Digempur Bola dan Politik, Euforia Ramadhan Meredup

Beginilah bulan puasa. Selalu penuh euforia yang sporadis. Hanya berlaku saat puasa tak ada di bulan-bulan lainnya.

Pertama, musholla kantor selalu penuh terutama waktu sholat dzuhur, ashar dan maghrib. Di bulan-bulan biasa, jangankan separuh musholla, sepertiga kapasitasnya saja sudah lumayan. Orang-orang lebih sering datang jauh setelah waktu sholat. Sekarang sebelum waktu sholat pun, musholla sudah hampir penuh. Di waktu dhuha juga ada sejumlah orang yang solat. Padahal sebelumnya cuma 1-2 orang saja.

Karena musholla diluberi pengunjung, alas kaki makin berserakan dan seorang petugas kebersihan diberikan tanggung jawab untuk merapikannya. Maksudnya “merapikan” di sini adalah meletakkan semua sepatu itu ke rak-rak dan kotak yang sudah tersedia. Dan semua orang tampaknya cuek saja meletakkan sepatu-sepatu itu di lantai dan membuat orang tidak leluasa lewat. Saya kasihan dengan si petugas yang selalu sibuk saat kami sholat untuk memasukkan sepatu ke kotak dan rak. Pikir saya, mengapa tidak mencetak tulisan himbauan “Letakkan sepatu ke dalam rak” untuk menghemat tenaga? Sangat konyol bukan? Toh ini lingkungan kerja kalangan pekerja kantor yang notabene terdidik dan tahu aturan. Kecil kemungkinan mereka abai dengan himbauan yang sejatinya untuk memudahkan diri mereka sendiri.

Selanjutnya, kemacetan setiap sore pukul 5. Karena pekerja muslim di kantor boleh meninggalkan tempat pukul 5 sore untuk menyiapkan diri berbuka, tidak diragukan lagi betapa sesaknya jalanan ibukota. Apalagi jalan di depan kantor sini yang sudah dikenal sebagai jalur maut bagi pengguna jalan!

Ada yang aneh dari gegap gempita Ramadhan kali ini. Skala euforianya jauh berkurang karena pertarungan para kandidat Pilpres yang makin meruncing saja ‎dan maraknya pertandingan Piala Dunia di negeri samba Brazil yang bertambah seru. Sepakbola dan politik menenggelamkan Ramadhan. Bahkan seorang teman mengaku membaca Al Quran sembari membiarkan televisi yang menyiarkan acara pertandingan Piala Dunia tetap menyala. Dan saya pun bertanya, apakah dengan bangun dini hari dengan tujuan menyaksikan pertandingan sepakbola akan mengurangi kualitas ibadah sahur dan puasa? Entahlah.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s