Mengenal Wikipedia dan Wikimedia Commons

image

Sebagai pengguna Internet, siapa yang tidak akrab dengan nama “Wikipedia.org“? Saat panik mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah di detik-detik terakhir, sering kita menggunakan (baca: menyalin tempel) sumber-sumber dari Wikipedia yang lebih mudah diakses secara daring dengan satu kali klik di laptop atau ponsel pintar daripada ke perpustakaan terdekat untuk mencari-cari informasi yang diperlukan dalam ratusan ensiklopedia tebal yang biasanya penuh debu karena sekian lama terpajang tanpa disentuh. Atau jika punya satu set di rumah, tumpukan ensiklopedia mahal itu hanya menjadi pemanis ruangan belaka agar citra intelek si pemilik rumah atau ruangan terpancar.

Saat di kampus dulu, saya juga sempat menyukai Wikipedia karena aksesnya yang mudah dan relatif terorganisir sehingga mudah mencari sumber untuk tulisan atau makalah. Namun, satu ucapan dari dosen saya Sapardi Djoko Damono adalah “Ah, yang di Wikipedia itu ngawur!” Konteks ucapan itu adalah saat kami mahasiswa beliau menyinggung tentang keabsahan konten Wikipedia sebagai sumber. Intinya adalah beliau kurang yakin bahwa Wikipedia mampu memberikan informasi dan pengetahuan yang bisa diandalkan keabsahannya. Perlu diketahui kala itu tahun 2007, jadi kita semua tahu saat itu Wikipedia Bahasa Indonesia masih dirintis. Dan yang tak beliau ketahui, akademisi dan pakar dengan pengetahuan dan pengalaman seperti beliau semestinya turut ikut serta menyumbangkan pengetahuannya dan jika memang ada yang kurang valid dalam artikel Wikipedia, ia mesti terpanggil untuk membetulkannya. Tetapi itu mungkin karena beliau, dan juga masih banyak orang di luar sana, yang menganggap konten Wikipedia hanya bisa ditulis oleh kalangan terbatas, padahal siapa saja boleh dan dipersilakan ikut serta.

Inilah konsep “open source” yang menurut saya masih asing dalam dunia pendidikan kita. Kita masih feodal, jujur saja. Guru atau dosen atau buku yang diterbitkan adalah sumber-sumber pengetahuan yang bisa dipercaya. Selain itu? Tidak! Guru dan dosen duduk di posisi tinggi dan memberi, siswa dan pembelajar di posisi rendah dan menerima. Kini dengan Wikipedia dan Wikimedia, semua setara, tak peduli Anda guru atau siswa, semuanya pasti memiliki pengetahuan yang bisa disumbangkan. Guru memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki murid tetapi dalam sejumlah kasus, siswa malah memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih dalam tentang bidang atau topik tertentu. Singkatnya, semua bisa saling mengisi kekurangan yang lain.
image

Dalam pekerjaan sehari-hari sebagai jurnalis digital, saya juga banyak mengakses situs-situs yang bernaung di bawah Wikipedia Foundation ini. Jujur saja, saya juga lebih banyak tahu mengenai Wikipedia daripada proyek lain yang menggunakan kata Wiki sehingga saya kadang bingung. Wikimedia itu apanya Wikipedia? Sama atau berbeda?

Dalam pelatihan yang berlangsung Sabtu (11/1) di markas Wikimedia di Thamrin Residences Jakarta dari pukul 11 sampai sekitar pukul 13.15 , mantan Presiden Wikimedia Australia John Vandenberg dengan didampingi Isabella Apriyana, Wakil Sekjen Dewan Pengurus Wikimedia Indonesia, berbagi tentang hal-hal yang terkait dengan cara berkontribusi ke Wikimedia, situs yang serupa Wikipedia tetapi khusus memuat file-file multimedia seperti foto, video, dan sebagainya. Di kesempatan tersebut, baru dibahas kontribusi foto karena keterbatasan waktu. Tidak ketinggalan, kami (3 peserta yang datang dari 6 yang sudah mendaftar via surel) juga diberikan kabar terbaru tentang hal-hal yang tengah dirintis dan dilakukan oleh Wikimedia dan bagaimana setelah ini kami bisa berkontribusi lebih lanjut.

Pertama-tama, apa itu Wikimedia? Semua orang lebih banyak mengenal Wikipedia tetapi Wikimedia masih asing. Menurut Isabella, Wikimedia didirikan dari inisiatif para relawan, telah berdiri sejak 2008 dengan 19 pendiri dan relawan yang aktif di Wikipedia bahasa Indonesia. Mereka ini adalah orang-orang yang rajin menulis dan menyunting di Wikipedia. Kemudian dirasakan perlunya suatu perkumpulan legal yang dirasa perlu untuk mencapai visi membebaskan pengetahuan bagi semua orang. Jadi Wikipedia Indonesia dan Wikipedia Indonesia sebetulnya berbeda. “Wikimedia adalah perkumpulannya, dan Wikipedia Indonesia adalah salah satu proyek yang didukung Wikimedia Indonesia. Selain Wikipedia bahasa Indonesia kita juga bekerja di proyek-proyek berbasis Wiki lainnya. Wiki sendiri adalah program digital yang bisa diakses semua orang. Ada juga platform lain seperti Wikimedia Commons. Wikimedia Commons berbasis gambar sementara Wikipedia berbasis tulisan, teks layaknya ensiklopedia. Semua orang bisa mengunggah, disunting juga, karena bebas hak cipta karena kami mendukung upaya membebaskan pengetahuan dengan cara mengunggah konten-konten yang bebas hak cipta agar bisa diakses setiap orang. Adapun Wiktionary bentuknya serupa kamus tetapi bisa diedit bersama, “jelas Isabella panjang lebar.

Mungkin yang muncul di benak kita adalah pertanyaan:”Mengapa berkontribusi ke Wikimedia itu penting?” Lain dari kontribusi ke Wikipedia yang lebih didominasi teks, kontribusi ke Wikimedia Commons seperti yang sudah saya singgung tadi adalah file-file multimedia, sehingga meskipun ada teks, itu berupa deskripsi dan judul saja, bukan pemaparan panjang lebar dalam Wikipedia. Karena itulah, pelatihan Wikimedia memang sepatutnya dihadiri oleh para fotografer (baik profesional dan amatir) yang ingin menyumbangkan hasil karyanya kepada kemaslahatan publik. Dengan kata lain, sesuai misi dan visi Wikipedia Foundation, pengetahuan dan informasi sepatutnya disebarkan secara bebas tanpa pungutan pada siapa saja. Tak ada diskriminasi, semua sama di sini. Setiap orang bisa berkontribusi, bahkan mereka yang tak memiliki akun Wikimedia pun masih bisa menyunting atau mengoreksi. Hal itu saya ketahui dari John yang mengatakan setiap pengunjung baik anggota yang terdaftar di Wikimedia atau tidak bisa mengunggah dan menyunting konten di dalamnya. Tidak ada perbedaan wewenang dari mereka yang berstatus anggota dan pengunjung. Lalu saya bertanya,”Bagaimana kalau ada yang membuat perubahan yang tidak benar atau tidak sesuai kenyataan?” John menjawab,”Kami menganggap pada dasarnya semua orang adalah orang dengan itikad yang positif dan baik. Tetapi jika ditemukan pengguna yang menyunting isi konten dengan niat jahil atau yang sejenisnya, kami bisa blokir sementara (untuk sehari) dari IP yang ia gunakan.” Kebanyakan pengguna jahil seperti ini bukan berasal dari peretas tetapi dari anak-anak sekolah yang iseng dan mengubah konten demi memuaskan rasa ingin tahu. Jika menggunakan IP yang sama di hari berikutnya, pemblokiran sudah dicabut, ujar John. Sekolah-sekolah di Australia memang menggunakan Wikipedia sebagai sarana belajar, jadi tidak heran murid-murid di sana didorong untuk juga berkontribusi, tidak cuma menjadi konsumen. Isabella mengatakan Wikimedia juga ingin menyasar ke sekolah-sekolah, mengikutsertakan para murid untuk ikut aktif menyumbangkan informasi yang mereka miliki pada Wikimedia agar bisa diakses semua orang dengan koneksi Internet di seluruh dunia tanpa pungutan. “Kami pernah melakukannya dengan Universitas Bina Nusantara. Dosennya mengetahui apa yang kami lakukan sehingga ia mengajak para mahasiswanya untuk menulis di Wikipedia dan menjalani pelatihan yang cukup sulit karena mereka harus belajar bahasa coding (kode pemrograman- pen). Sekarang sudah disederhanakan, jadi tampilannya seperti dasbor saat menulis blog. Misalnya saat mau menulis karakter tebal tinggal klik tidak perlu mengetikkan koding-nya,” ujar Ibelle, sapaan akrab Isabelle.

Langkah pertama berkontribusi ialah menjadi anggota. Untuk mendaftar, buka situs Wikimedia Commons. Namun, jika tidak memiliki banyak waktu untuk mendaftar, tak masalah karena Wikimedia masih bisa melacak IP (Internet Protocol) yang kita gunakan. Jadi kita bisa melacak hasil suntingan dan unggahan dari angka IP. Dan bagi mereka yang tidak mau jati dirinya terungkap, menggunakan email untuk mendaftar juga biasanya dihindari agar susah dilacak. Menurut John, itu dilakukan banyak guru sekolah karena mereka tidak mau anak didiknya meninggalkan jejak di dunia maya karena risiko cyber bullying, Tetapi sekali lagi kenapa harus takut terlacak kalau kita beritikad baik? Malah dengan mendaftar kita bisa menunjukkan keaktifan sebagai Wikipediawan atau Wikimediawan.

Selama pelatihan, kami bertiga diajari bagaimana membuat kategori yang baik, menyunting file unggahan yang sudah ada, mengembangkan file unggahan yang ada agar menjadi lebih fokus dengan memotong (crop) bagian foto yang ingin dibahas lebih spesifik. John mencontohkan bagaimana kita bisa menyunting/ mengedit konten yang sudah ada agar lebih spesifik dengan memotong bagian gambar yang sudah diunggah pengguna lain ke Wikidata. Misalnya seseorang hendak menjelaskan lebih terperinci mengenai tanduk rumah tradisional Batak dengan memotong foto rumah tradisional Batak khusus di bagian tanduk saja lalu menambahkan nama dan deskripsi yang hanya beberapa kalimat saja. Tidak perlu serinci pada Wikipedia, terang John.
image

Isabella lebih lanjut menjelaskan di tahun 2014 ini Wikipedia sedang memulai digitalisasi satu set ensiklopedia Indonesia yang sudah bebas hak cipta karena sang penulis sudah meninggal dunia. Dan untuk itu, ia bersama yang lain tengah melakukan pemindaian halaman per halaman itu agar informasi di dalamnya bisa diunggah ke Wikimedia dan Wikipedia. Satu mesin pemindai buku khusus pun didatangkan dari Latvia.

Terus terang saya sempat terkejut dengan pernyataan John yang intinya mempersilakan orang mengambil keuntungan dari konten Wikimedia dan Wikipedia. “Jika Anda mau mencetak dan menjual kontennya, silakan saja,”katanya dalam bahasa Inggris aksen benua kanguru. Isabelle menambahkan siapa saja boleh menjual konten Wikimedia yang sudah dicetak pada mereka yang TIDAK memiliki koneksi Internet (ingat misi bebaskan pengetahuan), tetapi dilarang memperjualbelikan konten itu bagi pihak lain dalam dunia digital, yaitu mereka yang SUDAH terkoneksi dengan dunia maya. Saya pikir saya salah dengar atau salah memahami ucapannya. Mana mungkin hasil kerja keras seperti itu dibiarkan saja untuk dimanfaatkan secara komersial? Tetapi kemudian saya yakin memang itu yang ia katakan setelah hari berikutnya Siska Doviana, istri John sekaligus Direktur Pelaksana Wikimedia Indonesia, mengatakan hal yang sama.

Masalah yang masih dihadapi dalam Wikimedia ialah belum adanya kontribusi untuk menerangkan jalan-jalan protokol, halte bus, rute busway, dan sebagainya di kawasan jantung bisnis dan pemerintahan ibukota seperti jalan Sudirman dan Thamrin. Ia bandingkan dengan Sydney yang lebih kecil jalannya dari kedua jalan besar ibukota itu. “Informasi untuk kawasan pusat bisnis Sydney relatif lebih lengkap. Semua nama ruas jalan, bangunan, halte bus dan arah dan rute kendaraan umum, semua sudah ada dan lengkap. Di Indonesian tidak ditemukan sama sekali,”keluhnya. Padahal informasi itu cukup penting bagi mereka yang ingin berkunjung ke daerah tersebut pertama kalinya. Sementara tentang Wikipedia bahasa Indonesia, menurut John masalah utamanya ialah sangat kurangnya pasokan artikel yang berkualitas (bukan artikel copy paste dari situs lain dan memiliki minimal 5 sumber). Tidak jarang ditemukan lebih banyak artikel-artikel yang bersifat hiburan (bertema artis Korea, boyband K-pop) dibandingkan topik-topik yang lebih serius lainnya di Wikipedia bahasa Indonesia. Untuk konten yang lebih informatif dan edukatif, kuantitas dan kualitas masih harus ditingkatkan.

2 Comments

Filed under writing

2 responses to “Mengenal Wikipedia dan Wikimedia Commons

  1. Thanks Mas Akhlis sudah berbagi cerita. Saya dulu sempat bermaksud mengunggah gambar foto untuk melengkapi sebuah artikel mengenai mobil dinas, tetapi mengalami kesulitan karena tidak familiar dengan interface-nya.

    • Sama-sama. Kalau mas Cahyo pakai ponsel Android, cari di Google Play, ada aplikasi Wikimedia Commons yang bisa diunduh dan dipakai. Jadi langsung jepret dan tidak serumit di web. Coba deh!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s