Menemukan Guna Cedera dalam Yoga

Cedera sudah bukan hal aneh lagi bagi mereka yang menekuni olah tubuh seperti bulutangkis, basket, sepakbola. Tak terkecuali yoga.

Saya termasuk yang beruntung. Sepanjang ingatan, sejak berlatih yoga di bulan Desember 2010 saya belum pernah mengalami cedera parah yang diakibatkan kesalahan teknik. Namun, itu bukan berarti teknik saya sudah benar. Mungkin itu karena anatomi tubuh dan usia saya yang masih baik tetapi seiring bertambahnya usia tentu saya tidak bisa lagi seceroboh sekarang. Misalnya kayang dan hanumanasana tanpa pemanasan yang memadai.

Suatu saat saya pernah menyaksikan seorang teman yang tampak bermalas-malasan dalam kelas yoga yang saya ikuti. Ternyata saya salah sangka. Sebentar kemudian, ia mengangkat tangan dan bertanya sambil memegang punggungnya,”Maaf, punggung saya kambuh lagi.” Guru menghampirinya dan menyarankannya memodifikasi pose yang dilakukan.

Sejenak saya berpikir: bagaimana bisa pose semudah itu ia tidak bisa lakukan? Itu karena ia sedang cedera! Saya yang jarang terkena cedera tidak bisa merasakan penderitaan teman tersebut dan seketika mencapnya sebagai “pemalas” atau “murid manja”. Tetapi lama-lama saya paham bahwa tubuh kami berbeda. Kami bukan orang yang sama. Bahkan badan saya di dua saat yang berbeda pun bisa terasa berbeda sama sekali. Empati dan kepekaan ini belum saya miliki dan kuasai dengan baik, sehingga saya belum bisa mengatakan saya seorang guru yoga. Karena menurut saya, seorang guru yang baik haruslah mampu merasakan dan memberikan solusi atas kekurangan muridnya agar ia masih bisa berlatih tanpa memaksakan atau memanjakan diri. Mesti pas, seimbang, tidak kurang atau lebih.

Dari cederanya itu, teman saya mendapat banyak pengalaman dalam mengajar agar pelaksanaan kelas lebih aman bagi murid. Ia mungkin punya banyak cedera yang membatasinya berpose-pose menantang tetapi di lain sisi, ia lebih paham bagaimana caranya supaya orang lain terhindar dari malapetaka bernama cedera. Tubuh saya yang beranatomi lentur kurang bisa membuat saya menghayati prinsip-prinsip berasana dengan aman dan lebih ‘mindful’, penuh kesadaran.

Hingga beberapa hari terakhir, akhirnya saya merasakan sakit di punggung. Otot punggung bawah saya terasa nyeri. Entah kenapa. Bisa jadi karena terlalu berlebihan dalam berasana, kurang pemanasan atau karena buruknya posisi badan saat tidur di perjalanan udara atau bisa juga terlalu banyak membawa tas punggung dengan berat yang luar biasa. Mungkin semua itu berakumulasi juga dan membuat saya sakit punggung.

Istirahat. Itulah yang terpikirkan saat saya merasakannya. Apakah ini cedera atau tidak, tetapi intinya ada rasa sakit yang berkepanjangan. Cedera ini membuat saya lebih lembut dengan punggung saya. Tak ada pose-pose menekuk ke belakang yang terlalu intens tanpa pemanasan cukup lagi. Saya belajar banyak dari sini.

Mindfulness atau kesadaran terhadap diri dan badan serta pikiran juga makin terasah setelah kita mengalami cedera karena kata seorang guru, cedera itu bisa terjadi karena pikiran dan gerakan tidak sejalan. Saat melakukan asana, kadang pikiran melanglang buana hingga akhirnya berujung celaka yang berbentuk cedera yang sebentar atau lama. Dengan mengalami cedera, pikiran menjadi lebih fokus pada apa yang sedang dilakukan karena lengah sedikit saja, cedera itu bisa kambuh atau bertambah parah. Itulah sisi positifnya.

Namun, di sisi lain janganlah menggunakan cedera sebagai alasan untuk tidak berlatih sama sekali. Seorang teman yoga yang sudah berlatih puluhan tahun dan telah cukup berumur pernah berkata pada saya,”Kalau cedera jangan dimanja.” Saya pikir itu sebuah kegilaan! Mengapa tidak diistirahatkan saja sepenuhnya? Bagaimana kalau kambuh atau lebih parah? Bukankah itu berisiko? Ia yang sudah paruh baya dan pernah cedera punggung kembali berlatih pose kayang. Ia mengaku dulu sudah bisa dan sekarang memulai dari nol karena terkena cedera. Kayangnya mungkin tidak sesempurna dulu karena sudah dimodifikasi sesuai kemampuannya sekarang namun semangatnya tidak padam begitu saja. Apalah saya jika harus menghakimi pemikiran dan caranya berlatih? Saya sadar kami memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan kecintaan kami pada kehidupan ini melalui yoga. Dan saya berterima kasih pada teman-teman saya itu karena sudah mengajarkan banyak hal pada saya yang masih pemula ini.

Saya makin mengerti kalau cedera menjadi mekanisme alami tubuh untuk mengatakan,”Cukup. Kau sudah bekerja terlalu bersemangat dan terlalu keras. Rehatlah sejenak. Lalu mulai kembali perlahan. Nikmati hidupmu.” Karena otot, tulang, ligamen, tendon kita tidak bisa bicara, diciptakanlah cedera dan rasa sakit untuk menyampaikan pesan itu pada kita.

Terima kasihku untuk cedera!

20140614-110102-39662861.jpg

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s