Cedera Saat Yoga: Salah Siapa?

image

Saat saya masuk dalam sebuah acara yoga beberapa tahun lalu, saya terkejut ketika saya disodori sebelum masuk ke dalamnya. Di meja registrasi peserta, setiap pengunjung yang ingin mengikuti kelas hatha yoga (kelas yang berfokus pada asana/ gerakan/ pose) diharuskan mengisi selembar kertas yang ternyata adalah formulir pernyataan bahwa individu yang menandatanganinya tidak memiliki riwayat kesehatan berisiko atau cedera yang bisa kambuh jika melakukan pose -pose yoga.

“Apakah pemberian pernyataan seperti ini benar-benar perlu?”pikir saya saat itu. Saya belum pernah memasuki sebuah kelas dalam studio karena saya bahkan sampai saat ini belum pernah beryoga secara teratur di sebuah studio yoga, pusat kebugaran dan semacamnya.

Kemudian, saya berpikir dan makin lama, saya harus akui pernyataan mengenai kondisi kesehatan seperti tadi sebetulnya sangat diperlukan, apalagi jika kita hendak membuka sebuah kelas yoga yang resmi dan tepercaya yang melibatkan banyak peserta. Untuk kelas yoga dengan jumlah peserta yang terbatas dan masih dapat dihitung dengan jari, pernyataan riwayat kesehatan semacam ini mungkin kurang mendesak, meski jika dilakukan pun akan lebih baik. Tetapi dalam sebuah kelas dengan peserta yang lebih sedikit, peluang untuk mengenal dan berbincang lebih banyak antara guru dan murid tentunya akan lebih tinggi daripada dalam sebuah kelas yang di dalamnya satu guru harus mengajar lebih dari 10 orang sekaligus, di tambah lagi jika bukan hanya kelas itu yang ia ajar. Tentu akan lebih sukar lagi untuk mengetahui perkembangan dan riwayat kesehatan setiap murid.

Hal itu jugalah yang membuat saya agak hati-hati saat harus menerima murid pertama saya. Saya memberikan pertanyaan yang bernada menyelidik sebelum saya memutuskan untuk menjadi pengajarnya dengan alasan saya perlu berhati-hati karena meskipun yoga secara umum aman bagi semua orang, tingkat risikonya juga ada. Tidak bisa kita pungkiri banyak orang menganggap yoga adalah obat mujarab untuk semua penyakit. Mungkin terlalu utopis alias penuh dengan fantasi indah untuk mengatakan yoga bisa mengatasi semua penyakit tetapi secara realistis, pernyataan itu terasa terlalu berlebihan.

Karena itu, siapa yang perlu disalahkan jika seorang murid terluka atau mengalami cedera dalam sebuah kelas yoga? Karena di dalam sebuah kelas yoga, ada beberapa pihak yang terlibat, cukup masuk akal jika kesalahan itu bisa berasal dari setiap pihak yang ada di dalamnya.

Pertama, sebelum si murid menyalahkan orang lain, cobalah untuk mawas diri. Tanyakan: “Apakah saya sudah mengenal tubuh saya dan besikap sejujur-jujurnya dengan diri sendiri sebelum memasuki kelas ini?” Dalam diri manusia, hampir selalu ada keinginan untuk merasa lebih kuat dari yang sebenarnya. Sebagian orang juga ada yang sering dididik untuk gigih, tidak lekas putus asa, harus berani mencoba, tahan dalam menahan sakit, memendam keluhan, menyembunyikan kelemahan. Terutama kaum pria yang diharapkan tangguh dalam menghadapi penderitaan fisik. Mereka ingin mencoba lebih untuk bisa mengetahui kemampuan mereka hingga secara tidak sadar melewati garis itu dan timbul cedera.

Maka dari itu, dalam mengisi surat atau formulir mengenai riwayat kesehatan, hendaknya bersikaplah jujur. Jangan merasa malu karena pernah cedera, atau memiliki kondisi tertentu yang memerlukan perhatian khusus yang membuat kita menjadi tidak leluasa berasana menantang sebagaimana teman lainnya. Ketahui batasan kita sendiri. Tidak ada yang mengetahui tubuh dan jiwa kita selain kita sendiri, bukan? Karena itu, masuk akal pula jika yang menjadi penyebab pertama terkena cedera adalah diri kita sendiri.

Lalu bagaimana cara agar bisa mengetahui batas? Selalu bawa kesadaran penuh (full awareness)ke setiap bagian tubuh selama latihan asana yoga kita untuk menekan risiko cedera. Misalnya, alih-alih memikirkan bagaimana pose hanumasana (full split) kita terlihat di mata orang lain, kita bisa memfokuskan pikiran pada napas, dan bagaimana yang dirasakan setiap bagian badan saat hendak, selama dan setelah melakukan postur split tersebut.

Kedua, si guru yoga juga kadang turut andil dalam membuat muridnya cedera. Seorang guru yoga perlu memahami keterbatasan muridnya. Jikalau menemui beberapa murid yang terlihat enggan mencoba, itu belum tentu karena mereka belum berani atau malas tetapi karena mereka mungkin memiliki kendala dalam anatomi atau riwayat cedera. Sehingga sebelum memberikan instruksi yang lebih tegas untuk mencoba asana tertentu, adakan pendekatan personal dengan sang murid. Dekati dan tanyalah dengan ramah bila ia sebelumnya pernah mengalami sesuatu yang membuatnya merasa tidak bisa melakukan sebuah asana sebagaimana yang dicontohkan. Tentu akan menghabiskan waktu untuk menanyai satu per satu murid, jadi kalau merasa sebagian murid ada yang memiliki keterbatasan atau riwayat cedera atau kondisi tertentu, mintalah mereka untuk tidak terlalu memaksakan diri meski teman-teman di sekeliling mereka sanggup melakukannya.

Ketiga, teman-teman dalam kelas yoga. Dalam sebuah kelas yoga, tidak mungkin unsur kompetisi diberantas 100%. Sangat mustahil. Itu karena hasrat berkompetisi sebenarnya adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan tidak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Dengannya, seseorang bisa mendorong dirinya menjadi lebih baik lagi. Dan yang paling mudah adalah dengan melihat sekeliling, membandingkan pencapaian dirinya dengan sesama rekannya, tetangga kanan kiri, depan belakangnya, yang sama-sama mengikuti kelas yoga. Bersaing dengan teman boleh-boleh saja, selama tidak saling mendorong untuk melewati batas kemampuan masing-masing yang bisa berpotensi menimbulkan cedera atau kambuhnya cedera atau penyakit.

Sayangnya, tidak semua teman dalam kelas yoga menyadari bahwa perkataan atau perilaku mereka juga bisa berisiko mendorong temannya mengalami cedera. Dengan mempertontonkan kelihaian untuk berasana menantang, seseorang sebenarnya juga mendorong orang untuk melakukan yoga (sisi positifnya) dan pada saat yang sama bisa membuatnya mengalami cedera (sisi negatifnya), terutama pada pemula yang masih benar-benar buta terhadap dunia yoga dan masih belum mengenali kemampuan tubuhnya sendiri.

 Di sini, perlu digarisbawahi lebih penting untuk membuat setiap pihak yang terlibat dalam kelas yoga agar bisa lebih berhati-hati dalam melakukan latihan, bukan pada siapa yang harus disalahkan.

Namaste…

2 Comments

Filed under yoga

2 responses to “Cedera Saat Yoga: Salah Siapa?

  1. Salam kenal Gan
    jika terjadi cidera dalam yoga untuk pemulihanya memakan berapa minggu yaa?
    dan untuk baju senam wanita buat yoga itu baju senamnya paling nyaman berbahan apa yaa? trims🙂

    • Salam kenal juga. Tidak bisa dipastikan juga, gan. Tergantung banyak faktor. Parah tidaknya, di bagian mana. Kalau saya sendiri pernah beberapa minggu saja. Dua minggu lah, split tanpa pemanasan terus agak kurang nyaman seperti ada sensasi otot yang tertarik. Istirahat untuk jenis gerakan itu selama beberapa minggu, lalu pelan2 coba lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s