Mengenal David Sedaris, Penulis Idola Raditya Dika

raditya dika review

david sedaris

Pertama kali saya mendengar nama David Sedaris, saya sedang membaca sebuah tulisan, mungkin di blog Raditya Dika atau di mana, saya lupa persisnya tetapi yang saya ingat adalah bagaimana ia mengingat Sedaris sebagai seorang idola. Saya pernah membaca tulisan Raditya Dika yang sangat menghibur. Bukan sebuah karya sastra ‘serius’ yang mungkin bisa dikategorikan dalam karya ‘canon’ (entah beberapa generasi mendatang, karena menurut sejarah, manusia sering berubah pikiran). Tetapi sebagai karya, tulisan-tulisan David Sedaris dan Dika memang sangat amat menghibur.

Saat itu saya masuk ke sebuah toko buku hanya beberapa puluh langkah dari meja kerja. Periplus namanya. Penuh buku-buku impor yang bagus dan membuat saya tergiur ingin memiliki semua. Apa daya kartu kredit dan saldo rekening memiliki batasan.

Mata ini tertuju pada rak-rak buku yang penuh tumpukan buku baru berbungkus plastik. Bukan cara yang ramah lingkungan untuk mengamankan buku dari jamahan calon pembeli. Saya selalu ingin membeli buku tanpa plastik-plastik ini.

Lalu tiba-tiba ada buku David Sedaris yang berjudul “Let’s Explore Diabetes with Owls”. Buku bersampul coklat dengan gambar burung hantu itu sungguh menawan. Selain karena coklat adalah warna kesukaan saya, isinya juga menarik. Narasi yang lugas dan mengalir. Seperti tidak berupa tulisan tetapi transkripsi monolog. Terkesan ia sedang berbicara pada kita, pembacanya. Tidak heran karena si penulis adalah seorang comic (sebutan untuk komedian di Standup Comedy). Bahasanya ringan dan pilihan kata-katanya mudah dipahami tetapi penuh dengan permainan kata yang menggelitik. Sepeti saat ia menemui seorang dokter langganannya. Karena ia (Sedaris menggunakan “I” sebagai sudut pandang penceritaan) merasakan ada benjolan, ia berkonsultasi dengan dokter karena panik mengira benjolan itu kanker atau tumor yang bisa membuatnya meninggal tetapi sang dokter menanggapi dingin, tanpa ekspresi berlebihan dan cuma mengatakan kurang lebih jika saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah:”Tak mengapa. (kemudian ditanya Sedaris lagi tentang kemungkinan seberapa besar benjolan itu nantinya) Masak bisa benjolan itu tumbuh setinggi pohon?” Haha. Mungkin saya akan membelinya hari ini. Entahlah. Ini keputusan yang sangat berat mengingat saya sudah terlalu banyak membeli buku yang akhirnya cuma menumpuk karena belum sempat dibaca! This is going worse!  Saatnya membaca di akhir pekan dan melupakan membeli buku baru.

Seperti kita bisa baca, Raditya Dika menulis sebuah ulasan tentang “Naked” di atas jauh sebelum ia seterkenal sekarang, dengan pengikut di Twitter yang mencapai 6,48 juta orang (atau bot, whatever) per Sabtu, 8 Februari 2014. Rupanya inilah figur penulis panutannya. Dan saya pikir-pikir, betul juga. Jika Anda tidak punya gaya menulis yang sudah mantap dan mapan, boleh saja mencontek gaya penulis yang lebih senior yang menarik dan sesuai selera pribadi. Tetapi masalahnya, lama-lama kalau kita tidak bisa menemukan gaya menulis sendiri, bagaimana dengan identitas dan karakter kita sebagai penulis baru? Apakah kita hanya akan dianggap pengekor tren atau peniru, imitator, impersonator, atau yang lebih buruk lagi… plagiat?

Hmm, sukar untuk menjatuhkan vonis seperti itu. Toh Raditya Dika juga tidak 100% mencontek Sedaris. Dika mampu mengadaptasikan gaya Sedaris dengan pengalaman dan wawasannya sendiri, jadi tidak terkesan mentah-mentah mencontek Sedaris. Guyonan dan anekdot Sedaris pasti sangat berbau Anglo-Saxon, Amerika sekali, karena penulis Kaukasia itu tinggal di sana.

Namun, sekali lagi tindakan ‘mencontek’ antarpekerja seni memang tidak terelakkan. Tak ada yang baru di kolong langit, begitu kata seseorang. Dan sangat naif jika kita memonopoli sebuah karya dengan mengakuinya sebagai 100% hasil buah pikiran kita.  Di samping itu, kata orang China, pencontekan itu adalah sebuah bentuk pujian bagi seseorang yang dicontek, yang menjadi penjelasan kultural yang masuk akal tatkala kita membahas mengapa banyak barang KW alias aspal alias asli tapi palsu yang diproduksi dan beredar di China, kecuali Hong Kong.

raditya dika tweet1raditya dika tweet

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s