Tiongkok, Prabowo dan Orang Jawa yang Kebingungan

Seorang teman berdarah Tiongkok mendesak saya untuk memilih Jokowi daripada Prabowo. “Apa-apaan kamu?”reaksi saya membaca agitasi politiknya di jejaring sosial. Saya tidak mau dipaksa. Saya jelaskan saya bukan orang yang suka melakukan sesuatu dengan berdasarkan paksaan, meskipun hal itu bagus dan positif buat saya. Saya perlu memahami alasan di baliknya lebih dulu. “Kita sama,”ucapnya tentang alasan saya menolak kampanyenya tadi. Dan ia pun berhenti membujuk saya. Ia tahu percuma memaksa saya terus menerus. Kalau pun saya memilih Jokowi, atau Prabowo, saya pastikan karena itu dorongan nurani saya, bukan karena saya takut dimusuhi olehnya.

Ia menganggap saya akan memilih Prabowo karena saya pernah menolak mengucapkan selamat Natal pada rekan Nasrani saya. Ia mungkin berpikir,”Wah, ini anak mirip FPI, Hizbut Tahrir! Radikal! Islam garis keras!” Plus, saya pernah berkata terus terang padanya bahwa saya selalu merasa bersalah kalau harus meninggalkan salat. “Sampai seperti itukah?”tanyanya dengan tidak percaya. Saya muslim dan salat menjadi pembeda antara muslim dan non-muslim (dan muslim abal-abal), jadi sudah sepatutnya saya memberikan perhatian lebih pada ibadah rutin saya satu ini bukan?

Saya sendiri tidak pernah bertanya pada teman ini,”Apa agamamu, koh?” Saya bukannya segan atau tidak peduli, tetapi saya hanya menghormati pilihannya untuk tidak membagikan informasi tentang keyakinannya pada saya. Dan kami tak pernah berdiskusi tentang agama.

Sebenarnya saya sudah bosan menulis tentang apapun yang bertema Tiongkok. Beberapa waktu lalu seperti Anda ketahui, saya baru saja beranjangsana ke negeri tirai bambu dan saya menuliskan ulasan yang campur aduk mengenai pengalaman saya di sana. Tidak semuanya indah, wangi dan menggairahkan nafsu makan. Namun, patut diakui negeri itu memang lebih maju dari Indonesia kita ini. Dua hal yang menurut saya tidak bisa ditebus dengan semua kemajuan ekonomi itu adalah air bersih yang melimpah serta kebebasan pers dan berpendapat di negeri kita tercinta. Tiongkok yang seraksasa itu tidak bisa mengungguli kita! Demokrasi mereka dikebiri sementara kita subur sekali meski kacau di sana sini.

Sebagai seseorang berdarah Jawa, saya tidak pernah memiliki masalah dengan mereka yang berdarah Tiongkok. Bahkan selama di sekolah menengah, saya memiliki banyak teman baik yang berdarah Tiongkok. Saya sempat menaksir satu adik kelas di SMP dan ia sipit juga. Kudus untungnya kota kecil yang damai. Saat kerusuhan tahun 1998, saya masih ingat saya duduk belajar di kelas 1 SMA dengan teman-teman sipit dan kuning saya. Pigura presiden Suharto di depan kelas kami turunkan lalu disandarkan di pojok ruangan kelas 1H, kelas saya yang letaknya dekat kantin belakang sekolah. Saya tidak ingat ada kebencian rasial di antara kami. Itu hanya terjadi di televisi, di Jakarta, ibukota yang nun jauh di sana. Kudus kehidupan nyata kami dan hanya kedamaian di sini. Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap saat itu.

Pada saat yang sama, di Jakarta kerusuhan masif melanda. Latar belakangnya adalah faktor rasial. Medan juga tidak luput dari kerusuhan karena di sini juga menjadi basis penduduk keturunan. Kerusuhan ini mendorong pengunduran diri Presiden Soeharto dan kejatuhan Orde Baru.

Teman saya tadi menjelaskan mengapa dirinya mendorong saya memilih Jokowi saat ini. “Karena aku takut itu terjadi lagi,”tukasnya. Trauma yang mendalam itu membuatnya terpanggil untuk mendukung Jokowi. “Aku bukan fanatik buta pilih Jokowi tapi aku takut kejadian 98 terulang. Waktu itu aku masih SMA di Tangerang dan jauh dari keluarga. Teman-temanku dari kota asalku ketakutan sampai tidak tidur dengan menggenggam benda apapun yang bisa dijadikan senjata membela diri. Teman dekatku ada yang kena (kerusuhan – pen). Toko mereka dijarah habis-habisan. Mereka tidak sampai dilukai tetapi trauma dengan penjarahan karena melihat sendiri. Intinya kalau pemerintah gak bisa urus negara, ekonomi bisa kacau dan penjarahan bisa terjadi lagi.”

Lalu pagi ini, saya menemukan dua tulisan menarik di Asiapacific.anu.edu.au. Terlihat dari ekstensi domainnya, kita ketahui ini situs asal benua kanguru. Ada tulisan “Prabowo and His Anti-Chinese Past?” tulisan Tonny yang mengaku seorang dosen di Surabaya (tanpa foto diri) dan “Prabowo The Chameleon” tulisan Danau Tanu, seorang mahasiswa Ph. D. Jurusan Studi Asia dan Antropologi di University of Western Australia mengenai mobilitas dan pendidikan internasional di Indonesia.

Artikel pertama membuat saya teringat dengan ketakutan teman saya yang berdarah Tiongkok itu. Di dalamnya dituliskan oleh Tonny sebuah narasi yang sudah jelas arahnya. Prabowo Subianto menurut Tonny adalah salah satu sosok dengan peran penting dalam kerusuhan 1998. Di artikelnya, Tonny menuliskan:
“…as well as doubts about his whereabouts at the time, which possibly link him to the events of May 1998, even if he wasn’t actually at the centre of the violence.
[…] it is rarely remembered that on January 26, 1998, Prabowo invited a group of Muslim intellectuals and clerics to a fast-breaking at Kopassus headquarters. While Prabowo gave a speech about foreign threats to the stability of the nation, his staff distributed books containing data on the economic dominance of Chinese-Indonesians in Indonesia to the audience of around 5,000.
[…] In particular, Prabowo accused Chinese-Indonesian businessmen of economic sabotage as a means of bringing down Soeharto.
[…] we may conclude that Prabowo had an interest in portraying Indonesian Chinese as a scapegoat for the financial crisis of 1997.”

Saya bisa menemukan alasan mengapa teman saya demikian takut dengan kemungkinan naiknya Prabowo menjadi presiden RI kalau pernyataan-pernyataan ini bisa dibuktikan kebenarannya lebih lanjut dengan pemberian catatan kaki atau sumber klaim-klaim di dalamnya. Tetapi sayang saya tidak bisa menemukan rujukan apapun sehingga saya masih skeptis.

Sementara itu, dalam “Prabowo The Chameleon” kita bisa membaca adanya penggunaan teori psikoanalisis untuk menerangkan sikap bunglon Prabowo. Dikutip sebuah wawancara dengan Prabowo yang menceritakan kisah penghinaan terhadap bangsa Indonesia yang dilakukan teman-teman sekolahnya di Swiss terhadap bangsa ini, yang mereka katakan “masih tinggal di pohon”. Seperti primata? Harus diakui itu sangat ofensif sekali. Oleh karena itu, bisa dipahami jika Prabowo yang bersentuhan dengan banyak bangsa di masa mudanya itu tumbuh menjadi pribadi yang nasionalis. Danau Tanu memanggil Prabowo sebagai “Third Culture Kids” karena tumbuh sebagai anak dan remaja yang harus berpindah-pindah. Tercatat ada 6 negara yang pernah disinggahi Prabowo saat belia dan menurut Danau pengalaman masa muda ini membentuk Prabowo sebagai bunglon agar tetap bertahan di lingkungan baru tetapi menurut saya pada waktu yang sama membuatnya makin patriotis karena merasa terhina dengan sikap dan perilaku oknum bangsa Barat yang terang-terangan mencemooh Indonesia. Berikut kutipannya:
“To make it more confusing for the observer is that not only is Prabowo a cultural chameleon, but he is also a political chameleon – two different skills that are not to be confused with each other. The former allows Prabowo to communicate effectively with different audiences, the latter allows him to change political tunes when it suits him. Over the past decade or so, he went from a military commander who was implicated in the killing of unarmed citizens to a defender of the poor.”

Dan sekali lagi,saya menuliskan ini hanya sebagai deskripsi mengapa teman saya itu cemas dengan pencalonan Prabowo menjadi presiden RI ke-7.

Di sini sebagai orang berdarah Jawa dan pribumi, saya mencoba memahami kecemasannya, mencoba berempati dan kemudian terbentur pada kenyataan yang membingungkan, bahwa kedua calon presiden kita ini dari suku Jawa tetapi memiliki pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Jadi, kalau harus memilih dengan prinsip etnosentrisme, memilih Prabowo atau Jokowi juga sama saja. Kalau harus memilih dengan berdasarkan kesamaan keyakinan, tidak ada bedanya juga. Kalau begitu saya harus bagaimana? Untunglah masih ada sepekan lebih untuk sekadar menimbang-nimbang. Dalam pada itu, biarkan hati nurani yang memutuskan.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s