Di Antara Dua Downward Facing Dog

“Inhale, exhale…,”batinnya dalam hati mengatur kembang kempisnya paru-paru yang bergembira di Sabtu pagi itu.

Pria muda itu masih terus bergerak di atas bangku semen berubin hitam mengkilap. Tubuhnya yang berperawakan sedang itu berpeluh, meski agak samar terlihat berkilau tertimpa sinar matahari pagi yang mulai terik saat pukul 8 pagi.

Seorang lelaki tua turun menuju tangga yang mengarah ke bangku tadi. Tanpa isyarat, ia berhenti di samping dan menyapa si pria muda,”Tadi itu olahraga apa, mas? Yoga ya? Betul?”

Terengah-engah napasnya, si pria muda tadi mendongakkan kepalanya dari posisi downward facing dog-nya. Ia menurunkan kedua lutut ke permukaan bangku lalu duduk. Ia mengamati lelaki tua di depannya.

Lelaki itu berkacamata bening. Rangka kacamatanya tipis sekali, sampai ia tidak terlihat memakai apapun secara sekilas di wajah dan matanya yang masih cerah dan relatif sehat dan berenergi untuk orang seusianya. Rambutnya yang tersisa bisa dihitung dengan jari, selain itu hanyalah padang luas yang terhampar di ubun-ubun kepalanya. Ibarat permukaan bumi, kepalanya adalah Gurun Sahara, dengan beberapa cuil oase yang tertebar acak di sana-sini. Tubuhnya masih tegap, tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Dan ia berkeringat. Kaos polonya lembab dan ia mengenakan sepasang sepatu kets bersol tebal.

Setelah meyakinkan diri bahwa orang tua tadi bermaksud baik, pria muda itu menata posisi badannya. Ia duduk di tepi bangku lalu mempersilakan kakek itu duduk.

“Sepertinya tadi gerakan yoga ya?”Pria tua itu bertanya.

Yang ditanya memicingkan mata. Matahari menyorot mukanya dengan ganas. “Betul..”

“Memang apa manfaatnya yoga?”ucapnya penasaran.

“Olahraga dan olahrasa, pak. Pernapasan menjadi lebih baik dan pikiran lebih tenang. Badan lebih enteng,”ia menjawab.

“Saya lihat tadi gerakan-gerakannya agak sulit. Sudah latihan berapa lama?”

“Sepuluh tahun.”

“Oh hebat. Pantas saja. Di mana belajarnya?”

“Dengan guru saya di sana,”jawabnya dengan senyum tersungging sekali lagi. Jari telunjuknya mengarah ke sebuah tempat.

“Ah, di sana ya. Tinggal di mana?”

“Di dekat sini pak. Saya bekerja di situ,”terang si pria muda sambil menunjuk ke sebuah pencakar langit yang menjulang di balik mereka.

Sekonyong-konyong arah pembicaraan berubah. “Oh! Di sana ya. Sudah berapa lama bekerja di sana?”

Ia menyebut bilangan tahun.

“Di bagian apa?”ia terus menyelidik.

“Saya bagian itu pak,”ujarnya. Pria muda itu terlihat kurang nyaman dan lelaki tua itu puas mendapat jawaban yang detil.

Lalu si lelaki tua bertanya,”Anda tahu berapa harganya apartemen di tempat kerja Anda?”

“Kurang tahu pak. Miliaran.”

“Dulu saya membeli apartemen berkamar tiga di sana,”ia menunjuk ke sebuah menara pencakar langit di depan. “Harganya dulu Rp300 juta. Tapi itu sudah lama sekali. Sekarang sudah 1,3 miliar,”paparnya tanpa diminta pria muda.

“Semahal itu? Padahal cuma berkamar tiga,”pria muda itu bergumam dalam hatinya.

Dari kejauhan, kedua pria berbeda usia itu seperti kakek dan cucunya yang sedang berbincang di pagi hari.

Pria muda itu ingat betapa diam kakek kandungnya, sangat lain dengan lelaki tua di sampingnya yang lebih banyak membuka diri dan mengobrol. Jika masih hidup sampai sekarang, usianya sudah 84 tahun, batinnya. Usia yang mungkin bisa tercapai tanpa rokok.

Setelah bertukar nomor ponsel, keduanya mengakhiri obrolan perkenalan itu. Matahari makin terik saja menimpa muka mereka.

Orang tua itu kembali menapak rute jalan paginya dengan sepatu kets bersol tebalnya. Yang lebih muda kembali menata napasnya dalam posisi downward facing dog. Lalu semuanya kembali berputar seperti sediakala.

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s