Dua Pria dan Sabun Dove

image

“Yuk, makan..” (Duh, kenapa lo ikut sih? Pulang sono.)

“Ke mana ya? Di sini kan mahal-mahal. Sekali makan 30 ribu. Bikin bangkrut.” (Lo pikir tinggal di ibukota terus gue tajir? Gue cuman numpang kerja tau! Gue ogah makan gengsi.)

“Iya sih. Ya udah ke sana aja warung tegal murah langganan gue.” (Semoga dia batal ngintil gue. Gue mau ajak ke warung jorok itu.)

“Jadi sudah lulus atau masih mengerjakan tesis sekarang?” (Ngomong yang sedikit intelek ah. Dia kan kayaknya intelek gitu. Kacamatanya tebel, framenya apalagi. Sangar banget. Badannya pesumo. Klop. Empuk.)

“Sudah. Ini mau lanjut ambil program doktoral. Yang S2 kemarin di ****, Amrik.” (Bukan nyombong. Elu sih pake nanya segala. Terpaksa deh gue ngaku. Biar tau rasa. )

“Oh… Jurusan?” (Oke oke. Amrik. So what? Paling juga jurusan abal-abal)

“Teologi. Gue mau jadi pendeta.” (Kepooonya nih orang..)

“….” (Eh tapi itu kok jari situ ada cincinnya? Emang pendeta boleh pacaran atau kawin ya? Tapi kalo liat mukanya sih serius. Auk ah gelap.)

“Eh tadi nulis tentang siapa? Bapak iklan? Siapa dia?” (Pura-pura tanya ah. Kasihan, daripada dia kelihatan odong terus. Sekali-kali biar kelihatan cerdas dikit.)

“Oh entuuu. David Ogilvy…” (Ih, lulusan S2 Amrik ga tau David Ogilvy, gimana sihh?? Oh ya dia kan orang teologi bukan marketing atau iklan ya. Ah bodo. Tapi kan tetep aja, David kan terkenal juga.)

“Hebatnya apa dia?” ( Belum pernah denger orang itu deh.)

“Mmmm… Dia itu yang mengenalkan prinsip-prinsip beriklan yang… Hmmm, apa ya? … Membius..” (Sial, hampir kehabisan kata-kata gue)

“Really?” (Enggak percaya! Lo gagap gitu jawabnya.)

(Huh, untung gue inget nih) “David Ogilvy itu orang yang buat tagline Dove lho. Pasti pernah dengar kan ‘Sabun dengan seperempat pelembab'” (Ah asal deh, gak apal juga tuh tagline. Kucrut!)

“Oh ya?! Oh setau gue itu di Indonesia aja. Gitu ya..” (Gue kudu cross check nih ke Google dan Wikipedia nanti. Jangan-jangan bohong aja dia.)

“Iya.” (Ih, ini usus ayam kenapa ada serabut-serabutnya gini ya? Warung tegal sotoy! Woek, tapi enak. Telen aja lah.)

“Tapi dulu di Amerika juga suka pakai Dove.” (Ok, kali ini gue berbaik hati kasih rahasia perawatan kulit gue. Jarang-jarang calon pendeta mau beberin urusan kecantikan kulitnya. Only me!)

“Oh ya?”(Percakapan yang aneh.)

“Iya soalnya kan kulitku suka alergi kalau pakai sabun lain yang dijual di toko-toko. Bahkan sampai aku minta dikirimi sabun bayi dari Indonesia. Karena kulitku jadi bermasalah. Dan setelah sabun bayi itu habis, repotlah aku. Akhirnya coba-coba sabun Dove dan cuma Dove yang tidak membuat kulitku alergi.” (Mana ada calon pendeta endorse merek kayak gini sih? Cuma gue kayaknya.)

“… Karena dia itu, Dove jadi sabun terlaris di Amrik. Gitu ceritanya.” (Beneran kita mau ngobrol soal sabun, cuy? Eh tapi ini makanan ga ada rasa ya. Tawar banget. Pedes enggak. Gurih setengah-setengah. Perkedelnya kecil lagi.)

P. S. : Cerita ini bukan kisah nyata, tetapi hanya berdasarkan kisah nyata.

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s