David Sedaris tentang Susahnya Jadi Guru

Terpingkal-pingkal sendiri. Itu sudah mafhum bagi penikmat buku “Let’s Explore Diabetes with Owls” karya David Sedaris. Seperti bagian berikut yang saya ingin bagikan pada Anda. Penggalan kisahnya akan saya terjemahkan ke bahasa ibu. Bila Anda sudah punya, buka saja halaman 144 di episode/ bab “Author, Author”.

Begini tulisnya:
“Saya memikirkan ini selama berhari-hari saat terbayang tentang seorang guru sekolah luar biasa yang saya temui di Pittsburgh. “Anda tahu,”katanya,”Saya tahu kata-kata itu dan otomatis berpikir, Cacat, atau, Tak Mampu Belajar. Tapi bukankah banyak murid Anda yang sangat menjengkelkan?”

“Anda paham itu,”ujarnya. Kemudian ia mengatakan pada saya mengenai seorang anak – di hari terakhirnya masuk sekolah – yang menulis di papan tulis,”Ibu J____ seorang pakar ‘burung’.”

Saya begitu terkesan karena saya tidak pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Sang guru terkesan karena anak laki-laki itu sudah bisa mengejanya dengan benar.”

Ya, saya juga sering mengalaminya. Mengajari begitu banyak kosakata pada anak-anak bimbingan dalam kelas bahasa Inggris saya, dan hampir semua gagal. Tak ada yang ingat. Kalau ada juga segelintir saja. Payah. Akan tetapi begitu saya tanya kosakata yang jorok, kurang sopan, kurang etis, kasar, tidak beretika, mereka seolah menjelma tiba-tiba menjadi sekelompok pakar.

Itulah susahnya jadi guru. Mengajari yang positif itu susahnya minta ampun. Mengajari yang negatif itu jauh lebih mulus, enak, dan jitu.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s