Hari Pers Nasional 2014: Dari Berita Bombastis Sampai Flappy Bird

image

Menurut Wikipedia, kata “pers” merujuk pada beberapa entitas, yakni media berita, penerbit, TV pers, surat kabar, dan sebagainya. Jika menggunakan definisi-definisi itu, saya sebagai seorang narablog atau blogger dan pembuat konten web bisa memasukkan diri dalam kelompok pertama: media berita. Maka saya pikir ini semestinya hari yang istimewa untuk saya sebagai seorang jurnalis meskipun jujur saya belum merasa menjadi jurnalis sejati yang setiap saat berada di lapangan untuk mendapatkan informasi segar dari sumber primer.

Dalam situs Hari Pers Nasional (www.hpnindonesia.com), hari tersebut dirayakan tahun ini pada 6-10 Februari tahun ini di Bengkulu. Presiden kita yang akan segera lengser Susilo Bambang Yudhoyono juga dikabarkan hadir di sana kemarin (8/2/2014).

Dan puncak perayaannya adalah hari ini! Anehnya perayaan hari pers ini didukung oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (sumber http://www.indonesia.travel/id/event/detail/817/hari-pers-nasional-expo-2014). Apa hubungannya UKM dan pers ya? Kalau saya harus menjawab pertanyaan itu, saya akan katakan:”Kalangan pengusaha UMKM memerlukan jurnalis untuk mengangkat profil usaha mereka di media massa supaya lebih dikenal masyarakat luas, menaikkan citra bisnis mereka di mata investor, dan sebagainya”.

Bisa jadi saya benar karena sebagai pewarta daring, tugas saya adalah salah satunya membuat berita tentang para entrepreneur. Rata-rata entrepreneur mana ada yang sanggup menolak bisnisnya ditulis di media? Bahkan ditulis oleh blogger amatir seperti saya pun bukan masalah besar asal bisa menebarkan sebanyak mungkin konten pencitraan positif di mata banyak orang.

Tetapi berapa banyak entrepreneur yang sanggup memiliki keteguhan prinsip yang berbeda seperti pengembang game tersohor Flappy Bird, Dong Nguyen?

Seperti dilansir dari laman http://www.pocketgamer.co.uk, Nguyen menolak publisitas dirinya yang membuat kehidupan pribadi dan privasinya terusik. Sulit dipercaya memang. Dalam akun Twitternya, ia bahkan mengatakan akan segera menghapus game yang sudah populer itu di Google Play dan AppStore “dalam 22 jam karena gempuran pemberitaan media yang tidak dikehendaki”. Belum diketahui apakah ia benar-benar akan melakukan langkah nekat itu atau tidak. Bagaimana tidak nekat karena game sederhana tetapi luar biasa adiktif itu membuat banyak orang tergila-gila hingga membuat aplikasi itu bertengger di posisi jawara daftar aplikasi gratis App Store. Dan bagi Nguyen, Flappy Bird adalah “mata air rejeki” yang mengucurkan rata-rata 50 ribu dollar AS per hari dari iklan. Bayangkan jumlah uang sebanyak itu mengucur ke rekening Anda setiap hari sembari Anda bermalas-malasan di hari kerja saat semua orang berangkat ke kantor di pagi buta dan kembali pulang di malam yang gulita.

Yang membuat menarik ialah pernyataan Nguyen tentang pers: “Press people are overrating the success of my games. It is something I never want. Please give me peace.” (Para pewarta sudah melebih-lebihkan keberhasilan games saya. Saya tidak pernah menginginkannya. Mohon berikan saya ketenangan.)

Ya, meskipun Nguyen memang terkesan “belagu” dan sok eksklusif dengan membatasi kehidupan pribadinya, saya pikir sikap dan tindakannya jika benar dilakukan adalah sesuatu yang patut dihargai dan bagi pers, ini menjadi tamparan bahwa tidak semua orang bisa tergiur dengan ketenaran (yang kebanyakan semua) yang bisa kita janjikan pada nara sumber!

Saya juga masih ingat saat Dave Morin pendiri jejaring sosial Path ditanya oleh jurnalis dan editor utama Pando.com mengenai besarnya basis pengguna Path di seluruh dunia. “Terus terang saja tidak banyak orang menggunakan Path,”kata Lacy blak-blakan yang mungkin dalam benaknya menggunakan Facebook dan Twitter sebagai pembanding bagi prestasi Path. Kemudian Morin melontarkan sejumlah juta pengguna untuk meyakinkan Lacy bahwa Path juga memiliki jumlah pengguna yang solid. Lacy membalas,”Oh saya pikir jumlahnya XXXX juta (saya lupa persisnya) seperti dikatakan di TechCrunch. Berarti mereka melebih-lebihkan ya?”

Di tahun 2012, saya juga pernah bertemu dengan praktisi dan investor bisnis William Henley (yang banyak dikenal dengan nama panggilan “William Botak” di jagat Twitter) yang mengklaim bahwa pemberitaan tentang Kaskus yang menggandeng Djarum sebagai investor dan potensi sukses startup-startup asli Indonesia lainnya yang konon menurut media Indonesia relatif tinggi itu sebagai bombatis, berlebih-lebihan, dan tidak sesuai kenyataan. Padahal ekosistemnya masih belum siap, kata William. Semua itu lain dari kondisi negara besar semacam AS, tempat ekosistem dan infrastruktur sudah lebih mapan. Transparansi juga belum banyak diterapkan di sini. Cuma dugaan dan asumsi. Katakanlah, nilai investasi yang sebenarnya diberikan Yahoo! Pada Koprol. Dan dengan berbekal asumsi, jurnalis-jurnalis sudah berani menerbitkan pemberitaan yang “luar biasa”, tidak realistis, serta cenderung utopis. Optimisme boleh membuncah tetapi apakah harus melanggar prinsip objektivitas dalam pemberitaan?

Tampaknya perjalanan masih panjang untuk bisa mencapai pemberitaan yang lebih bebas hiperbola. Ingat, ini bukan pelajaran mengarang indah, bung!

Leave a comment

Filed under journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s