Arief Rahman: Dari Fotografer Satwa Hingga Kontributor Wikimedia Indonesia

image

Arief Rahman (baca profilnya di sini), seorang fotografer muda dari Manado, Sulawesi Utara, menjadi alasan utama mengapa pelatihan Wikimedia dan Wikidata kali ini diselenggarakan. Mengapa? Karena ia akan menerima hibah kamera profesional dari Wikipedia Foundation yang nantinya akan berguna untuk mengabadikan berbagai spesies burung khas Sulawesi di berbagai hutan dan daerah pedalaman.

Semua berawal saat Arief kehilangan kamera di tahun 2012. Mahasiswa tingkat akhir jurusan pertanian Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) ini mendapatkan hadiah kamera dari sang pacar tetapi kemudian singkat cerita kamera itu hilang saat dipinjam adik sang pacar. Karena itu, Arief kebingungan padahal ia masih ingin memotret berbagai spesies burung endemik di Sulawesi yang unik karena seperti kita tahu Sulawesi dilewati oleh garis imajiner Wallacea sebagai penanda peralihan satwa-satwa khas Asia di sebelah kiri dan khas Australia di kanan.

Di Facebook, Arief yang kebetulan berteman dengan salah seorang fotografer dari negeri kanguru yang menyarankannya untuk segera mengunggah foto-fotonya ke Wikimedia. “Foto-foto kamu cukup langka,”kata teman dari negeri jiran itu pada Arief. Jadi ia mulai aktif mengunggah di Wikimedia Commons setelah kameranya itu hilang. Sebetulnya teman fotografernya itu menyarankan Arif untuk mengumumkan kampanye di situs crowdfunding Kickstarter.com dan Wikimedia Australia tetapi karena ia diharuskan mengumpulkan foto-foto burung di Australia (tidak boleh dari wilayah lain, termasuk Sulawesi), Arief pun mengurungkan niatnya.

Saya tanya apakah ia harus pergi dan menjelajah hutan-hutan untuk menemukan dan memotret semua burung khas Sulawesi itu, Arif menjawab,”Iya, harus masuk hutan di pedalaman.”

Permintaan untuk membeli kamera baru senilai US$ 6000 itu sempat ditolak oleh pihak Wikimedia Foundation yang berkedudukan di Amerika Serikat. Itu karena permintaan kamera baru diajukan atas nama satu individu, Arief, bukan atas nama sebuah organisasi. Wikimedia ingin agar benda yang ia sumbangkan tidak cuma berguna untuk satu orang saja dan menjadi milik pribadi yang justru bisa banyak digunakan untuk kepentingan selain memotret foto yang akan diunggah ke Wikimedia. Akhirnya, agar bisa disetujui Wikimedia Foundation, Arief mengatasnamakan sumbangan kamera nanti pada klub burung. Arief juga mengurangi nilai nominal harga kamera yang akan diminta, dari jumlah 6000 menjadi hanya 3000 dollar AS yang akan dibelikan sebuah kamera profesional dengan lensa tele untuk memotret dari kejauhan, plus 300 dollar untuk pengeluaran pelatihannya di Jakarta. Arief masih dianggap memerlukan pelatihan dalam mengunggah konten hasil jepretan itu ke Wikimedia karena ia masih baru dan selain itu, pengunggahan di Wikimedia memerlukan aturan main khusus agar konten bisa terorganisir dengan baik sehingga mudah dicari dan dipakai. Jangan sampai asal memasukkan dan nantinya sukar ditemukan kembali oleh siapa saja yang ingin mengakses. Dan ini lebih rumit daripada hanya sekadar menentukan kata kunci, tags dan kategori yang sesuai dan relevan seperti yang kita biasa gunakan dalam mengunggah konten di blog atau situs.

Meskipun mengaku bahwa memburu foto burung-burung langka Sulawesi hanyalah hobi, Arief tidak ragu merogoh kocek lebih dalam untuk memiliki buku-buku asli (bukan hasil fotokopi) dari luar negeri yang membahas tentang spesies-spesies burung di Indonesia. Buku-buku yang ditulis para ilmuwan dan ornitolog Barat itu tidak dilengkapi foto tetapi banyak ilustrasi detil yang kaya sekali dengan warna dan ciri-ciri fisik setiap spesies burung endemik.

Karena keunikan inilah, proyek yang diajukan oleh Arief mendapatkan persetujuan dari Wikimedia Foundation. Diharapkan dengan adanya fasilitas kamera tersebut nanti, Arief bisa terus berkontribusi secara rutin ke Wikimedia Commons, memberikan pengetahuan mengenai spesies-spesies burung khas pulau Sulawesi secara gratis kepada setiap orang di muka bumi, dari yang sudah terjangkau akses Internet sampai yang belum.

Dengan makin terancamnya spesies-spesies burung langka itu, jumlahnya juga menyusut dan tidak tertutup kemungkinan kamera itu akan dipakai untuk mendokumentasikan tidak cuma burung tetapi juga satwa lain dan lingkungan hidup pada umumnya.

Klub pengamat burung (bird watcher club) AV Birder yang diikuti Arief ini banyak menjelajah alam bebas dan jika perlu mereka menghabiskan malam di ruang terbuka. Untuk memotret sarang burung, bahkan mereka harus memanjat pohon yang demikian tinggi di hutan.

Mau seperti Arief? Bisa saja, karena semua orang bisa mengajukan permintaan bantuan untuk pelaksanaan proyek yang berkontribusi nyata dan positif bagi perkembangan Wikimedia dan upaya penyebarluasan ilmu pengetahuan tanpa pungutan kepada siapa saja. Proses pengajuan bisa dilakukan secara online dan transparan.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s