Mengalir Seperti Air

Pengantar:
Kisah berikut disalin rekat dari dinding Facebook Imbi Pulungan.‎ Selamat menyimak! 🙂

“Mengalir seperti Air”

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati.” Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” kata sang Guru.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Pria itu menolak tawaran sang Guru. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.”

Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini?

Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

The Book Store

‎It’s my book store. My intellectual and mental sanctuary. By “my”, I don’t mean it’s mine legally. I just love it too much and decided to call it “my book store”. I’m not the owner. But it is certainly one of the best places on earth where I can waste my money without guilt.

This Periplus book store is small, compared to the Uniqlo outlet‎ upstairs but it is better small than nothing at all.

Dari Yogfest 2014

IMG_20140420_142704[1]
Kelas Flexibility 101 dengan Decky Karunia. Ini instruktur hebat banget, karena bisa ngajari orang jadi tambah lentur. Tidak cuma lentur sendiri.
Saat saya bertemu dengan Yudhi Widdyantoro di suatu pagi di Taman Suropati pada bulan Desember 2010 yang basah itu, saya masih dilanda flu berat. Alhasil, saat saya diajari teknik pernapasan kapalabhati sambil duduk di taman dan dilihat beberapa anak kecil yang sangat ingin tahu, ingus itu keluar semua. Memalukan memang, tetapi bermula dari situ, saya akhirnya mengenal yoga perlahan-lahan.

Keteraturan saya berlatih di Taman Suropati juga bukan serta merta terjadi begitu saja. Mulanya saya lebih tertarik dengan kelas Biola di alam terbuka yang diadakan Taman Suropati Chamber di pagi hari sampai siang. Apa daya, setelah beberapa bulan latihan, saya menyadari bahwa bermain Biola bukan ‎kelebihan utama saya. Mungkin saya bisa melakukannya tetapi prosesnya akan lebih lama dan sulit, dan sebagai orang dewasa, saya sudah terlambat. Ini sama saja belajar dan mengenal bahasa asing di usia dewasa. Prosesnya akan lebih menantang dan membutuhkan banyak waktu. Dan saya tidak bisa berlatih sepanjang waktu yang saya mau di kamar untuk menggesek Biola karena semua orang akan mengeluhkan nadanya yang sumbang.

Tidak demikian dengan yoga.

Akhirnya dengan berbekal alas seadanya (selembar spanduk bekas), saya masuk dan ikut kelas yoga bersama di Taman Suropati sejak itu. Sebelumnya saya sudah membeli buku Leslie Kaminoff tentang yoga dan saya sangat antusias mengenai bagaimana melakukan yoga. Dan ternyata memang amat sangat mengasyikkan. ‎Sungguh!

Tanpa sebuah kartu anggota atau pengangkatan resmi, saya pun menjadi bagian dari Komunitas Yoga Gembira. Di sini, saya menemukan passion kedua saya setelah menulis. Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk membuat saya belajar dengan cepat. Saya tak merasa sedang belajar karena komunitas ini begitu menyenangkan. Saya tak pernah berpikir menemukan suasana seperti itu di tengah Jakarta yang kalau saya simak dari media TV hampir selalu dikatakan kejam, ‘kering’, dan mengerikan. Taman inilah yang menjadi oase yang menjadi tempat pengungsian mental dan spiritual saya di akhir pekan.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya masih berlatih yoga di Taman Suropati, tetapi kali ini tidak beralaskan spanduk bekas tetapi sebuah mat yoga biru hadiah seorang guru yoga yang tahun lalu menjadi guru yoga saya di Indonesia Yoga School: Koko Yoga. ‎Saya tidak pernah tertarik mengikuti yoga di kelas yang ramai di studio atau pusat kebugaran. Entah mengapa tetapi rasanya saya memang bukan penyuka gym dan sebagainya. Latihan bersama komunitas ini sudah saya anggap cukup karena toh saya masih bisa berlatih kapan saja sendiri di kamar, sebuah kelebihan yoga dibandingkan olah tubuh lainnya.

Kemudian Yogfest 2014 digagas.

Hingga sebulan sebelumnya, semuanya terasa masih mentah. Persiapan masih panjang padahal beberapa pekan lagi acara diadakan.

Sungguh sebuah keajaiban memang jika dilihat dari skala komunitas yoga kami yang kecil ini, semuanya bisa terlaksana dengan relatif baik di tanggal 18-20 April yang lalu. Mengagumkan sekali menyaksikan komitmen Yudhi Widdyantoro, Lusia Ambarwati (Uci), Agustine (Lily), Erico, Dwi Budi Susetyo, Nina Avrianty, Dandi dan Tarita serta semua teman-teman yang terlibat terhadap terselenggaranya Yogfest 2014 sampai sukses. Tujuan mereka sederhana saja: menyebarkan manfaat baik yoga ke siapa saja yang merasa tertarik. Saya hanya sedikit bisa menyumbangkan tenaga dengan menjadwal giliran kerja 8 relawan yang berperan sebagai narablog dan fotografer.

Pengalaman saya yang minim sebagai awak media center di sebuah acara sebesar itu membuat saya harus belajar sambil melakukan (learning by doing) semua tugas di Yogfest 2014. ‎Sampai kepayahan saya harus menyiasati agar semua kelas terliput oleh narablog karena kami harus memberikan reportase singkat. Saya harus melakukan tugas yang tidak sedikit: membuat promosi media sosial untuk tiap kelas, mengumpulkan foto dan tulisan yang masuk, mengunggah foto dan berita singkat ke jejaring sosial Twitter dan Facebook, meramu foto dan tulisan menjadi artikel di situs yogagembira.com. Terdengar mudah tetapi jika Anda harus melakukannya sambil diburu waktu dan dibanjiri oleh puluhan foto sekaligus, Anda pasti akan berubah pikiran. Waktu penyelenggara yang bertepatan dengan hari libur juga membuat kami harus memaklumi jika ada relawan yang absen atau memiliki acara pribadi.

Ketegangan bisa muncul sekonyong-konyong saat komputer dan printer tidak mau terhubung sehingga aktivitas terhambat. ‎Laptop saya yang hanya memakai Windows 7 tidak bisa ‘mengajak bicara’ printer HP milik Erico dan kami pun panik. Bolt milik Nina juga gagal terhubung dengan laptop saya saat hendak dipakai, tetapi untung saja ada modem Smart milik Erico yang berfungsi mulus. Dua hari kami harus berjibaku dengan hujan di lokasi sehingga saya juga ikut cemas dengan kekuatan sinyal dan koneksi Internet. Untunglah tidak terjadi hingga acara usai karena jika modem itu berulah, tumpuan kami untuk bekerja dengan lancar tak ada lagi. Habislah kami.

Lalu saat media center kami kedatangan wartawan media besar seperti Silet, Tempo, Antara dan sebagai‎nya, kami harus kelabakan mencari kartu identitas media ekstra karena jumlah peliput melebihi perkiraan semula. Semua karena kehadiran Anjasmara Prasetya, aktor yang kini juga menekuni yoga itu. Kami bersyukur dengan kehadirannya, karena itu artinya makin banyak orang akan mengetahui yoga dan acara yang kami adakan.

‎Di hari ketiga, saya yang terpaksa ‘jaga kandang’ terus mencoba nekat meninggalkan pos dan mendelegasikannya ke relawan yang sudah selesai bertugas.

Kegilaan dimulai saat saya masuk ke salah satu kelas ‎di sore hari yang biasanya hujan deras itu. Saya ditarik masuk ke tengah lingkaran di kelas Ryan Purinawa Yoga dan saya diharuskan berasana dengan diiringi musik. Padahal saya hanya mau mampir melihat suasana kelas dan mencicipi latihannya sedikit setelah penat di hari sebelumnya duduk terus sepanjang hari. Ironis memang, panitia acara yoga malah tidak sempat yoga.

‎Semoga tahun depan Tuhan masih memberikan umur panjang untuk terlibat dalam acara ini lagi.

From #tweetsfromthetop Event in Jakarta

‎

This is my first second post on this blog in April. I can’t tell you how busy I have gotten these past weeks. I lost my paternal grandmother fortnight ago. And I’m sure she is resting in utter and complete peace now. No pain, no strain.

Life goes on no matter what…

So tonight I intended to show her I’m living my life to the fullest, by following my passion: writing, social media and yoga. It’s the best life ever for me now and while it lasts, I want to enjoy it the best I could.

And this #tweetsfromthetop project is actually ‎about the celebration of life itself. The event was hosted by Punang at Ogilvy’s Kino Cafe. It’s about how to inspire more people out there with tweets that matter most. Because tweets that matter most are sometimes not the ones which get talked about most (meaningfulness versus virality). That’s why Twitter needs us, any Twitter users whether it be avid or occasional ones, to serve as crowdsourced curators. From oceans of tweets on the web, we are to collect and sort the best tweets of the Twitter accounts we think worth-following. Go to the official webpage of #tweetsfromthetop and fill out the nomination electronic form, said Mr. Singh of Twitter (@parrysingh). That easy.IMG_20140416_193252[1]

Some prominent social media figures and bloggers were present, just like Enda Nasution (@enda) and @ndorokakung. These two are among few Indonesians who first started to blog years ago.

 

 

 

 

Stephanie Wiriahardja of Hootsuite gave me these notebooks. Meanwhile, Twitter gave me the previous edition of #tweetsfromthetop.
IMG_20140416_214544[1]

What I Experienced as a Voter in General Election 2014

image

It was advertised as a hassle free, time and power saving procedure. But the reality is just NOT. It is not enough just to show them my identity card or kartu tanda penduduk (KTP) or passport to be entitled to the right to vote in the legislative election today (9/4).

The KPPS Chairman of Karet Kuningan whom I met told us why passports or identity cards cannot be used to claim your right to vote. He argued that they needed more control over these non-residents so it would be easier to allocate them to any place where there are ballots left because they are second rate, additional voters as non-residents.

image

So I vote here in Jakarta for the first time in General Election this year. I have not been registered as a resident in the capital but thank God any non-residents still may participate and cast their ballots even if their origin or area of origin is not Jakarta. It says somewhere in the rules that we can vote outside our area of registration only if we get ourselves registered as a voter at a nearby general election committee.

With a catch…

image

Like each non-resident all over the country, I can only vote if there is a ballot left. If there is no ballots left in the box, I simply have to forget the idea that I will vote for the legislative candidates that I am in favor of, which I to a certain extent doubt to find out. But well, I still have to struggle as long as there’s any hope or chance open.

Last night (8/4), I failed to get ‘license to vote’ from the Karet Kuningan KPPS Chairman, South Jakarta. But this very morning, along with a friend, I at last managed to obtain the local neighborhood official letter stating I wanted and was allowed to vote at a nearby general election booth despite my non-resident status. It took me around 60 minutes to stand in line and got the license! What a day!

And here I saw young workers from various regions in Indonesia were standing in line to get the license to vote here without having to cast their ballots at home. They look young in their twenties and early thirties, just like me. And what made me cringe was they knew they had the chance to contribute positive things to the nation and country through general election. Some young generation don’t give this election a damn. They’d rather go out to enjoy one rare public holiday and ignore the opportunities to participate in the democracy festivity. This looks good and optmistic as it may seem, I know, even for me! I suddenly realize why Devi Asmarani (a journo cum yoga teacher) was trying to convince more people to vote, not to abandon their rights to vote. I thought it would take another decade for the failing country to be a superpower country just like China and the US. Now this is the time.

It might be nothing to be called substantial but this is what I can do and am willing to contribute as best as I could. Whatever happens next, only God knows.

If the general elections cannot make Indonesia a better country, I don’t know what can.

%d bloggers like this: