Saat Muhammadiyah Ikuti NU

Muhammadiyah dan NU dikenal saling berseberangan. Jika datang bulan Ramadhan dan Syawal, keduanya sering menetapkan awal yang berbeda. Itu disebabkan karena Muhammadiyah melakukan penentuan awal bulan dengan menghitung secara hisab (perhitungan astronomis) sementara Nahdlatul Ulama memakai metode rukyah, yang mengharuskan bulan baru alias hilal tampak secara kasat mata di garis cakrawala (horison). Muhammadiyah biasanya menetapkan lebih awal karena ia tak peduli dengan kondisi terlihat tidaknya bulan baru. Yang penting sudah dihitung dengan rumus astronomi secara akurat, tidak peduli bulan baru di langit sudah terlihat atau tertutup awan, Ramadhan dan Syawal sudah bisa dimulai. Sementara NU harus sedikit lebih bersabar karena bulan baru alias hilal yang bentuknya bulan sabit tipis itu harus bisa terlihat oleh mata manusia. Bulan-bulan hijriyah lainnya memang tidak pernah diributkan karena hanya awal dua bulan ini yang arti dan implikasi sosial ekonominya begitu besar bagi umat. Karena itu, perbedaannya selalu ada hingga akhir masa. Dan akan sangat melelahkan jika terus diributkan, dipermasalahkan.

Sejak kecil, saya dibesarkan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran Muhammadiyah yang amat kental. Artinya, kami tidak mengamalkan selain yang dilakukan oleh Rasul Muhammad SAW, tidak ada bid’ah‎, yang melebih-lebihkan dengan tujuan agar lebih afdol sampai membentuk tradisi dan konvensi baru padahal tidak dicontohkan Nabi di masa hidup beliau. Bid’ah menjadi sumber perselisihan antara kedua organisasi ini juga. Contohnya kebiasaan perayaan kematian seseorang sesuai tradisi Jawa (7 hari, 1000 hari). Muhammadiyah mengklaim lebih murni sementara NU lebih membumi karena tidak melupakan budaya sendiri.

Saat sekolah dasar, saya masuk SD Muhammadiyah di kota asal dan itu karena keinginan saya sendiri (alasan konyol karena ingin bergabung dengan tim marching band mereka hanya untuk mengetahui kepayahan saya dalam memainkan alat musik). Di dalamnya, ternyata saya harus belajar tentang mata pelajaran Kemuhammadiyahan. ‎Siswa diperkenalkan dengan ajaran Muhammadiyah yang ingin memurnikan ajaran dan praktik beragama Islam di tanah Jawa. Itu saja misi utamanya sepemahaman saya. Tidak untuk mengkafirkan saudara sekeyakinan dengan pemahaman berbeda, seperti sebagian kalangan Sunni yang mengkafirkan Syiah, Ahmadiyah, atau aliran-aliran sempalan sejenisnya.

Tetapi saya tidak akan banyak membahas perbedaan-perbedaan yang tidak akan ada habisnya itu. Saya ingin menemukan persamaan, karena ia lebih menyatukan, lebih mendamaikan dan memudahkan. Memudahkan? Maksudnya? Anda akan tahu maksud saya.

Setelah saya mengamati selama ini, lokasi masjid-masjid dengan jumlah rakaat tarawih 11 (yang disarankan Muhammadiyah) cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki dan sering saya sudah kepayahan di malam hari. Sementara di sekitar tempat tinggal, masjid dan surau dengan jumlah rakaat tarawih 23 lebih banyak dan dekat. Mau tak mau, saya harus tarawih bersama mereka bukan? Rasanya konyol sekali kalau di dekat saya ada masjid tetapi saya nekat ke masjid yang jauhnya berkali-kali lipat hanya untuk “menjaga diri dari bid’ah”.

Saya pun memutuskan untuk mengikuti tarawih dengan jumlah rakaat 23 di satu masjid terdekat. Dua kali saya mengikuti Ramadhan ini dan harus diakui cukup membosankan dan menguras energi. Rasanya pikiran dan tubuh saya menolak untuk sholat tarawih sebanyak itu. “Saya mau 11!”‎teriak saya. Sempat beberapa kali saya hanya mengikuti sebagian tarawih saja. Di tengah jalan saya meninggalkan masjid. Tetapi saya kemudian berpikir,”Apa salahnya kamu mencoba? Toh ini bukan perbedaan substansial dalam praktik keberagamaanmu‎. Hormati tradisi yang ada di sekitarmu sepanjang tidak mengusik nilai dan prinsip utama.”

Kemudian saya membuang kepicikan pikiran tadi karena saya ingat satu cerita yang pernah saya dengar. Entah siapa penuturnya atau sumber pertamanya, tetapi isinya adalah bahwa dua orang pimpinan NU dan Muhammadiyah pernah sholat subuh bersama. Saat yang menjadi imam adalah pimpinan NU, si pimpinan NU itu tidak membaca doa qunut (doa setelah i’tidal rakaat kedua sholat subuh yang menjadi kebiasaan NU). Dan saat si pimpinan Muhammadiyah mengimami sholat subuh, ia malah membaca doa qunut sebelum turun sujud di rakaat keduanya. Setelah itu, ‎keduanya saling bertanya mengapa tidak mempraktikkan keyakinan masing-masing? Mereka menjawab bahwa hal itu dilakukan untuk saling menghormati, toh perbedaan itu tidak substansial.

Cerita ini, meski saya belum bisa mengkonfirmasi dan memverifikasi redaksinya serta menemukan rincian kejadiannya dengan lebih lengkap, menjadi pendorong bagi saya untuk mencoba menjadi Nahdliyin barang semalam saja. Jika ada kesalahan penyampaiannya, silakan sampaikan di kotak komentar. Namun, sekali lagi inti hikmah di sini adalah bagaimana indahnya sesekali memahami saudara kita yang berbeda pemahaman dan pemikiran, betapa nikmatnya berusaha menemukan persamaan yang merekatkan dan sejenak menyingkirkan perbedaan yang memisahkan sembari masih bisa saling menghormati supaya kepicikan itu pergi.

Referensi:

http://malaysia.muhammadiyah.or.id/artikel–antara-hisab-dan-rukyah-detail-272.html

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s