Menyibak Misteri ‘Wanginya’ Toilet Tiongkok

Dari teman-teman yang pernah berkunjung ke Tiongkok daratan (Mainland China), kami penyuka kebersihan mendapat kabar buruk! Toilet-toilet di negeri itu baunya minta ampun. Semacam ‘aromaterapi’ yang menusuk sampai lubang hidung terdalam dan menembus pusat pembauan di otak.

Seketika saya yang belum pernah tinggal di sana langsung menghakimi bahwa orang-orang Tiongkok itu begitu jorok, kotor dan menjijikkan. Begitu bencinya saya dengan kondisi toilet-toilet mereka sampai terlintas dalam benak,”Saya rela sembelit dan menahan kencing asal bisa menghindari toilet-toilet ini!” Tersiksa sekali rasanya sebagai orang Indonesia yang terbiasa menggunakan air bersih sebagai alat membersihkan diri setelah buang air besar dan kecil.

Akan tetapi, saya tidak bisa melakukannya. Saya berhari-hari harus tinggal di negeri tirai bambu sehingga sangat tidak mungkin saya harus menahan hajat sampai mendarat kembali di Jakarta dengan racun-racun yang menumpuk di tubuh. Keduanya sama-sama mengerikan tetapi akibatnya pada kesehatan mungkin lebih ringan jika saya rela masuk ke toilet-toilet ‘wangi’ di Tiongkok.

Kepada seorang teman, saya berkeluh kesah mengenai kebersihan toilet karena merasa inilah pelampiasan terakhir yang bisa saya lakukan. “Toilet dan bandara itu wajah sebuah bangsa,”celetuk saya padanya karena begitu kesal dengan semua toilet di Beijing dan Shanghai. Ia mengangguk, dan saya senang menemukan rekan sependeritaan.

Beberapa teman perjalanan nekat membeli banyak tisu basah dari tanah air untuk mengantisipasi toilet tanpa air ini. Dan satu orang membawa beberapa masker muka untuk menutup hidungnya. Takut pingsan kalau di dalam, tuturnya. Solusi yang cerdas.

Masuk ke hotel di kedua kota terbesar di Tiongkok tadi, saya juga tidak menemukan adanya bidet (alat berbentuk lubang kecil dengan air bersih untuk cebok) atau nozzle (semacam tombol yang diputar untuk mengeluarkan air bersih untuk cebok) di toilet hotel. Sama sekali tidak ada alat cebok berupa air bersih. Hanya ada gulungan tisu toilet. Sungguh suatu sumber frustrasi.

Lalu saya bertanya-tanya, mengapa ini bisa terjadi?

Ternyata itu bukan karena warga dan budaya masyarakatnya yang jorok. Mereka, dalam pengamatan saya, lebih terdorong untuk berperilaku demikian karena KURANGNYA AIR BERSIH di Tiongkok. Kurang air bersih di negeri sebesar itu? Mungkin Anda sangsi, tetapi saya menyaksikan sendiri bagaimana kikirnya restoran-restoran di sana kalau kami meminta tambahan air putih. Sebagai pelancong dari negeri kaya air, kami tentu tidak bisa memahami mengapa pelayan-pelayan itu rajin mengeluarkan minuman soda, bir, atau teh hijau dan gusar saat kami meminta tambahan air putih. Bayangkan, air putih! Apa mahalnya? Bandingkan dengan teh hijau, bir dan minuman soda! Namun, ternyata benar adanya air di Tiongkok mahal! Dan kami turis Indonesia terus menggerutu karena tenggorokan kami sudah tidak tahan dengan makanan berminyak mereka dan minuman-minuman ini.

Perlahan-lahan, saya mulai menerima kenyataan bahwa toilet dengan bidet dan nozzle apalagi yang dilengkapi gayung dan ember atau bak air dengan kran yang terus mengucur meski sudah penuh ala WC umum Jakarta adalah sebuah impian belaka.

Menurut penuturan warga di sana, toilet dengan fasilitas “mewah” bidet ini amat langka di negeri mereka. Sebagian besar kamar mandi memiliki toilet jongkok tanpa bidet (toilet tradisonal mereka bahkan hanya berbentuk lubang di lantai yang juga menjadi lubang septic tank alias penampung tinja dan air seni), pancuran air atau shower. Jika mau, Anda bisa pakai shower untuk cebok. Toilet dengan ketersediaan air bersih dan bidet seperti barang mewah. Cuma segelintir orang kaya yang bisa memilikinya. Sayangnya, kami tidak mampir ke toilet-toilet penduduk kaya tetapi toilet-toilet umum. Jadi saya pun melupakan kemewahan tadi sembari menggenggam erat segepok tisu basah dan kering ke mana-mana.

Mayoritas rakyat Tiongkok tidak memiliki fasilitas buang hajat yang berlimpah air seperti kita di Indonesia karena suplai air bersih relatif terbatas. Mereka terpaksa menghemat air sebisa mungkin dan penghematan dalam berbagai hal sudah diketahui telah mendarah daging dalam kehidupan orang Tiongkok. Orang Tiongkok menghemat air bersih sedemikian maksimalnya sampai banyak wastafel dan bak cuci dialirkan ke ember-ember! Air tampungan itu lalu dipakai untuk membilas toilet dan kotoran di dalamnya.

Saya mendapat cerita lain dari teman yang pernah menyaksikan cara pekerja restoran Tiongkok membersihkan peralatan makanan mereka. “Tahu nggak sih mereka bersihinnya gimana?”Ia bercerita saat kami mengunyah makan malam yang terdiri dari segala macam sayur mayur tumis super asin, tahu yang baunya membuat mual, dan sup aneh.”Mereka kumpulin piring jadi satu terus disemprot air pake selang,”lanjutnya. Kami terus mengunyah dengan dahi sedikit mengernyit, karena kami sudah lapar sekali. Untuk restoran mahal, biasanya mereka menyediakan baskom berisi air panas agar tamu bisa mencelupkan alat makannya sebelum bersantap dengan tujuan lebih mensterilkan. Sialnya, restoran kami tidak memberikan air panas!

Lalu saya berpikir, beruntungnya kami tinggal di Indonesia. Masa bodoh dengan gedung-gedung pencakar langit ratusan meter di atas permukaan tanah kalau cebok merasa tidak nyaman.

http://bit.ly/WebOffsetPrinting

20140618-210858-76138496.jpg

2 Comments

Filed under miscellaneous

2 responses to “Menyibak Misteri ‘Wanginya’ Toilet Tiongkok

  1. bisa ngrasain susahnya..
    ini mengingatkanku berjibaku dg selang air di daerah pegunungan Gayo Lues. Gencatan senjata dg pacet (lintah) mjd rutinitas saat mperbaiki selang air dr atas bukit ke rumah. Mau tengah mlm, tengah tidur, tengah hujan, tengah terik, wajib mendaki bukit saat selang air lepas dr sumber mata air, lebih mnyebalkan lg mampet kesumbat, beuh..bs seharian cm ngurut2 tuh selang.. lebih2 kl musim hujan, airnya coklat susu…alhasil, stlh kering, pasca cebok bukannya bersih, tp mlh penuh debu.. tak apa yg penting bs mensucikanšŸ˜€

  2. Aduh….sejorok-joroknya toilet, aku paling gak demen kalau harus berurusan dengan toilet baušŸ˜¦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s