Tetap Waras di Tengah Keriuhan Politik Indonesia

Mengikuti dunia politik Indonesia, seakan tidak ada habisnya. Capai saya dibuatnya. Drama, manuver, kepicikan, sakit hati, rasa tidak tahu malu, semangat menjadi lebih baik, skeptisisme, arogansi, apatisme, semuanya bercampur aduk membentuk anyaman intrik yang mengasyikkan untuk diliput, didokumentasikan, dan diabadikan bagi generasi mendatang. Entah apakah nanti anak cucu kita mengabaikan, menertawakan, mencemooh atau membacanya dengan khidmat, itu urusan mereka.

Mengikuti jalan pikiran para politikus membuat saya pusing tujuh ratus keliling. Mungkin karena saya orang yang berpikiran sederhana, tidak banyak bergulat dengan taktik dan trik. Tidak heran, saya sering mual saat mendengar diskusi politik di TV. Karenanya, saya lebih suka mendengar pendapat para rakyat di bawah yang lebih sederhana pola pikirnya. Setelah saya pikir-pikir, bisa jadi karena inilah saya dulu gagal melamar pekerjaan menjadi diplomat negeri ini. Tetapi saya setidaknya merasa gagal dengan anggun karena saya tidak berpikir saya terpuruk sekarang. Saya justru lebih merasa bebas menjadi diri sendiri. Kegagalan itu menuntun saya ke koridor yang tepat.

Tadi malam saat Najwa Shihab memandu acara debat presiden di Metro TV melalui ponsel TV Nexian milik ibu kos, saya hanya berkomentar ala kadarnya sementara bu kos berceloteh panjang lebar tentang bagaimana takutnya para nelayan di Cirebon dengan Prabowo yang naga-naganya akan menggunakan metode represifnya bila nanti menjabat posisi presiden RI. “Mereka takut nanti ditembaki, dibunuh kayak jaman Suharto dulu kak. Lha itu juga Prabowo kan menantunya Pak Harto. Bekas TNI juga,”katanya. Makanya Jokowi menjadi opsi yang lebih masuk akal bagi mereka.

Lain lagi dengan ayah saya yang pensiunan PNS. Saat pagi-pagi mengantar saya pijat di seorang tukang pijat tunanetra, beliau lebih sering mengagung-agungkan Prabowo. Berkali-kali ia berdebat dengan sang tukang pijat yang tampak condong pada Joko Widodo. “Lihat saja itu Jokowi dulu Kristen, China lagi. Heribertus Joko… Bla bla bla. Bagaimana pun juga memilih pemimpin harus yang amanah, berkeyakinan sama. Siapa bisa tahu nanti dia kelak mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Islam? Iya kan?” Saya tidak tahu apakah isu Heribertus itu sudah terklarifikasi atau belum tetapi argumen ayah relatif lemah. Kenapa harus meributkan masa lalu? Yang penting sekarang kan? Sembari merilekskan otot kaki saya dengan pijatannya yang mantap, tukang pijat itu berseloroh,”Keyakinan kan bukan masalah pak, asal bisa memerintah dengan baik, masyarakat dan bangsa bisa lebih maju dan sejahtera. Percuma kalau urusan keyakinan sudah bagus tapi memerintah dengan mengecewakan. Buktinya banyak yang haji tapi korupsi juga.” Hingga akhirnya ayah mengkontradiksi pernyataannya sendiri,”Ya kurangnya Prabowo cuma satu, dia tak punya calon ibu negara. Coba saja kalau dia cari pasangan sebelum maju ke pemilihan presiden ini.” Nadanya tetap penuh ekspektasi.

Sementara itu, adik ipar saya mengambil pendekatan yang lebih netral dan objektif kali ini dalam isu-isu politik. Ia pernah menjadi aktivis PKS (Partai Keadilan Sejahtera) beberapa tahun lalu karena ia juga bekerja dalam baitul mal, semacam lembaga keuangan mikro ‘syariah’ hingga ia sadar itu semua hanya label. Konsep syariah tidak benar-benar diterapkan secara utuh dan konsisten dalam lembaga yang ujung-ujungnya berfungsi sebagai badan pengkaderan PKS. Kini, ia sudah melepas itu semua. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai manajer di sana dan secara otomatis terlepas dari kungkungan PKS juga. Simpatinya memudar begitu ia menguak kondisi internal dan berbagai polemik seputar pengambilan kebijakan partai di lingkup kabupaten saja. “Niat awalnya semua bagus, menegakkan Islam dan nilai-nilainya, tetapi toh begitu masuk dan terjun ke politik praktis, akhirnya juga sama saja. Tetap kotor seperti partai-partai lain. Ya sudahlah sekarang tidak perlu terlalu fanatik calon ini itu,”katanya lirih seolah sudah putus asa. Saya cuma manggut-manggut, mendengarkan dengan penghayatan penuh terhadap keluh kesahnya. Ia seperti orang linglung yang kepalanya baru saja terbentur-bentur benda keras. Lanjutnya lagi, ia bingung saat petinggi-petinggi partai di kabupaten dengan mudah mengalihkan dukungan dari satu calon ke calon kala pemilihan bupati beberapa waktu lalu. Dalih mereka, ucap adik ipar saya, ialah karena partai tidak mau suara dukungan itu musnah begitu saja. Dari sana, titik antiklimaks itu mulai tercipta, lalu terus menurun tanpa jeda. “Kita pilih yang manfaatnya lebih banyak daripada mudharatnya,”katanya mengutip fatwa petingginya saat itu. Bah!

Tempo hari sembari menyeterika pakaiannya, ibu bertanya pada saya siang itu,”Nanti pilpres, pulang nggak?” “Buat apa pulang? Kan bisa milih di sana seperti Pileg kemarin,”tukas saya.”Kamu bakal milih siapa?”Ibu bertanya. “Hhh, Jokowi… Prabowo… Ah tidak tahu lah. Nanti saja dipikir di bilik suara. Kan masih lama,”saya menjawab dengan nada malas.

Sebetulnya saya terkejut ditanya seperti itu. Di pilpres sebelumnya, ibu tidak pernah menanyakannya dan saya juga merasa pilihan pileg dan pilpres saya sebagai suatu kerahasiaan yang ketat. Dan di sini, saya juga menolak untuk membuka secara publik orang yang akan saya pilih untuk menjadi wakil saya.

Kenapa saya harus serahasia itu?

Pertama-tama, karena hal itu lebih terasa nyaman bagi saya. Bergaul tanpa harus menyatakan saya adalah simpatisan, partisan atau bahkan tim sukses kandidat tertentu akan lebih nyaman.

Kedua, karena saya terlalu malas berdebat kusir dengan orang-orang di sekeliling saya tentang kandidat presiden yang paling ideal. Tiap warga Indonesia dengan hak pilih mempunyai kriteria sendiri, jadi bisa dibayangkan repotnya kalau harus memenuhi semuanya. Dan saya tidak mau membuang waktu dengan debat yang tidak jelas.

Ketiga, saya lebih baik bekerja menghasilkan sesuatu yang konkret daripada hanya beretorika. Lain kasus kalau saya mencari nafkah sebagai analis, peneliti atau jurnalis politik. Tentu mau tak mau saya harus ikut arus dan mengikuti setiap perkembangan politik 2014. Namun, untungnya saya tidak harus meraup rupiah dari dunia politik. Saya peduli, saya mau bangsa ini lebih baik, tetapi bukan melalui euforia maya, retorika hampa dan janji yang belum pasti terpenuhi.

Anda mungkin mencap saya tidak peduli dengan nasib bangsa. Namin izinkan saya memilih sikap diam ini. Sikap yang saya pilih dengan kesadaran penuh. Dan saya peduli, hanya saja dengan cara saya sendiri. Kepedulian terhadap nasib bangsa tidak cuma diukur dari intensitas dan frekuensi seseorang berbicara politik bukan?

Yang terpenting lagi, saya tentu akan menggunakan hak pilih saya tanggal 9 Juli 2014 nanti karena saya tidak mau hak suara saya musnah begitu saja. Apakah saya akan memilih Jokowi-Jusuf Kalla, Prabowo-Hatta Rajasa, atau mencoblos semuanya agar kertas suara saya rusak dan tidak sah agar tidak bisa disalahgunakan oknum, hanya Tuhan dan saya yang tahu.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s