Rekamlah karena Ingatan Tak Selalu Akurat dan Mencatat Tak Selalu Cepat

Kadang dalam sebuah pembicaraan santai, sebuah topik menarik mengemuka dan mengalirlah percakapan yang hidup dan berapi-api. Dan bagi seorang penulis, itu semua adalah bahan yang menarik, dan kalau sebisa mungkin, jangan sampai disia-siakan. Dari pembicaraan sehari-hari itu, banyak yang bisa dituangkan menjadi tulisan yang menarik dan tentu saja menjadi aktual karena sesuai dengan apa yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Bagi sebagian mungkin rasanya kurang menarik, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi orang yang lain, paparan yang diambil dari percakapan sehari-hari itu berguna atau setidaknya menghibur mereka.

Saat-saat seperti itu membuat saya ingin menulis segera tetapi apa daya saya tidak sedang di meja dengan laptop yang terbuka, atau dengan lembaran kertas dan pulpen di tangan. Solusinya? Saya segera hidupkan aplikasi perekam di ponsel cerdas saya. Saya pernah merekam seluruh percakapan saya secara diam-diam beberapa orang. Misalnya, percakapan dengan teman-teman yoga, penjelasan dan instruksi guru yoga saya sepanjang kelas, jalannya rapat perusahaan, perbincangan santai dengan salah seorang sosok yang saya anggap menarik. Kadang saya tidak menyodorkan alat perekam itu di depan mulut mereka secara terang-terangan. Saya hanya letakkan di meja dan memastikan perekam itu bekerja dan ruang penyimpanan masih lapang.

Di antara begitu banyak nara sumber yang saya rekam itu, baru kemarin saya ‘tertangkap basah’. Seorang profesor yang sedang sibuk menjelaskan itu menyadari saya merekam semua perkataannya dari awal sampai akhir saat jeda makan siang. “Are you taping me?”tuduhnya. Ia benar dan saya hanya tergelak untuk menutupi rasa canggung di hadapan beberapa orang yang masih ada di ruangan. Haha. Tetapi ia tidak begitu terkejut karena saya sudah mengaku saya wartawan bisnis jadi sah-sah saja bukan?

Sang profesor yang berambut keriting – entah karena terlalu banyak berpikir atau yang lain – mengatakan dirinya pernah mengalami kejadian ‘pahit’ gara-gara ‘disadap’ semua perkataannya oleh wartawan di Eropa. “Saya cemas dengan wartawan karena pernah suatu saat saya berceramah, lalu saya mengatakan sebuah kalimat dengan nada bercanda. Saya katakan,’Entrepreneurship tak sesulit yang dibayangkan. Orang idiot pun tahu itu’ Tetapi si wartawan memunculkan esok hari berita dengan headline yang kurang lebih bernada:”Prof Entrepreneurship dari AS: Orang Idiot pun Bisa Jadi Entrepreneur.” Alhasil, jadilah si profesor wanita berdarah India itu bulan-bulanan beberapa entrepreneur yang tidak terima dikatakan demikian. Kami semua yang mendengar kisahnya tergelak-gelak. “Tapi bukankah Anda juga seharusnya berterima kasih karena wartawan itu sudah membuat Anda lebih terkenal?”tanya rekannya dengan nada melucu. “Haha, iya dan artikelnya itu menjadi yang paling banyak dibaca saat itu!”tukas wanita vegan itu lagi.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s