Kerja, agar Diri Punya ‘Harga’

Bekerja adalah sebuah harga diri. Saya pernah mengatakannya di depan teman, tetapi bukannya kagum ia malah menertawakan. “Jangan terlalu loyal! Haha,”ia berkomentar dengan nada canda. Saya hanya meringis.

Bukan itu yang ada dalam benak saya. Jelas, teman saya sudah salah paham dengan pernyataan saya. Saya tidak mengatakan bahwa jika saya tidak bekerja pada perusahaan tertentu atau mengabdikan diri pada sebuah badan tertentu, otomatis saya tidak punya harga diri. Bukan! Maksud saya yang sebenarnya adalah bagaimana bekerja membuat seseorang dihargai oleh mereka yang ada di sekitarnya. Dengan berpeluh-peluh bekerja, orang mendapatkan uang, dan yang terpenting ialah kemandirian, kemampuan untuk berdiri sendiri, menjadi berguna, bermanfaat bagi orang lain.

Lalu saya teringat dengan seorang penghuni kos yang dulu selalu terduduk jongkok di depan rumah. Saya selalu melewati pria itu sepanjang perjalanan ke masjid. Saya pikir ia tidak bisa masuk rumah karena kuncinya tertinggal. Tetapi penampilannya aneh. Ia kumal. Kacau sekali. Dan yang menambah kesan anehnya adalah sikapnya yang terus diam, pandangan kosong, tak mempedulikan semua yang ada di sekitarnya. Apakah ia gila? Mungkin itu yang sudah muncul di benak banyak orang selain saya.

Bisa jadi ia tidak gila tetapi yang saya tahu pasti, ia tidak punya harga diri. Kenapa saya berani memvonisnya demikian? Saya bukan orang yang suka menghakimi tetapi kalau untuk kasus ini, saya merasa harus memberikan penghakiman. Si penghuni baru ini dimasukkan kos setelah si adik memasukkannya sambil memohon pada bapak kos kami, mengatakan bahwa kakaknya itu sebenarnya sudah sarjana, sudah dewasa, tua bahkan, tetapi lontang-lantung menjadi parasit keluarga karena satu hal: TIDAK MAU BEKERJA! Ternyata lebih enak menjadi penerima subsidi dari adik-adiknya daripada mengandalkan keringat sendiri untuk menafkahi diri. Sungguh memuakkan! Sang adik merasa terus menerus diteror karena tiap hari sang kakak datang, dan berjongkok meminta belas kasihan agar bisa masuk ke rumah, kembali menjadi tanggungan seisi rumah.

Di kos barunya, sang kakak cuma menganggur, berdiam di dalam kamar. Tidak pernah sekali pun terlihat berbincang atau bergaul. Sesekali ia keluar kos memang tetapi masih bisa dihitung dengan jari.

Apa yang bisa diharapkan dari orang yang mandi pun tidak mau?! Sungguh mengerikan bukan? Pakaiannya kumal pada saat kami menyaksikannya masuk ke kos. Bu kos sangat tersiksa dengan bau apek di mana-mana saat ia datang. Mual! Bayangkan bau seseorang yang tidak mandi berhari-hari lewat di depan Anda atau mencium bau mulutnya di depan hidung Anda.

Apakah orang seperti parasit itu punya harga diri? Rasanya tidak sama sekali. Sayangnya, orang-orang bermental pemalas seperti ini banyak juga.

Omong-omong tentang kerja, orang Asia Timur memang patut diacungi jempol. Lihat saja orang Jepang, Korea, China. Kalau sudah urusan kerja, mungkin mereka adalah bangsa-bangsa yang paling gila kerja di seluruh dunia. Orang China misalnya konon hanya menikmati libur panjang tahunan saat Imlek, selain itu mereka lewatkan semua jatah liburan.

Pernah saya saksikan seorang pekerja Filipina yang mengeluh dengan ketatnya budaya kerja Jepang. “Masak sih saya harus minta maaf pada semua teman kerja setelah saya sakit sampai absen kerja? Padahal saya sakit! Sungguh sulit dipahami,”ucap seorang perawat medis resmi di sebuah rumah sakit di Jepang dalam sebuah film dokumenter tentang Jepang yang dibuat oleh sebuah stasiun TV asing.

Sekali lagi tentu ini adalah sebuah stereotip, citra yang umum, bukan per individu. Tidak menutup kemungkinan juga ada orang Jepang, China atau Korea yang pemalas.

Contoh lainnya yang nyata saya saksikan adalah Mr. Ahn yang berasal dari Korsel. Ia tinggal di sebuah kos yang sederhana dengan biaya sewa Rp600 ribu per bulan bukan apartemen di Mega Kuningan yang harga sewanya mahalnya bukan main, bekerja di akhir pekan saat saya bersantai, ponsel cuma Samsung Galaxy Y yang mungil harga sejutaan bukan Galaxy S4, baju santai dan kerja yang cuma beberapa pasang yang membuat saya bosan, laptop Acer murah bukan ultrabook Samsung dengan layar sentuh keluaran terbaru dan pulang kampung sekali dalam 4 tahun bermukim untuk kerja di ibukota yang hanya mengenal 2 musim ini. Apakah itu karena ia harus menyerahkan uangnya dulu ke sang istri, entahlah. Tetapi ia pernah sampai kehabisan uang dan meminjam kepadaku beberapa ratus ribu, dan ia mengembalikan semuanya utuh. Ia bukan tipe orang yang suka diberi bantuan cuma-cuma, menyusahkan orang demi kepentingan dan kenyamanan diri. Itulah yang saya rasa sebuah harga diri.

1 Comment

Filed under miscellaneous

One response to “Kerja, agar Diri Punya ‘Harga’

  1. Bukan gila, tapi orang dengan masalah kejiwaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s