Guru!!! (Bagian 3)

Udara dalam ruang apartemen mewahnya cukup membuat saya sedikit menggigil. Dari sebelah terlihat sebuah gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang megah.

Murid saya ini tidak memiliki mat yoga sehingga ia menggunakan karpet ruangan sebagai alas saja. Saya menyarankannya membeli di toko terdekat tetapi beberapa pekan kemudian ia tak jua mendapatkan mat. Entah karena tak ada waktu untuk membelinya atau karena menurutnya tidak perlu menggunakan mat saat berlatih.

Karena saya datang terlalu awal, tersedia sedikit waktu untuk mengobrol ringan. “Saya bekerja di Cengkareng, jadi lebih enak rasanya olahraga pas waktu sore. Kalau pagi hari, saya sering langsung berangkat kerja. Tidak ada waktu berolahraga,”ia berceloteh dalam bahasa Inggris. MC tidak bisa berbahasa Indonesia. Ia lulusan New York University dengan pengalaman di dunia industri penerbangan komersial.

Kerja saya cukup menantang juga karena saya mendapati otot-otot tubuhnya yang kaku. MC, sebagaimana banyak orang Kaukasia lainnya, kurang biasa berjongkok. Saat saya melakukan jongkok dengan begitu alami dan tanpa upaya berarti, MC rupanya memiliki pinggul yang kaku dan otot kaki yang tegang juga akibat terlalu sering jogging.

Karena kelas kami berlangsung di malam hari dan MC mengatakan preferensinya adalah yin yoga, saya tidak mengajarkan gerakan yang terlalu menantang tetapi yang lebih menenangkan di waktu setelah bekerja di kantor. Lalu kami berfokus lebih banyak pada gerakan-gerakan peregangan dan restoratif.

Terungkap satu keunikan dalam anatomi tubuh MC. Saat saya menyuruhnya tadasana (pose gunung) dengan kedua telapak kaki paralel atau sejajar satu sama lain dengan jari jemarinya mengarah lurus ke depan, kedua telapak kaki MC selalu membuka. “Memang di keluarga saya begini, Akhlis. Saudara-saudara dan ayah saya kakiknya mengarah ke luar, tidak bisa sejajar, dalam kondisi normal. Posisi ini bisa dikoreksi tetapi tidak bisa bertahan lama. Saya sendiri tidak tahu mengapa,”terang MC. Saya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasannya. Jadi ini keunikan anatomi genetis, saya menyimpulkan.

Keunikan itu pula lah yang membuat MC tidak dapat berdiri sebagaimana orang lain saat tadasana dan vrksasana (pose pohon). Saya pun memakluminya.

Kebiasaannya sebagai perenang dan pelari masuk dalam latihan yoga kami. Saat saya mengatakannya untuk bernapas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, MC secara otomatis menggunakan mulut. “Sebaiknya pakai hidung saja, MC. Dalam berlatih yoga, biasanya kita pakai pernapasan dengan hidung, kecuali dikatakan secara jelas untuk bernapas melalui mulut seperti sitali dan sitkari. Filosofinya, jangan sampai membuang tenaga prana itu ke luar tubuh dengan menghembuskan napas ke luar tubuh lewat mulut. Dengan hidung, prana itu akan tetap bersirkulasi dalam tubuh kita,”jelas saya penjang lebar sembari mengingat sedikit penjelasan teman saat dulu saya membuat kesalahan yang sama.

20140628-141546-51346454.jpg

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s