Peran Penting Ayah bagi Perkembangan Anak yang Belum Banyak Diketahui Orang

Membaca ulasan Mark Oppenheimer berjudul “The Case for Dads” di China Daily tanggal 11 Juni 2014 di dalam penerbangan Dragon Air pagi ini dari Fudong Airport di Shanghai ke Bandara Hongkong, saya teringat betapa bangganya ayah saya saat mengetahui saya yang masih sekolah dasar kelas 1 waktu itu sudah mengetahui arti kata “deteksi”. Kata itu menurutnya belum banyak diketahui dan dipakai anak-anak seumur saya. Saya sendiri suka dengan kata itu. Membuat kalimat dengan kata-kata baru amat menyenangkan bagi saya saat itu. Ada semacam kesenangan jika saya bisa membuat kalimat yang memukau pembaca, membuat mereka terhibur, atau semacamnya.

Ayah memperkenalkan saya pada berbagai bahan bacaan di perpustakaan sekolah yang beliau kepalai. Saya beruntung sebagai anaknya karena mendapatkan akses ke perpustakaan sekolah yang seolah tanpa batas. Kapan saja saya bisa mengembalikan buku, semau saya, tidak ada yang bisa melarang.

Tetapi saya kemudian memaksa untuk pindah sekolah. Saya mau bersekolah di sekolah swasta yang memiliki drum band, meski akhirnya saya ikut dan sama sekali tidak tahu cara memainkan serulingnya. Saya akui saya tidak pernah sukses dengan dunia permainan alat musik dan inilah kegagalan saya yang pertama sebelum saya belajar biola 20 tahun kemudian dan berhenti sama sekali. Lebih tepatnya menyerah. Dan saya memutuskan untuk kembali ke dunia menulis dan fokus saja padanya.

Dapat disimpulkan, tanpa menampik peran ibu, peran ayah dalam perkembangan saya sebagai penyuka dunia tulis menulis sangat besar. Dan begitu saya membaca artikel Oppenheimer di atas, saya bisa mengamininya. Dalam artikelnya, Oppenheimer mengulas buku “Do Fathers Matter?” tulisan Paul Reburn yang berisi uraian peran-peran penting seorang ayah dalam tumbuh kembang anaknya yang belum banyak diketahui publik karena masih tertutup peran ibu yang demikian signifikan.

Tulis Raeburn, ayah yang sehat bisa menekan risiko depresi yang dilimpahkan seorang ibu pada anak mereka. Seorang ayah yang sehat secara mental dan fisik (baca: tidak mengalami depresi) membantu mengurangi kebiasaan menangis berlebihan pada anak. Dikatakan pula bahwa ayah-ayah juga tidak terhindar dari depresi pasca kelahiran yang bersifat hormonal. Wow! Secuil pengetahuan baru bagi kita calon ayah dan ayah. Bila seorang anak perempuan memiliki ayah yang menyayanginya di saat kanak-kanak, kecenderungan mengalami pubertas dini, seks pranikah dan kehamilan di luar nikah juga menurun. Bruce J. Ellis dari University of Arizona menegaskan bahwa anak yang terpajan dengan hormon pheromone ayahnya akan mengalami pubertas lebih lambat.

Selanjutnya, Raeburn meyakinkan bahwa ayah-ayah mampu menjadi faktor pendorong pertumbuhan kosakata sang anak. Apa pasal? Sebuah teori pun muncul. Ibu-ibu yang lebih dekat dengan sang anak cenderung menyesuaikan ucapan mereka dengan kemampuan verbal sang anak, sehingga kosakata anak relatif statis. Akan tetapi sang ayah yang memiliki waktu lebih sedikit bersama anak sehingga kurang mengikuti perkembangannya, akan ‘nekat’ menggunakan kata-kata yang lebih kompleks saat menghadapi anaknya dan memberikan kosakata baru dari dunia luar untuk diserap otak si bocah. Tak heran, para ayah bisa menjadi guru bahasa yang ampuh bagi anak-anak mereka. Ah, bangganya para ayah!

Surga memang berada di bawah telapak kaki ibu tetapi jangan lupa, tanpa ayah, ibu kita juga tidak bisa menjadi seorang ibu.

20140612-015426-6866218.jpg

2 Comments

Filed under miscellaneous

2 responses to “Peran Penting Ayah bagi Perkembangan Anak yang Belum Banyak Diketahui Orang

  1. Rini Nurul Badariah

    Kalimat penutup yang keren:)

  2. Rini Nurul Badariah

    Reblogged this on Editrice. Tradutrice. Et cetera. and commented:
    Terharu membaca postingan bermanfaat ini.
    “Ibu-ibu yang lebih dekat dengan sang anak cenderung menyesuaikan ucapan mereka dengan kemampuan verbal sang anak, sehingga kosakata anak relatif statis. Akan tetapi sang ayah yang memiliki waktu lebih sedikit bersama anak sehingga kurang mengikuti perkembangannya, akan ‘nekat’ menggunakan kata-kata yang lebih kompleks saat menghadapi anaknya dan memberikan kosakata baru dari dunia luar untuk diserap otak si bocah. Tak heran, para ayah bisa menjadi guru bahasa yang ampuh bagi anak-anak mereka. Ah, bangganya para ayah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s