Etika Murid Saat dalam Kelas Yoga

image

Umumnya kita diharuskan mengenal etika jika berada di posisi atas, karena dianggap sebagai panutan, teladan atau role model yang sedikit banyak harus mampu mengendalikan diri dan memberikan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan. Dalam kelas yoga, mereka yang dianggap sebagai panutan pastilah seorang guru di kelas tersebut.

Namun, tidak semua orang menyadari bahwa menjadi murid juga diperlukan etika. Menjadi murid sangat menekankan KERENDAHHATIAN. Seorang murid (tidak peduli ia adalah seorang guru yoga hebat dan termasyur di luar kelas) harus mampu menundukkan egonya sebelum memasuki ruang kelas dan menjaga egonya tetap terkendali selama mengikuti kelas yoga yang dipimpin oleh guru lain, tidak peduli apakah ia seorang guru legendaris seperti BKS Iyengar hingga murid yang pertama belajar yoga dan tidak tahu apa-apa tentang yoga.

  1. Datang tepat waktu. Murid yoga yang baik tahu bahwa ia sebaiknya datang tepat waktu. Bukan demi mematuhi aturan gurunya semata tetapi karena datang terlambat membuat badan murid juga kurang ‘panas’, kurang siap karena biasanya di awal kelas semua melakukan pemanasan. Kalau melewatkannya, risiko cedera bisa jadi lebih tinggi sepanjang latihan. Kalau sudah cedera, yang rugi dan sakit bukan guru atau teman Anda bukan? Memang tidak  ada aturan agar seorang guru yoga mengetatkan aturan ketepatan waktu, tetapi alangkah baiknya jika ketepatan waktu ditekankan agar latihan berjalan lebih baik dan lancar. Akan tetapi, sekali lagi. Hal itu tergantung pada konsensus atau kesepakatan guru dan murid. Apakah kita sebagai murid nyaman jika guru setegas itu dalam hal ketepatan waktu? Mungkin. Tetapi bagaimana dengan teman-teman kita. Jadi semua terpulang pada persetujuan kedua pihak.
  2. Masuk dan keluar kelas dengan izin guru. Kelas yoga memang bukan sekolah formal. Tetapi toh demikian, jangan sepelekan tata krama. Guru adalah orang yang sudah menyisihkan waktunya demi murid-muridnya dan berkomitmen untuk membagikan ilmu dan pengalamannya pada kita semua, terlepas dari tulus tidaknya niat guru itu, kita masih harus memberikan respek atas kehadirannya. Coba kita bayangkan rasanya sedang berbicara di depan anak-anak atau teman dan mereka hilir mudik, berbicara sendiri meninggalkan ruang kelas semaunya, diajak berbicara pun tidak mengindahkan. Tidak perlu Anda harus mencium kaki guru seperti tradisi di India sana tetapi setidaknya berikan apresiasi atas kehadirannya dengan mengucapkan sepatah dua patah kata dan senyum jika harus meninggalkan kelas tiba-tiba untuk alasan tertentu.
  3. Memperhatikan guru dan lingkungan kelas. Di dalam sebuah kelas yoga yang dipimpin seorang guru, kadang kita menemukan seorang atau dua orang murid yang sudah terbiasa beryoga sebelumnya. Mereka sudah begitu terbiasa sampai sudah hapal irama kelas, urut-urutan instruksi, atau perkataan yang diberikan guru. Karena mereka merasa bosan, tidak heran mereka langsung menempuh jalan pintas, tidak mempedulikan perintah guru dan tidak mengindahkan lingkungan. “Saya sudah tahu kok, tenang saja. Pasti begini, begitu.. Sudah hafal. Sudah bisa,”begitu pikir mereka. Sekali lagi, itulah ego yang menunggangi kita. Sangat manusiawi, karena semua orang bisa mengalaminya. Lalu kenapa harus susah payah menunggu jika bisa lebih cepat dan lebih baik? Karena jika itu dilakukan harmonisasi dalam kelas mungkin akan terganggu. Kecemburuan berasana (asana envy) akan muncul dalam benak teman-teman kita yang belum bisa sekuat, selentur, sepiawai kita. Padahal jika menuruti instruksi guru, kemungkinan besar urutannya lebih baik, risiko cedera lebih rendah, dan kita terlatih untuk bersabar, dan melihat ke dalam, yang juga menjadi bagian meditasi. Jika kita melakukan tanpa tergesa-gesa, asana-asana yang mudah akan bisa diperbaiki dan dikuatkan. “Refinement”, begitu istilahnya. Jika kita sudah bisa, coba lakukan lebih perlahan untuk mengetahui sensasinya dalam tubuh dan pikiran. Hayati setiap gerakan dan nafas. Jadi tidak cuma bergerak, selesai dan pindah ke gerakan lain. Selalu ingat dengan aspek non-fisik yoga.
  4. Mematikan peralatan komunikasi. Apapun bentuknya, alat komunikasi berpotensi menjadi pengganggu dalam jalannya kelas yoga. Sebagai murid, kita perlu menyadari bahwa mematikan ponsel, tablet PC, dan lain-lain bisa membuat latihan lebih berkesan. Bayangkan jika kita harus berkali-kali terhenti karena menjawab telepon di dalam kelas. Selain mengganggu latihan sendiri, kita sudah merusak suasana dan semangat kelas. Dan jika memang benar-benar darurat, pasang ponsel di modus silent atau getar. Periksa ponsel di jeda singkat antarpose. Jangan melakukan atau menerima panggilan telepon di dekat teman apalagi guru.
  5. Tidak berdebat dengan guru di tengah kelas. Saat kelas berlangsung, sangat mungkin kita menjadi tergoda untuk memberikan saran dan kritik. Namun, tidak semua masukan harus disampaikan saat itu juga karena bisa mengganggu jalannya kelas. Jika memang guru telah melakukan kesalahan, kelalaian atau hal lain yang kurang berkenan atau tidak sesuai pemahaman kita, coba sampaikan setelah kelas berakhir sehingga pembicaraan menjadi lebih santai dan jernih, tidak sampai menimbulkan debat di depan orang banyak dalam kelas yang bisa berpotensi mempermalukan si guru atau kita sendiri, misalnya jika argumen kita terbukti lemah atau cuma asumsi tanpa dukungan literatur atau fakta empiris.
  6. Sampaikan masukan pada guru secara langsung. Tidak sedikit orang yang merasa tidak setuju tetapi hanya berani menyampaikan masukan di belakang sang guru. Akhirnya hal semacam ini menggiring menuju kesalahpahaman, fitnah, distorsi, dan semacamnya. Apa yang seharusnya bermakna A akhirnya begitu sampai di telinga guru yang bersangkutan sudah berubah menjadi Z. Karena itulah, murid perlu belajar memberikan masukan secara terbuka dan langsung pada gurunya.

Keenam poin di atas tentu masih belum bisa mencakup semua etika yang perlu diindahkan murid yoga tetapi setidaknya memberikan sedikit gambaran mengapa tidak cuma guru yang perlu mengendalikan perilaku, sikap dan tutur kata mereka dalam kelasd yoga (dan di luar tentunya) tetapi juga para siswanya.

2 Comments

Filed under yoga

2 responses to “Etika Murid Saat dalam Kelas Yoga

  1. Gede Prama

    Well written. May peace be with you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s