Dari Muria, Kelud sampai Krakatau

Tinggal di dataran rendah selama ini membuat saya lebih akrab dengan hawa panas. Dari dulu saat tinggal di Kudus sampai sekarang di Jakarta, rasanya belum pernah selama 30 tahun hidup di muka bumi ini menyaksikan sebuah gunung meletus. Sensasinya tentu berbeda dari menyaksikan foto-foto erupsi di media. Bukan meminta terkena ‘musibah’ itu tetapi hanya sedikit penasaran dengan pengalaman tinggal di dekat gunung atau di dataran tinggi.

Pernah saya berbincang dengan teman-teman sekolah di Kudus membahas pertanyaan:”Bagaimana jika Gunung Muria itu meletus?” Kami membahasnya dengan pandangan menerawang jauh ke arah utara, tempat menjulangnya sebuah gunung di kabupaten kami yang paling mungil di provinsi ini.

“Jangan pernah berpikir seperti itu. Nanti malah kejadian!”kata seorang teman. Mungkin ia penganut The Law of Attraction tetapi siapa yang tahu teori itu di tahun 1997? Buku itu pun belum diterbitkan saya rasa. Jikapun sudah, belum tentu sudah sampai di toko-toko buku kota kecil yang cuma dihiasi beberapa toko buku seperti Hasan Putra di pusat kota, Rahmatika. Toko buku lainnya cuma penjual buku sekolah. Mana ada penjual buku fiksi? Persewaan buku seperti Crayon lebih disukai karena lebih hemat. Sekali baca dalam beberapa hari cuma beberapa ribu rupiah. Bisnis yang kecil tapi cukup menghasilkan saat itu. Maklum, buku itu sebuah kemewahan bagi masyarakat Kudus yang terkenal pelit.

Sebuah kelegaan bagi kami yang tinggal di Kudus bahwa Gunung Muria kecil kemungkinan menyembur dan mengancam keselamatan kami. Muria bukan gunung vulkanik yang bisa menyemprotkan lava. Ibarat anjing, Gunung Muria itu anjing ompong, tidak punya gigi. Entah karena terlalu uzur, atau karena diabetes sehingga giginya semua tanggal sebelum waktunya, atau karena memang ia bertabiat baik sehingga sudah sepakat untuk jinak.

Karena tidak memiliki referensi langsung dan nyata dalam benak mengenai kondisi gunung berapi dan sekitarnya saat meletus, kami orang Kudus cuma bisa memelototi televisi yang menyiarkan liputan letusan Merapi, Anak Krakatau, Sinabung, dan sebagainya. Terpukau sambil berdecak lalu mengatakan kalimat simpatik,”Kasihan ya…” Tangan terus menyendok makanan, lahap. Lalu menyumbangkan sedikit uang ke PMI demi menghapus rasa bersalah masih bisa hidup sejahtera dan aman sentosa di tengah kekacauan hidup orang lain.

Pagi tadi, ayah menelepon, mengatakan kabar salah satu paman di Blitar yang baik-baik saja. Untung ada saudara di seberang kali Brantas jadi mereka mengungsi ke sana, ujarnya. Cuma abu vulkanik yang tebal karena Gunung Kelud itu cuma kurang lebih 30 kilometer dari rumah paman.

Luar biasa juga ya Kelud, batinku. Sudah mampu mencetak headline di Internet dan media internasional. Saya baca pagi kemarin di sebuah laman berita Amerika Serikat bahwa kabar letusan Kelud sudah dimuat.

Dan yang paling klise dalam ‘musibah’ (yang bagi para petani nantinya adalah ‘anugrah’), adalah foto-foto yang tersebar di dinding Facebook, dengan caption/ keterangan gambar bernada ceramah:”Nih Kelud udah kayak gini. Pada tobat sana!” Seperti didengar saja kalau sudah berbicara begitu. Foto-fotonya pun bertebaran di dunia maya.

“Kok tidak ada foto yang lebih bagus ya? Ini foto hoax kali, kok jelek gini sih?”keluh teman yang kemarin mau menulis tentang berita letusan Kelud, sambil menelusuri hasil pencarian Google. “Ya mungkin ponselnya murahan,”timpal yang lain. “Lagian siapa yang mau ambil gambarnya? Mau mampus apa kena lahar?? Nyemplung ke kawah??”tambahnya lagi. Bisa jadi ia tidak tahu ada teknologi aerial photography. Tetapi itu juga masih berisiko karena alatnya bisa musnah kena panas berlebihan. Intinya, orang Indonesia malas menempuh risiko untuk itu. Maunya hits banyak, usaha sedikit. Titik.

Petang itu, tema besarnya masih letusan gunung dalam pembicaraan banyak orang. Di lift saat pulang, sebagian orang mengeluh perjalanan bisnis akan terganggu abu. “Kamu mau ke Bandung ya besok? Abu Kelud kan sampai ke sana..” Dengan nada lelah,yang ditanya menjawab,”Ya bagaimana lagi?” Lalu semua menunduk ke layar smartphone masing-masing, mengetuk-ngetuk layar sentuhnya untuk bercakap-cakap di jendela chat Whatsapp, Line, atau BBM. Yang lain menatap layar penunjuk lantai dengan nanar, ingin cepat pulang di malam Jumat yang dikenal durjana bagi commuter di Jabodetabek.

Di depan televisi, bu kos masih juga membahas isu yang sama: letusan gunung berapi. Rasanya mau gantian meletus kepala ini, kebosanan mendengarnya. Anaknya juga terus mengoceh, memberikan informasi tambahan dari pernyataan-pernyataan sang ibu.

Lalu masuk si pak kos, memperkaya khasanah pembahasan malam itu dengan paparan menariknya, masih tentang gunung yang meletus di Indonesia. “Tahu nggak asal usulnya nama Krakatau? Jadi gini ceritanya…”ia mulai membeberkan kisah itu, sambil duduk jongkok di depan kami yang juga jongkok. “Ada orang China datang ke sini kemudian ia ditanya orang kan ya. Orang lain tanya,’Itu gunung apa?’ Si orang China itu menjawab,’Kagak tau!’ Nah, makanya gunung itu disebut Krakatau, dari pengucapan orang China yang aneh.”

Ah masa sih? Justru cerita itu yang aneh. Kenapa orang China yang ditanya soal nama gunung di selat Sunda itu, padahal jelas dan nyata Krakatau tidak terletak di China? Dekat pun sebenarnya tidak. Kenapa orang yang bertanya tidak memberikan pertanyaan itu ke penduduk setempat? Orang Sunda misalnya, atau orang Lampung, atau siapa saja penduduk asli di sekitar situ. Itu seperti ada pemilik rumah yang lalu bertanya ke tamu barunya,”Ini kamar siapa?” Jelas-jelas kamu yang punya, kok tanya saya. Kisah asal usul Krakatau itu pun berakhir ‘garing’.

4 Comments

Filed under miscellaneous

4 responses to “Dari Muria, Kelud sampai Krakatau

  1. Aku dulu tinggal di Malang, jadi akrab dengan abu tipis yang rutin mengotori porch (coba opo bahasa Indonesianya Porch). Pas Bromo meletus lagi di dalam kelas, pas keluar semua ditutupi abu, tapi ya cuek aja, kayak gak ada apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s