diskon membuat buku bersampul kuning cerah ini layak diboyong ke rumah untuk dipelajari sebagai referensi jika ingin mengembangkan ketrampilan copywriting, bidang yang juga erat dengan apa yang saya kerjakan.

IT’S MY STARTUP
Bermula dari pertemuan di Startup Weekend beberapa tahun lalu, saya dan penulis buku ini – Lahandi Baskoro- tidak pernah menyangka kami akan bertemu lagi di kemudian hari. Kami sama-sama giat di jejaring sosial, dan mengetahui passion masing-masing: menulis. Meski batal menjadi teman kerja (kapan-kapan saya ceritakan), kami masih cukup akrab. Dan ia bersedia memberikan satu eksemplar buku tulisannya ini pada saya. Suatu hari saya juga ingin memiliki buku hasil karya sendiri dan memberikannya pada teman-teman dan orang-orang di sekitar saya. Sekilas membaca buku ini cukup bagus dari sisi pengetahuan, pengalaman dan motivasi. Lengkap bagi para entrepreneur muda yang ingin memperkaya wawasan.

Kudus, The New Bikini Bottom

What you see is supposed to be a dry bus terminal. The photo was uploaded by a friend of mine Thursday (23/1/2014).
What you see is supposed to be a dry bus terminal. The photo was uploaded by a friend of mine Thurday (23/1/2014).

My hometown Kudus has been notorious recently after getting inundated for days. Access to the smallest town in Central Java is cut off (but as of today has been recovered, says some sources on social media) resulting in the draining supply of fossil fuel. The rainfall has also been decreasing, the sun was shining today, which makes cleaning-up easier. Kudus was literally inaccessible by land as the main road got flooded and bridges broke down. My uncle who works as a teacher in Pati couldn’t find the way to get home on Friday. The bus station was officially closed as the water flew in the nearby area. I never heard flood at this ‘amazing’ scale before though I knew some part of Kudus is prone to this annual ‘natural disaster’.

But that’s what happened down there. People on the higher elevation suffered from another calamity: landslide.

And a heartfelt story behind the landslide appeared on press. Here we go:

Proses pencarian warga yang tertimbun tanah longsor di Duku Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah, masih terus dilakukan. Warga sekitar bersama tim Basarnas dan petugas gabungan menemukan dua korban lagi pada Minggu sore, 26 Januari 2014.

Korban diketahui bernama Mursidi, 45, dan ibunya, Rukmi, 75. Keduanya tertimbun longsor sedalam tiga meter tepat di titik lokasi rumah mereka.

Saat ditemukan, jasad Mursidi tengah memeluk ibunya yang masih mengenakan mukena. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa korban berusaha melindungi sang ibunda dari reruntuhan.

Usai dievakuasi, jenazah Mursidi dan Rukmi langsung dimakamkan di Pemakaman Dukuh oleh pihak keluarga.

Sementara itu total sudah 11 korban yang berhasil ditemukan. Selain Mursidi dan Rukmi, korban tewas akibat tanah longsor di Kudus yang sudah ditemukan antara lain, Asrori, Umiyanti, Ulfa, Karmudji, Istiqomah, Sulasmi, Ismawati, M Iwan, Suwodo.

Sementara itu istri Suwodo, Srikah masih belum ditemukan. Namun, akibat kondisi yang tidak memungkinkan di lokasi kejadian, pencarian jasad Srikah dilanjutkan Senin besok, 27 Januari 2014. (source: news.viva.co.id)

The bottom line is someone died with his mother and he was found protecting his mother, while the elderly was praying. My father told me there was a colleague of his died, buried just all of a sudden also here. But I don’t know which one he meant.

As mentioned by BBC Indonesia (25/1/2014), Kudus has been severely hit by the flood. Of 9 districts, there are 6 badly affected by the unusually heavy rainfall, causing almost 14,000 people to refuge and the number is on the rise still unless the weather gets warmer and drier. BBC Indonesia cited the weather forecast that Kudusand the neighboring towns will still have to be alert.

Update (18:20, January 27)
The access is gradually normal. The height of flood around the bus terminal is much lower so it is safer for buses but not for motorbikes or sedans. It takes 3 hours and a half to get to Semarang from Kudus via Welahan, Jepara, the alternative route.

It’s January, Time for Jakarta to Catch up with Venice

But you cannot find any gondolas around the city…

Only rafts or tons of trash drifting along the streams or sewage.

As usual, January has always been the best time to swim as the rainfall is reaching its peak. It should have been fun if there were no risks of leptospirosis or no snakes involved.

So last Thursday (23/1) I was assigned to be on the field to cover the corporate’s social responsibility campaign and there were around 20 of us, spreading 8 cars filled with disinfectant, mop, blanket, formula milk, instant noodles, etc.

The morning trip was as chaotic and stressful as hell. We followed the wrong person when we felt pretty sure this man would show us the right way. It turned out he asked us to get employed in the company. And he misled us somewhere else.

It wasn’t raining as hard as before, luckily. So we could reach the given place at the right time, without losing the right moment of taking pictures (but no selfies in fear of being called “morally insensesitive and unempathic”).

We got back to the “Rumah Saya”, a base camp belonging to Joko Widodo’s supporters. It’s not that the company is politically affiliated with a certain party or political figures but that’s because it’s one of the channels known to be most intensively built with many volunteers ready to lend a hand.

As we got to Jagakarsa, there was no sign of flood. Some people we met on the way said,”There is no more flood here.” But as we talked further, we found out the flood may hit at night, as the donwpour is likely to fall at night or early morning when people are still asleep.

Afterwards, we were taken by one of the local volunteers who provided shelter at her dry home to Setu Babakan, a man-made lake or reservoir. It is the point where the streams from Parung and Depok flow to the bay of Jakarta.

She told us how the bushy area of Jagakarsa, which formerly was an area filled with trees of fruits, is now turned into an area of housings. Needles to say…

image
We visited one of the houses filled with refugees. And one elderly passed away, the corpse was temporarily placed on a divan and separated only with a sheet of fabrics.

image
The whiteboard tells us the damage scale, like how many houses are damaged, how many died, injured or stranded.

image
One of the cars loaded with supplies arrived already in front of the posko (post of refugees). No money is given because cash is too prone to misuse. You can’t believe in anyone when it comes to free stuff distribution.

image
Governor Joko Widodo frequently visits Setu Babakan, says the volunteer.

image

“Setu” means lake in the regional language.

Reporter, One of the Most Stressful Jobs

If you’re a journalist, chances are you won’t jump with shock after reading this news. As stated by Chad Brooks (a BusinessNewsDaily contributor), some recent study indicated that being a reporter is one of the most stressful jobs ever in the year of 2014.

That’s not new. At all. After all these years, I have been directly experiencing this sort of job and I can tell you it goes without saying, or scientific research in this very case.

This research conducted by CareerCast shows us that occupations that pose highest risks like soldiers and fire brigades are some of the most excruciatingly stressful occupations one can have. But stress may also come from not only physical lethal threats but also psychological pressure from systems and workplace. This is where reporters belong, along with PR staff, event coordinators. Blame it all on inhumanely tight deadlines and extreme pursuit of perfection and prone to public humiliation once they make mistakes.

And to add, I may also include copywriters! As we all know, they work like slaves days and nights only to meet demanding clients’ requests and tell them that the draft must be revised as fast as possible, or else they’ll lose their jobs or at least earnings. Mita Diran, an Indonesian copywriter, died tragically and untimely at 27 after working overtime for 3 consecutive days. She drank softdrink to stay awake and didn’t eat and didn’t even take a nap in fear of letting down the dear clients. Diran’s death has been blown up by the media as we all know she worked for an overseas adverseas company.

Determining the amount of stress a worker experiences can be predicted, in part, by looking at the typical demands and crises inherent in the job. CareerCast’s ranking system for stress considered 11 different job demands that can be expected to evoke stress, including amount of travel, growth potential, deadlines, working in the public eye, competitiveness, physical demands, environmental conditions, hazards encountered, own life risk, life of another at risk and meeting the public.
In spite of the fact that being a REAL reporter (who hunts direct sources on field) is challenging, I need to say that picking news articles and rewriting or paraphrasing them all without investigating or interviewing is already an arduous task. So when you know how much these reporters get paid, you should be surprised.

Especially for those who work for online media, reporters are like machines, softawares that can spin tons of articles a day, resulting more hits, pageviews and at last revenues to corporates. They keep doing monotonous tasks they don’t feel like doing.

Berapa Kali Idealnya Frekuensi Latihan Yoga?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak bisa dijawab dengan satu jawaban yang pasti dan baku karena saya yakin bahwa setiap orang melakukan yoga dengan tujuan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Bagi saya, yoga tidak perlu dilakukan setiap hari karena tubuh saya memerlukan istirahat dan meskipun yoga baik untuk tubuh, saya tidak mau sampai berlebihan karena apapun yang berlebihan sekalipun bermanfaat akan memberikan imbas negatif juga. Saya hanya ingin keseimbangan. Jadi saat tubuh saya ‘menjerit’ ingin rehat, saya tidak akan memaksanya ikut kelas yoga yang terlalu menguras tenaga.

Akan tetapi ada juga teman-teman yang berlatih setiap hari, bahkan dua kali sehari untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya menyempurnakan pose-pose mereka, berlatih sendiri karena diberi tugas oleh guru saat pelatihan atau setelah workshop, dan sebagainya. Seorang teman, misalnya, sedang berniat membuat headstandnya lebih baik lalu berlatih setiap hari untuk membuat tubuhnya lebih kuat melakukan headstand. Atau satu lagi yang ingin membuat hanumasananya lebih sempurna.

Lalu manakah yang benar? Semua benar menurut kondisi masing-masing. Tidak ada yang bisa mencegah kita melakukan apa yang kita yakini benar, kecuali saat kita sudah merasa nyaman, baik secara fisik (cedera) dan psikologis (iri berlebihan karena seseorang tidak bisa Anda ‘kalahkan’ kelihaian berasananya).

Itu menurut saya. Lain halnya dengan jawaban guru yoga Deera Dewi yang memaparkannya di sela kelas yoganya yang saya ikuti kemarin.

Ia mengatakan latihan yoga bisa dilakukan tiap hari, bahkan dua (2) kali dalam sehari.

Latihan bisa dilakukan di pagi hari dengan meditasi dan pose-pose yang memberikan energi (energizing) pada tubuh kita. Asana-asana jenis backbend bagus untuk memberikan semangat dan membuat kantuk sirna. Inversion efektif untuk membuat peredaran darah di otak bagus. Pose-pose twisting membuat proses detoks lebih lancar di pagi hari saat tubuh harus membuang zat-zat racun. Pose-pose berdiri juga baik untuk dilakukan di pagi hari untuk meningkatkan fokus sebelum memulai kegiatan sehari-hari, misalnya pose pohon (vrksasana/ tree pose).

Sementara itu latihan yoga di sore hari menurut Deera perlu menekankan pose-pose “restorative”, yang artinya asana-asana dan teknik pranayama yang memberikan efek menenangkan tubuh setelah kelelahan seharian beraktivitas sejak pagi.

Jadi berapa sering Anda harus beryoga? Hanya Anda yang bisa menjawabnya. Yang penting, ketahui apa yang Anda butuhkan.

Bukti Nyata Orang Gemuk Juga Bisa Lentur

Sudah kenyang rasanya saya mendengar komentar seperti:”Kamu enak ya, badannya kurus jadi lebih lentur, pelintar pelintir, jumpalitan ke sana kemari!”

Dan satu lagi, biasanya diucapkan oleh mereka yang diajak latihan yoga:”Ah aku kan gemuk gini, mana mungkin bisa fleksibel kayak kamu yang kurus?”

There’s always an exception…

Dan inilah pengecualian itu. Namanya Catur dan saya baru saja mengenalnya tadi pagi dalam kelas yoga yang diajar Deera Dewi.

Lihat saja fotonya dalam pose urdhva dhanurasana/ kayang/ wheel pose di bawah ini. Berat saya mungkin setengah berat badan Catur dan ia memiliki tingkat kelenturan tubuh yang luar biasa untuk orang dengan bentuk tubuh ‘berbobot’. Otot tubuh depannya tampak teregang maksimal (mungkin karena ia berlatih dengan rajin), dan bahu serta dada terbuka dan sangat lentur, dengan kedua kaki yang terjaga jarak kerapatannya. Anda bisa ketahui seseorang sudah melakukan kayang dengan benar atau belum dengan mengamati posisi bahu dan lengan yang lurus (tidak melengkung), dada terbuka maksimal, paha yang sejajar satu sama lain dan kokoh ke atas, dan 2 telapak kaki paralel selebar pinggul (tidak membuka terlalu lebar).

Dalam beberapa kasus, memang ada orang-orang yang tampaknya obesitas tetapi sebetulnya mereka bergaya hidup sehat dan aktif secara fisik. Mereka tampak berbobot karena tipe badan yang secara alami seperti itu dan tidak bisa lagi diubah dengan cara apapun. Namun, yang patut dihargai adalah konsistensi dan tekad yang tinggi untuk tetap berlatih dan bergaya hidup sehat meski lemak tidak kunjung luruh.

Masih ada alasan untuk tidak beryoga karena gemuk dan tidak fleksibel seperti rekan-rekan Anda yang langsing?

Ketukan Tanpa Wujud Itu Ternyata..

Setelah eksodus besar-besaran ke lokasi kantor baru, semua orang tidak pernah mengunjungi kantor itu lagi kecuali hanya untuk memarkir kendaraan. Setelah beberapa cerita yang membuat bulu kuduk berdiri beberapa waktu lalu, terungkap kembali satu kisah nyata.

Seorang kepala sekuriti suatu petang hendak menunaikan ibadah solat Maghrib di musholla kantor itu. Seperti biasa, suasana sepi. Hanya ada beberapa petugas di pos masing-masing. Dan sebagian besar berada di depan, entah itu hanya untuk bermain catur, berceloteh satu sama lain, menikmati lalu lalang kendaraan, atau menyeduh kopi di tengah turunnya suhu Jakarta.

Sendirian sang kepala sekuriti melangkahkan kakinya ke dalam musholla, melewati bagian tengah kantor yang agak gelap. Sampai di musholla yang dindingnya makin lembab saja di puncak musim hujan itu, ia mengambil air wudhu. Sholat pun mulai ditunaikan

Takbir pertama, semua terkendali. Tetapi kondisi sekitar yang sepi sekali tak pelak membuat pria itu sedikit berimajinasi dalam sholatnya. “Sepertinya ada yang aneh,”pikir bapak sekuriti itu. Mulailah bulu kuduk merinding.

Takbir kedua, ia mulai menerawang sembari membayangkan makhluk selain manusia yang berada di dekatnya. Sedang berusaha khusyuk di tengah ibadah, ia mendengar suara ketukan di daun pintu musholla. “Oh, ada yang mau ikut sholat rupanya,”ia membatin. Tetapi tak kunjung ada orang masuk setelah pintu diketuk.

Sholat selesai dan ia pun menengok ke koridor di luar pintu musholla. Sepi…

Waktu luang masih banyak, dan ia kemudian menyempatkan diri sholat sunnah ba’diyah setelah berdoa dan membaca ayat Kursi.

Kesepian kembali mencekam.

Dan sekonyong-konyong,”Tok tok tok..!” Suara ketukan itu kembali menggema di ruang musholla yang berada di dekat hutan kecil.

Bulu kuduknya seketika berdiri begitu membuka pintu.

Koridor itu lengang…

Jika itu anak buahnya, pasti ada suara langkah kaki atau suara lain. Tetapi ini begitu tenang. Jika itu manusia, suara beradunya sol sepatu atau alas kaki apapun dengan lantai tidak bisa dihindari, sehalus apapun. Lorong pantry yang menyambung ke musholla itu seolah beku dan bisu.

The Unknown Power of Social Media #headlineoftheday

She approached me, then sat next to me only to ask,”Are you a vegan?”

To note, I have no idea what made her say that. I know nothing about her. Absolutely nothing. Even I just found out her name this morning.

I smiled upon this with utter disbelief. Maybe she asked someone else around me. But I was quite sure she asked me as she mentioned my name, too. To make things worse, I never knew her being a manager at the office. I was completely uninformed about who she was. All I know is that she works at a different subsidiary. So it is no wonder that we hardly ever meet or speak with each other.

Until now…

Vegan? Did I once declare I myself am a vegan in front of her? No. So how did she arrive to the conclusion?

She explained,”I saw you following @alterjiwo, looks like it’s fun to eat no meat, only plant-based diet.”

For your information, @alterjiwo is a Twitter handle of Janti Soewignjopranoto, an evangelist of healthy and clean eating. Her feeds on Instagram are mostly about clean eating and healthy organic plant-based diet.

And this woman happened to know my being @alterjiwo’s follower and assumed accordingly that I’m a fan of vegan diet. But I shook my head,”No, not really vegan. But I try to eat more veggies and fruits whenever and wherever I can. No more red meat, with occasional white meat consumption.” You’ll never know what social media does to your future.

Life in Extraction: What’s Your #HeadlineoftheDay ?

Life is like newspapers. Every single day, readers would find a headline printed in bold on the front page and are more likely to read it first than other pieces of news. So a headline definitely determines the mood of an entire day of its readers. There may be a great deal of good news around but when the headline is bad, you can tell it ruins the readers’ overall mood on that particular day.

So what’s your headline for today? Mine could read like this:

“Miscalculation at Work that Leads to Deadly Vengeance”

That more or less can sum up the mood of my day.

Let me know yours. It is like a contest when you have to title every page of your recount kept in a personal diary. Have fun!

%d bloggers like this: