Merpati Zebra

Kakekku suka sekali dengan burung perkutut. Di beranda samping rumahnya, sering aku dengar suara mendengkur yang khas. “Kurrr, tekurr kurr kurrr, kurrr…,”begitu bunyinya. Entah jumlah burung-burung itu ada berapa tetapi yang pasti mereka sering riuh rendah mendengkur di malam hari, membuatku tidak bisa tertidur pulas.

Burung-burung itu menjadi peliharaannya sejak memasuki masa pensiun. Aku tidak habis pikir mengapa harus memelihara burung perkutut karena menurutku tampilan burung perkutut jelek. Bulunya yang berwarna abu-abu, daerah dada, muka dan wajahnya juga begitu. Gelap semua. Tidak putih bersih seperti merpati. Kakek juga memelihara burung merpati tetapi karena harga burung perkutut lebih mahal daripada merpati, perkutut pun menjadi prioritas.

Kata kakek, burung perkutut yang riang dan sehat akan dengan sendirinya rajin berkicau. Tetapi pikirku, bagaimana mereka bisa bahagia dan riang apalagi sehat kalau terus berada di kandang sempit yang sama, dan tidak dapat mengepakkan sayap dengan leluasa di udara? Aku memandang ke dalam kandang yang berjeruji bambu itu dan mengasihani burung perkutut abu-abu jelek bersuara merdu yang tak bisa melepaskan diri di dalamnya.

Seorang sahabat pernah berkata seharusnya burung dibiarkan lepas di alam bebas. Mirip di tempat-tempat umum di Eropa, yang sering dikerumuni merpati-merpati lapar. Di sini, hanya burung gereja saja yang berkeliaran bebas. Kebiasaan semacam itu hendaknya dihentikan segera, ujarnya berorasi di depanku.

Kupikir benar juga. Burung punya sayap. Hakikat penciptaan sayap adalah digunakan untuk terbang, dikepakkan di udara bebas. Jadi kalau dikurung begitu, sama saja mencederai tujuan diciptakannya saya oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, aku tidak kuasa menyampaikannya pada kakek. Kakekku yang memasuki masa pensiun itu hanya membutuhkan sedikit hiburan kecil. Mainan yang membuatnya lupa betapa membosankannya masa tua. Kehilangan jabatan dan pekerjaan sungguh-sungguh depresif. Mengetahui bahwa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikan laju penuaan yang ujungnya kematian. Tetapi kakek masih punya kami semua dan burung-burung itu. Burung-burung perkutut berwarna abu-abu yang bersuara merdu, yang tidak berdaya terkurung demi melupakan makin senyapnya hidup di masa uzur.

Di halaman belakang rumah yang dekat dengan kebun dan sawah yang luas itu, kakek sering memandikan burung-burung perkututnya dengan penuh kasih sayang. Bukan memandikan seperti seorang bayi tetapi hanya menyemprotnya dengan air bersih yang ditampung di sebuah bejana dengan tangkai penyemprot yang bila ditekan akan menyemburkan air ke arah yang dikehendaki. Aku suka memainkan itu untuk berpura-pura menyiram tanaman atau berakting sebagai tukang pangkas rambut. Adem kepala ini kalau disemprot air yang sejuk seperti itu berulang kali. Bahkan membuat mengantuk kalau aku berada di kursi salon.

Setelah memandikan burung-burungnya, kakek membawa kandang burung-burung perkututnya ke sebuah tiang tinggi. Ia mengereknya seperti seorang pengibar bendera mengerek bendera merah putih ke pucuk tiang di suatu upacara bendera pagi di hari Senin. Khidmat dan penuh penghayatan.

Di atas sana, sang perkutut menikmati timpaan sinar mentari dari timur. Kadang-kadang aku berharap perkutut itu memiliki sedikit saja kecerdasan dan kekeraskepalaan seekor tikus untuk mau menggigit, menendang, atau mencakar bilah-bilah kayu yang melingkupinya. Tetapi ia hanya tahu bagaimana bertengger dengan manis di dalam kandangnya, membenamkan paruh ke wadah air untuk minum, dan memakan biji-bijian yang disajikan. Paruhnya yang mungil juga tidak sekuat burung woodpecker.

Untuk santapan mereka, kakek juga pernah menyediakan ulat-ulat hongkong. Binatang itu bukannya diimpor langsung dari wilayah Tiongkok yang pernah diduduki Inggris itu, tetapi kata “hongkong” mungkin dipakai untuk menekankan ukurannya yang besar dan gemuk. Jika saja ia lebih panjang dan ramping, mungkin aku mengiranya seperti mi dan segera melahapnya untuk kemudian memuntahkannya kembali setelah ulat itu menggelinjang di tenggorokan.

Ulat-ulat itu lincah saat bergerak. Dalam satu wadah plastik, kakek menampung mereka. Ia menempatkannya di pojok dapur, berharap aku tidak bisa menemukannya dan tidak bisa bermain dengan ulat-ulat ‘lucu’ itu.

Siasat kakek tidak manjur. Entah bagaimana aku bisa menemukan ulat-ulat hongkong itu. Aku ambil sebuah kursi saat semua orang tidak mengetahui aksiku lalu kuambil sedikit air dari kran di jamban. Jika mereka begitu lincah bergerak, pasti akan lebih lincah dan mengasyikkan untuk dilihat jika mereka berada dalam air, pikirku. Siapa tahu mereka memiliki kemampuan tersembunyi untuk berenang? Kutuangkan air hingga permukaannya menyentuh batas atas wadah plastik. Aha, benar saja, mereka makin lincah dalam menggerakkan tubuh!

Kupandangi mereka berenang di wadah itu hingga jam makan siang tiba. Aku pun makan, meninggalkan ulat-ulat itu berjuang di dalam air. Entah apa makanan yang dimasak nenek tetapi aku segera bergegas melahap dan kembali menuju ke sudut dapur.

“Nah! Kamu ya!”seru kakek. Ia berdiri di sana, dengan pandangan mata mengarah padaku, di tangan kanannya yang sudah berkerut itu ada wadah plastik ulat-ulat hongkong yang malang. Ulat-ulat hongkong yang diam, mengapung, tidak bergerak sama sekali di permukaan air. Mereka mati.

Ulat-ulat itu pun segera disajikan untuk para perkutut. Daripada membusuk tanpa memberi faedah. Aku tidak tahu mana yang lebih baik: mati karena tenggelam atau mati karena dipatuk perkutut. Dua pilihan yang sulit bagi ulat-ulat hongkong yang malang.

Tetapi setidaknya mereka tidak mati sia-sia. Burung-burung perkutut kakek tetap sehat meski tidak bertambah bahagia juga setelah memakan ulat-ulat gemuk dengan kandungan air luar biasa. Ibarat manusia diberi makan daging sapi gelonggongan. Mereka tetap hidup dan senantiasa memberi kebahagiaan pada kakek dengan suara mendengkurnya yang terus meramaikan malam yang gulita, tidak tahu apa yang harus dilakukan di dalam kandang yang sempit, terus bermimpi akan terbang di suatu pagi yang tidak kunjung datang.

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s