Kampus Pertumpul Bakat Menulis?

‎Dalam sebuah wawancara, penulis terkenal asal AS Elizabeth Gilbert menjelaskan mengapa ia menolak untuk menerima tawaran mengikuti pendidikan formal di Iowa Writers’ Workshop, sebuah program pendidikan penulisan kreatif yang didesain khusus bagi para calon penulis muda berbakat yang berlokasi di University of Iowa. Program ini tergolong prestisius karena telah melahirkan sastrawan-sastrawan termasyur seperti John Irving, Paul Harding, dan sebagainya.

Menurutnya, sebagaimana ia baca dari pendapat ‎seorang sastrawan lain yang saya lupa namanya, jika seseorang mau menjadi penulis yang baik, jangan masuk dalam kampus dan tempat pendidikan formal semacam itu. Lebih baik kita berkelana dan menjalani kegiatan sehari-hari seperti orang lain, entah itu mencuci piring, berjalan, memelihara kuda dan memberi makan serta mengurus kotorannya. Maklum, Gilbert pernah akrab dengan lingkungan ranch (peternakan khas Amerika) saat menulis novel pertamanya yang menurut penuturannya sempat membuatnya ‘berdarah-darah’. Ia mengaku tidak kuat hanya untuk membuka komputernya dan menghadapi layar yang kosong dan kenyataan bahwa imajinasi dan pikirannya sedang buntu. Tak ada yang bisa dituangkan. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sebagai pecundang kemudian memaksa diri bangkit setiap hari agar karyanya selesai entah bagaimana caranya. Dengan mengingat kata-kata pusaka dari sang ibu yang bunyinya “Done is better than perfect”, akhirnya ia menyelesaikan penulisan novel Stern Men yang kemudian diterbitkan tahun 2000. Tidak sespektakuler memoarnya Eat, Pray, Love tetapi perjuangannya sebagai penulis fiksi lebih berat di sini. Sebelumnya ia mengaku tak pernah menulis fiksi yang panjang, hanya cerpen. Novel menurutnya sebuah tantangan yang ia harus taklukkan sebagai penulis.

Dari pengalaman Gilbert itu saya kembali mencermati pengalaman saya sendiri sebagai penulis. Lain dari Gilbert, saya mengenal dunia susastera lebih dekat lewat kampus. Namun, di kampus saya diajak meneropong susastera dan tetek bengeknya dengan kacamata kritikus, peneliti, pengamat, komentator. ‎Sepanjang yang saya alami dan pelajari di kampus, saya lebih banyak diberikan alat-alat pembongkar karya sastra yang berupa seperangkat teori, aliran sastra, dan sebagainya. Telaah demi telaah kami lakukan di kelas dan di luar kelas. Saya membaca, dengan terseok-seok (karena tidak semua karya sastra yang diharuskan dibaca sesuai selera saya sebagai penikmat karya sastra), kemudian berupaya keras menemukan sisi karya itu yang bisa dibedah dengan salah satu ‘pisau’ yang sudah diberikan dosen.

Semua itu bagus tetapi terasa ada yang kurang. Menelaah karya sastra memang menyenangkan tetapi saya merasakan ketimpangan. ‎Saya tidak mau hanya menjadi pembaca, kritikus, peneliti. Saya juga mau memproduksi! Saya mau membuat karya saya sendiri. Adalah sebuah ironi bahwa saya yang belum punya karya sudah didorong berani untuk mengkritik karya orang lain. Ibarat seorang komentator sepakbola yang bahkan tak pernah turun ke lapangan, berlarian mengoper bola dan menggolkan bola ke sarang lawan. Etis kah kalau ia mengkritik pemain yang sudah bersusah payah? Kalau saya yang ditanya, saya akan jawab tidak. Menurut hemat saya, akan jauh lebih baik jika si komentator itu juga sebelumnya bermain di lapangan. Dan akan lebih baik lagi kalau ia juara sebelumnya, mantan pemain terbaik, most valuable player atau sejenisnya.

Gilbert ada benarnya juga. Mungkin lebih baik saya tidak menuntut ilmu susastera di kampus jika mau menjadi penulis, bukannya kritikus sastra, profesional.

Contoh lain ialah dua orang teman saya yang juga berbakat besar dalam menulis. Yang satu memiliki bakat linguistik dan sastrawi yang relatif menonjol tetapi kelak memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai pegawai negeri sipil (meski katanya hanya temporer, tidak akan sampai pensiun). Yang lainnya sudah cukup berpengalaman dan berhasil menerbitkan sejumlah karya novelnya tetapi sehari-hari ia mencari nafkah di dunia ritel. Saya tidak habis pikir mengapa mereka melakukan penyia-nyiaan bakat menulis itu. Bukankah akan sangat menyenangkan bila bisa menuangkan gairah menulis yang menjadi passion dari dalam hati dan juga meraup pendapatan? Ah, mungkin mereka belum menemukan jalan itu. Atau karena inilah jalan yang diperuntukkan bagi mereka, entah sementara atau sepanjang hayat.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s