Kala Pembenci Sepakbola Mencoba Menikmati Piala Dunia

Saya tidak terlahir sebagai pembenci sepakbola. Saat kecil, saya netral saja terhadap jenis olahraga satu ini. Tidak benci, tidak pula gandrung sekali. Diajak menonton? Ayo saja. Disuruh menendang? Bukan masalah.

Bahkan saya masih ingat saat TK sering tidur larut malam. Untuk apa? Menemani mendiang kakek menonton pertandingan bola Liga Italia Seri A di TVRI yang ditayangkan di layar cembung sebuah televisi bermerek Sharp. Samar-samar terdengar gumaman komentator dalam bahasa Inggris, sementara kakek duduk dengan kopi pekat yang tertuang di cawan dan kabut tipis yang tercipta dari asap rokok Djarum yang baru saya belikan siangnya di toko milik pak Lilik, bapak Lurah yang tinggal beberapa meter dari rumah kakek. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya sadar saya sudah ikut membunuh kakek saya perlahan-lahan dengan tunduk pada perintahnya. Dari kebiasaan itu, lama-lama saya mengenal nama klub-klub dari negeri pizza; Sampdoria, Lazio, Parma, dan Sunderland. Oh, yang terakhir itu bukannya Liga Inggris? Setidaknya saya masih tahu bagaimana membedakan nama-nama klub peserta liga asing bukan?

Hingga datang suatu sore naas. Hari itu digelar sebuah pertandingan di kampung. Saya duduk di dekat garis batas di tepi lapangan. Para pemain berlarian ke sana ke mari tidak tentu arah demi mengejar bola. Tanpa peringatan, sekonyong-konyong bola sepak itu mengarah ke wajah saya. Tulang pipi saya serasa ringsek, bak bumi yang terkena hantaman meteor. Kemudian muncul sensasi “aftermath” yang menggetarkan isi kepala. Pusing, ngilu dan malu! Malu ditonton orang lain karena sudah menjadi korban. Kalau saya saat itu sudah tahu ada istilah gegar otak, mungkin saya akan meneriaki pemain bola kampungan itu,”Kamu sudah bikin saya gegar otak!!! Akan saya tuntut kamu ke pengadilan!!!”

Tidak ada lagi alasan mencintai sepakbola, tekad saya sejak hari itu. It was over… Forever!

Makanya saat Piala Dunia datang seperti sekarang, saya tidak terlalu bersemangat. Apa sih asyiknya mendukung mati-matian tim sepakbola yang bahkan bukan dari bangsa kita sendiri? Lalu mengorbankan waktu tidur yang sangat amat berharga sekali untuk mencari nafkah hanya demi menyaksikan tim kesayangan berlaga di layar kaca. Sorry, it doesn’t make sense to me. At all.

Fanatisme, yang saya kurang sukai itu, sangat kental terasa di Piala Dunia meski saya kemudian berpikir apakah kebencian saya pada fanatisme khas sepakbola itu juga sebuah bentuk fanatisme pada sikap anti sepakbola. Dengan kata lain, saya membenci fanatisme dengan sikap yang fanatik pula. Sebuah ironi barangkali, sehingga saya memutuskan untuk kembali bersikap netral saja. Itu lebih baik bagi saya. Entah dengan Anda. Saya tak bisa mengatur orang lain bagaimana pun juga. Yang penting kita suka dan jangan saling menghina. Itu saja.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s