Saya dan India: Ada Apa?

Di atas penerbangan Cathay Pacific CX 390 ke Beijing pagi ini, seolah aku kembali disadarkan tentang hubunganku dengan India. Seolah semesta terus menyeru,”Kau itu jangan ragu dengan itu.” Itu?? Itu apa maksud Anda???” Suaraku menggaung di langit rasa-rasanya. Tidak terjawab oleh apapun dan siapapun.

Kupandangi wajah di cermin toilet pesawat yang ekstra sempit lalu mengoleskan sedikit krim wajah yang disediakan gratis. Kering sekali rasanya. Karenanya aku benci pendingin udara. Hawa dingin membuatku ingin berhibernasi. Kuyu dan layu.

Saatnya kembali ke tempat duduk, pikirku. Tempat dudukku di dekat jendela dan aku bisa memandangi langit dan sayap pesawat yang meliuk-liuk tertimpa sinar matahari siang yang menyilaukan mata. Cakrawala tidak tampak karena semua tertutup awan putih. Sebuah garis kabur menjadi tempat pertemuan birunya langit dan putihnya awan nun jauh di sana.

Sungguh keparat dinginnya kabin pesawat ini, sampai aku ingin memecahkan kaca jendela kedap udara itu agar bisa merasakan hangatnya matahari di luar sana. Sayangnya, aku tidak bisa. Atau kami semua akan celaka.

Kursi 67A itu menantiku dan sekonyong-konyong kudapati nampan di atas mejaku. Apa ini?!! Sebuah label bertuliskan “Cathay Pacific. Hindu Meal (HNML) non-veg.”

Tadi seorang pramugari, teman dudukku mengisahkan asal muasal makanan tadi, mengatakan pada pemandu tur bahwa makanan itu sejatinya untukku. Memangnya siapa yang meminta ini?

“Memangnya kamu vegetarian?” Temanku mengira aku pantang daging. Aku menggeleng.

Aku lihat semua orang belum diberikan apapun untuk disantap. Mengapa kami berdua sudah?

Ternyata kami tidak sendirian. Dua orang di kanan belakang kami sudah diberikan makanan yang sama persis denganku. Bedanya, mereka berdua tampak jelas dari anak benua Asia, India. Seorang pria dengan cambang dan jenggot yang lebat pasca beberapa hari dicukur itu mengenakan kaos polo ungu. Ia bersama seorang wanita yang tampak lebih tua darinya. Mungkin ibu atau bibi. Entahlah. Dan ada beberapa lagi muka yang sama. Mereka menyantap hidangan yang persis si mejaku dengan lahap.

Temanku berdarah China jadi tidaklah mengejutkan kalau dia diberi makanan khas China. Sementara aku?

Ini sekali lagi sangat menggelikan. Akan tetapi kejadian ini adalah sebuah hal yang mudah disimpulkan penyebabnya. Stereotip ras dan tampilan fisik. Apalagi?

Aku lihat lelaki Kaukasia paruh baya di depan kanan. Tetapi ia tidak diberi makanan Barat. Pramugari itu bertanya ramah apakah ia mau menyantap sarapan bacon ala Barat atau bubur ala Timur. Dan laki-laki itu memilih bubur.

Ternyata ini bukan masalah salah memberi menu makanan. Aku juga merasa ini perampasan kebebasan. Kebebasan untuk menentukan santapan!!!!

Lalu aku masuk ke toilet liliput itu kembali dan becermin di depan kacanya yang jernih, memandang lekat-lekat wajahku sembari bergumam,”Apakah kau benar-benar India?”

“Yang pasti, kau manusia….”

20140612-020703-7623482.jpg

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s