Dandangan

“Dandang” dalam bahasa Jawa memiliki arti wadah semacam panci untuk merebus air, menanak nasi dan sebagainya. Maka kata “dandangan” bisa saya perkirakan memiliki makna “banyak panci”. Entahlah. Saya hanya berspekulasi.

Tetapi di Kudus menjelang Ramadhan, Anda tidak akan menemukan banyak panci berjejeran di jalan. Anda akan disuguhi orang-orang yang berjalan kaki lalu lalang atau menaiki sepeda motor dengan kecepatan siput hanya demi menghabiskan waktu melihat-lihat barang yang dijual di sepanjang jalan-jalan utama di kota kretek.

Dulu saat masih kanak-kanak, dandangan terasa sebagai sebuah acara yang patut dinanti-nantikan. Apa pasal? Karena di sini bertebaran pedagang-pedagang mainan murah meriah. Anak-anak perempuan biasanya akan memilih mainan berupa alat-alat memasak mini dari bahan tanah liat yang dibakar. Semacam tembikar yang kemudian dicat ala kadarnya untuk memikat hati gadis-gadis kecil yang ingin meniru para ibu memasak di dapur. Mainan ini disebut “pasaran”, yang maknanya berbeda dengan kata “pasaran” (artinya: terlalu mudah ditemukan di mana saja) yang populer saat ini. Mainan ini berbentuk kurang manis memang kalau disandingkan dengan mainan plastik tetapi tentu lebih ramah lingkungan dan tahan panas.

Sementara itu, anak-anak laki-laki bisa memilih truk-truk mini, miniatur mobil, kaos superhero Batman dengan sayap di belakangnya yang berkibar saat naik di sepeda. Ada juga berbagai pistol-pistol palsu dari plastik. Dan yang saya sukai adalah perahu mungil dari seng yang bisa bergerak maju di sebaskom air dengan suara khasnya “otok otok otok…”! Menggerakkan perahu ini mudah saja. Cukup dengan menggunakan sedikit minyak dicelupkan ke sumbu dalam perahu, nyalakan dan panas dari api kecil di dalamnya menggerakkan perahu. Sebuah keajaiban bagi kami, anak-anak kecil yang belum banyak paham prinsip-prinsip sains.

Dandangan biasanya mulai digelar sebulan sebelum Ramadhan tiba. Para pedagang tidak hanya dari Kudus tetapi juga luar kota seperti Demak, Jepara, Pati, Purwodadi dan sebagainya. Kudus memang kabupaten terkecil di Jawa Tengah tetapi daya tarik ekonominya termasuk tinggi. Di sini berdiri Djarum, bisnis yang mengantar kedua bersaudara Hartono sebagai orang terkaya di tanah air.

Di balik hingar bingar Dandangan, tersimpan pula sejumlah masalah sebetulnya. Banyak kriminalitas terjadi dalam kerumunan seperti ini. Entah itu pencurian kendaraan bermotor atau pencopetan. Dandangan juga membuat Kudus lebih kotor dan kumuh. Anda bisa bayangkan kumuhnya jalan-jalan protokol sebuah kota kecil yang warganya berjalan santai, membeli, kemudian membuang sampah sembarangan. Dan itu tidak cuma berlangsung sehari dua hari tetapi sebulan lebih! Belum lagi beban kemacetan dan kerugian immaterial yang diakibatkan dari diadakannya Dandangan.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s