Dari Yogfest 2014

IMG_20140420_142704[1]

Kelas Flexibility 101 dengan Decky Karunia. Ini instruktur hebat banget, karena bisa ngajari orang jadi tambah lentur. Tidak cuma lentur sendiri.

Saat saya bertemu dengan Yudhi Widdyantoro di suatu pagi di Taman Suropati pada bulan Desember 2010 yang basah itu, saya masih dilanda flu berat. Alhasil, saat saya diajari teknik pernapasan kapalabhati sambil duduk di taman dan dilihat beberapa anak kecil yang sangat ingin tahu, ingus itu keluar semua. Memalukan memang, tetapi bermula dari situ, saya akhirnya mengenal yoga perlahan-lahan.

Keteraturan saya berlatih di Taman Suropati juga bukan serta merta terjadi begitu saja. Mulanya saya lebih tertarik dengan kelas Biola di alam terbuka yang diadakan Taman Suropati Chamber di pagi hari sampai siang. Apa daya, setelah beberapa bulan latihan, saya menyadari bahwa bermain Biola bukan ‎kelebihan utama saya. Mungkin saya bisa melakukannya tetapi prosesnya akan lebih lama dan sulit, dan sebagai orang dewasa, saya sudah terlambat. Ini sama saja belajar dan mengenal bahasa asing di usia dewasa. Prosesnya akan lebih menantang dan membutuhkan banyak waktu. Dan saya tidak bisa berlatih sepanjang waktu yang saya mau di kamar untuk menggesek Biola karena semua orang akan mengeluhkan nadanya yang sumbang.

Tidak demikian dengan yoga.

Akhirnya dengan berbekal alas seadanya (selembar spanduk bekas), saya masuk dan ikut kelas yoga bersama di Taman Suropati sejak itu. Sebelumnya saya sudah membeli buku Leslie Kaminoff tentang yoga dan saya sangat antusias mengenai bagaimana melakukan yoga. Dan ternyata memang amat sangat mengasyikkan. ‎Sungguh!

Tanpa sebuah kartu anggota atau pengangkatan resmi, saya pun menjadi bagian dari Komunitas Yoga Gembira. Di sini, saya menemukan passion kedua saya setelah menulis. Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk membuat saya belajar dengan cepat. Saya tak merasa sedang belajar karena komunitas ini begitu menyenangkan. Saya tak pernah berpikir menemukan suasana seperti itu di tengah Jakarta yang kalau saya simak dari media TV hampir selalu dikatakan kejam, ‘kering’, dan mengerikan. Taman inilah yang menjadi oase yang menjadi tempat pengungsian mental dan spiritual saya di akhir pekan.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya masih berlatih yoga di Taman Suropati, tetapi kali ini tidak beralaskan spanduk bekas tetapi sebuah mat yoga biru hadiah seorang guru yoga yang tahun lalu menjadi guru yoga saya di Indonesia Yoga School: Koko Yoga. ‎Saya tidak pernah tertarik mengikuti yoga di kelas yang ramai di studio atau pusat kebugaran. Entah mengapa tetapi rasanya saya memang bukan penyuka gym dan sebagainya. Latihan bersama komunitas ini sudah saya anggap cukup karena toh saya masih bisa berlatih kapan saja sendiri di kamar, sebuah kelebihan yoga dibandingkan olah tubuh lainnya.

Kemudian Yogfest 2014 digagas.

Hingga sebulan sebelumnya, semuanya terasa masih mentah. Persiapan masih panjang padahal beberapa pekan lagi acara diadakan.

Sungguh sebuah keajaiban memang jika dilihat dari skala komunitas yoga kami yang kecil ini, semuanya bisa terlaksana dengan relatif baik di tanggal 18-20 April yang lalu. Mengagumkan sekali menyaksikan komitmen Yudhi Widdyantoro, Lusia Ambarwati (Uci), Agustine (Lily), Erico, Dwi Budi Susetyo, Nina Avrianty, Dandi dan Tarita serta semua teman-teman yang terlibat terhadap terselenggaranya Yogfest 2014 sampai sukses. Tujuan mereka sederhana saja: menyebarkan manfaat baik yoga ke siapa saja yang merasa tertarik. Saya hanya sedikit bisa menyumbangkan tenaga dengan menjadwal giliran kerja 8 relawan yang berperan sebagai narablog dan fotografer.

Pengalaman saya yang minim sebagai awak media center di sebuah acara sebesar itu membuat saya harus belajar sambil melakukan (learning by doing) semua tugas di Yogfest 2014. ‎Sampai kepayahan saya harus menyiasati agar semua kelas terliput oleh narablog karena kami harus memberikan reportase singkat. Saya harus melakukan tugas yang tidak sedikit: membuat promosi media sosial untuk tiap kelas, mengumpulkan foto dan tulisan yang masuk, mengunggah foto dan berita singkat ke jejaring sosial Twitter dan Facebook, meramu foto dan tulisan menjadi artikel di situs yogagembira.com. Terdengar mudah tetapi jika Anda harus melakukannya sambil diburu waktu dan dibanjiri oleh puluhan foto sekaligus, Anda pasti akan berubah pikiran. Waktu penyelenggara yang bertepatan dengan hari libur juga membuat kami harus memaklumi jika ada relawan yang absen atau memiliki acara pribadi.

Ketegangan bisa muncul sekonyong-konyong saat komputer dan printer tidak mau terhubung sehingga aktivitas terhambat. ‎Laptop saya yang hanya memakai Windows 7 tidak bisa ‘mengajak bicara’ printer HP milik Erico dan kami pun panik. Bolt milik Nina juga gagal terhubung dengan laptop saya saat hendak dipakai, tetapi untung saja ada modem Smart milik Erico yang berfungsi mulus. Dua hari kami harus berjibaku dengan hujan di lokasi sehingga saya juga ikut cemas dengan kekuatan sinyal dan koneksi Internet. Untunglah tidak terjadi hingga acara usai karena jika modem itu berulah, tumpuan kami untuk bekerja dengan lancar tak ada lagi. Habislah kami.

Lalu saat media center kami kedatangan wartawan media besar seperti Silet, Tempo, Antara dan sebagai‎nya, kami harus kelabakan mencari kartu identitas media ekstra karena jumlah peliput melebihi perkiraan semula. Semua karena kehadiran Anjasmara Prasetya, aktor yang kini juga menekuni yoga itu. Kami bersyukur dengan kehadirannya, karena itu artinya makin banyak orang akan mengetahui yoga dan acara yang kami adakan.

‎Di hari ketiga, saya yang terpaksa ‘jaga kandang’ terus mencoba nekat meninggalkan pos dan mendelegasikannya ke relawan yang sudah selesai bertugas.

Kegilaan dimulai saat saya masuk ke salah satu kelas ‎di sore hari yang biasanya hujan deras itu. Saya ditarik masuk ke tengah lingkaran di kelas Ryan Purinawa Yoga dan saya diharuskan berasana dengan diiringi musik. Padahal saya hanya mau mampir melihat suasana kelas dan mencicipi latihannya sedikit setelah penat di hari sebelumnya duduk terus sepanjang hari. Ironis memang, panitia acara yoga malah tidak sempat yoga.

‎Semoga tahun depan Tuhan masih memberikan umur panjang untuk terlibat dalam acara ini lagi.

3 Comments

Filed under yoga

3 responses to “Dari Yogfest 2014

  1. Huhuhu ga bisa ikut karena ke Cirebon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s