Kisah Si Pencari Mayat Nomor 89

Sebagai seseorang yang terlahir di era 1980-an, salah satu sarana hiburan yang paling mengasyikkan adalah menonton bioskop. Dan kala itu, hal yang paling berkesan adalah mengunjungi sebuah gedung bioskop kecil di kecamatan lain yang hanya memuat beberapa puluh orang dan gelap gulita tidak senyaman ruangan 21. Film yang saya tonton di antaranya adalah sebuah film yang bertema tragedi Bintaro. Yang saya ingat hanyalah tangisan, rel kereta api , dan semacamnya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah tragedi Bintaro II tanggal 9 Desember 2013. Korbannya cukup banyak (6 korban jiwa,menurut Tempo) dan terdiri dari sejumlah perempuan karena kebetulan gerbong depan dekat dengan lokomotif, yang bertabrakan langsung dengan truk tanki bahan bakar Pertamina. Pemberitaan di media begitu intens. Di TV ada, di media online juga banyak bertebaran.

Tetapi semua informasi itu dipandang dari sudut pewarta dan jurnalis, yang hambar, relatif tanpa emosi, dan cuma membeberkan fakta, meskipun pada kenyataannya ada media yang mengeksploitasi unsur emosi ini untuk menggenjot popularitas medianya sendiri dengan mencari sudut pemberitaan yang lebih mengaduk-aduk emosi, sebuah titik lemah yang dimiliki semua manusia normal dan waras.

Tidak sengaja saya menemukan kisah tragis dari insiden yang terjadi di tempat yang sama: Bintaro. Hanya saja, kecelakaan ini sudah terjadi 27 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 19 Oktober 1987.

Begini cerita bapak kos saya.

Saat itu hari Sabtu. Adiknya berkunjung ke tempat tinggalnya di Jakarta. Sang adik berkata akan pulang di hari Minggu dengan naik kereta.

Hari Senin, ia berkumpul di meja kerja bersama atasannya hanya untuk melipat kain batik yang harus dijual sambil mendengarkan siaran beriat terkini di radio. Saat itu anak bosnya yang bisa berbahasa Sunda berceletuk,”Tuh Man, kereta api Rangkasbitung tabrakan di Bintaro, banyak yang meninggal!” Seketika ia merasa terkejut tetapi ia masih menyanggah bahwa sang adik sudah pulang pada hari Minggu, jadi tidak mungkin adiknya kena musibah. Tidak mungkin hari Senin, meski dalam hati ia merasa ragu dan cemas. Mendengar itu ia memutuskan pada sore harinya ingin menengok sang adik yang tinggal di Pondok Pinang. Belum sempat melangkahkan kaki ke sana, ia sudah dihampiri seorang teman kerja sang adik yang mengatakan dua adiknya mengalami kecelakaan di kereta api yang sama tetapi tidak dikatakan secara persis kondisi keduanya, apakah selamat, luka-luka atau sudah tewas.

Saat ia pergi mengunjungi TKP Tragedi Bintaro I saat itu, kondisinya sudah kacau balau. Sangat banyak orang di tempat naas tersebut.

“Bau mayat bergelimpangan bikin enggak bisa menelan makanan sama sekali,”ia mengenang. Toh demikian, petugas-petugas kepolisian yang ada lahap saja menyantap jatah makanan mereka. Orang-orang awam yang tidak biasa berada dalam kondisi seperti itu tidak bisa. Begitu banyaknya, sampai-sampai mayat-mayat itu dikarungi, katanya lagi.

Di kamar mayat, pintunya tidak bisa ditutup dengan rapat karena jumlah mayat sangat banyak dan memenuhi lantai. Ratusan anggota keluarga korban mengantri hanya untuk masuk dan keluar di kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Jumlah korban yang mencapai ratusan jiwa membuat jenazah-jenazah harus dibagi ke beberapa rumah sakit besar di Jakarta.

Sambil kebingungan dan syok, ia harus mencari adiknya ke RS Pondok Indah, RS Fatmawati, RS Pusat Pertamina yang menjadi tempat perawatan korban luka-luka, termasuk RS Cipto Mangunkusumo yang kamar mayatnya digunakan untuk menampung jenazah hingga diambil oleh pihak keluarga setiap korban. Satu adiknya ditemukan hanya mengalami luka-luka. Setelah mencari-cari demikian lama dari hari naas Senin itu, ia disarankan oleh seorang petugas agar mencari satu adiknya yang lain ke kamar mayat. Di hari Rabu, ia baru menemukan jenazah adiknya. Satu tewas seketika karena tergencet di gerbong kereta. Sementara yang satu cuma luka-luka meski beberapa tahun setelah itu akhirnya sang adik yang masih hidup juga berpulang karena tertular penyakit yang disebut “virus onta”. Akhirnya ia pun meninggal di Kalimantan. Malam Kamis, ia membawa pulang jenazah adiknya yang katanya “gepeng” karena tergencet parah di gerbong dari kamar mayat RSCM yang luber dengan mayat-mayat yang sudah mulai membusuk.

Sebagai seorang kakak, ia masih teringat-ingat dengan mendiang adik yang sebelumnya mengunjunginya dan berbicara dari hati ke hati. Sebagaimana kakak dan adik, ia dan adiknya pun sering saling bercanda, seperti mengganggunya saat tidur dengan memencet hidungnya sampai terbangun. Dan adiknya sempat meminta bantuan pinjaman uang karena pekerjaannya belum selesai. “Saya dulu pas bekerja suka dikasih beras, seliter dua liter tiap hari. Separuhnya yang enggak kemakan, saya simpen. Nah sering dia pinjam beras itu,”katanya. Koesdinata, adiknya yang tewas itu, sebetulnya sudah ia suruh menikah (padahal baru 18 tahun, lepas SMA). Apa daya, maut lebih dulu menjemput.

“Sampai sekarang saya masih ingat nomor jenazah yang ada di jempol kaki adik saya… 89,” ucapnya lirih.

Kecelakaan yang terjadi di Stasiun Pondok Ranji ini dikenang sebagai satu insiden terburuk dalam sejarah transportasi tanah air sampai-sampai pers dunia memberikan perhatiannya untuk kasus ini.

Kereta api naas itu berangkat dari Stasiun Rangkasbitung (yang dinaiki dua adik pak kos) dan beradu dengan kereta api lain dari Stasiun Tanah Abang. Semuanya ternyata karena seorang petugas di Stasiun Sudimara lalai, sembarangan memberikan sinyal aman bagi kereta api dari Stasiun Rangkasbitung untuk melaju.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s