Anak-anak Kos Ibukota

‎Membahas tempat kos di ibukota tidak akan ada habisnya. Kos-kos di sini penuh dengan orang-orang bertingkah aneh, unik. Kadang membuat tertawa, tetapi lebih sering membuat risih dan mulut ternganga sambil bergumam,”Kok sampe segitunya?”

Seperti yang dikisahkan ibu kos tadi sore. Seorang anak kos diduga keras telah melakukan tindakan tidak senonoh! Mengerikan. Bukan pelecehan seksual atau pemerkosaan atau penipuan, cuma pengintipan. Bunga Bangkai, sebut saja nama pria muda itu, beralasan bahwa ia tidak suka dengan Surti, bukan nama asli, perempuan yang tinggal di sebelah kamar kosnya. “Masak belum merit udah nginep-nginep mulu??”begitu alasan yang ia pakai saat diinterogasi oleh pak kos yang menerima laporan tindak durjana Bunga Bangkai‎ via telepon. Kekasih Surti, menurut kesaksian bu kos, memergoki Bunga Bangkai tengah berdiri dengan memegang ponsel yang kamera perekamnya terarah tepat ke tubuh polos Surti yang tengah berlumuran busa, dan dosa. Lubang ventilasi kamar mandi nan sempit itu menjadi sarana tepat untuk memuaskan nafsu voyeurish-nya. Tak kuasa menahan amarah, kekasih Surti pun menelepon pak kos. Harus diberi pelajaran pokoknya, begitu pikir pria tadi. Bunga Bangkai melanjutkan pembelaannya atas tindakan tersebut,”Mau tau aja masih virgin nggak…” Cukup mengagumkan juga semangat Bunga Bangkai untuk turut memiliki kekasih orang lain. Namun, yang paling ingin saya ketahui: apakah video hasil rekaman tadi sudah dihapus? Atau…? Sudahlah.

‎Lalu ada Marni (nama samaran lagi) yang suka menunggak. Selalu saja saat ditagih uang kos, ia berkata,”Saya kan kerjanya jadi SPG (sales promotion girl) di Ambas (Ambassador Mall – pen) jadi pemasukan gak tetap, pak. Mohon maklum.” Sekali dua kali ia terlambat membayar. Lalu terus menerus. Akhirnya menjadi sebuah kesalahan yang tidak terampunkan. Kata pemilik kos,”Sudah, Marni. Begini saja. Kamu tidak usah bayar kos lagi. Gratis. Tapi kemasi barang kamu semuanya sekarang. Besok kamar kamu harus sudah kosong.” Ya, mau bagaimana lagi, daripada makan hati tiap hari, begitu pikir pemilik kos yang berdarah Tiongkok. Lalu kami ucapkan selamat tinggal pada Marni.

Lain lagi cerita Bayu, juga bukan nama asli. Ia pria gemulai, yang kata bu kos suka menyanyi dan tampil di kafe. Ia berkeyakinan sama dengan pemilik kos. Beberapa kali ia pergi ke gereja tempat pemilik kos sering beribadah. Hubungan terjalin erat dari waktu ke waktu. Bu kos, yang menjadi karyawan pemilik kos, juga sudah akrab dengan Bayu. Pemilik kos termasuk orang yang relijius meski pelitnya bukan kepalang sehingga ia ingin membawa Bayu ke jalan yang benar, entah apa maksudnya. Salah satunya ialah dengan mengajaknya lebih sering ke gereja. Kemudian Bayu mengalami masalah keuangan. Pekerjaannya hilang. Ia tak tahu harus bagaimana. Biaya kos pun tak terlunasi. Sudah percaya pada Bayu, pemilik kos tak terlalu cerewet dengannya. Asal nanti dapat pekerjaan juga pasti dilunasi. Ia salah. Di suatu malam, Bayu mengendap-ngendap ke luar kos. Tapi tangannya tidak kosong. Barang-barangnya dibawa ikut serta. Ia pindah tempat tinggal, tanpa sepengetahuan kami semua. Tanpa sepengetahuan pemilik kos juga, yang sudah diutanginya uang kos beberapa bulan.

Selain itu, ada satu anak kos yang bekerja sebagai artis figuran di dunia persinetronan Indonesia. Saya belum tahu ada artis di sini tetapi kata bu kos, dulu ada. ‎Namanya Sinyo, sebut saja begitu. Bukan pesohor papan atas jadi jangan berharap bisa langsung familiar dengan mukanya. Katanya ada beberapa anak kos yang iseng mengintip dia tidur. Apa pasal? Dia sering tidur pakai celana dalam saja. Saya lalu berpikir, kenapa banyak orang suka mengintip di sini??? Saya jadi waswas juga kan.

Namun, tidak ada yang seaneh Bonbon. Matanya sipit sekali, kulitnya putih, kedua kakinya asimetris, berdarah Tionghoa dengan rambut yang kejur. Sangat sangat T‎iongkok hingga ia membuka mulut. Alih-alih berbicara Hokkian atau Mandarin yang fasih, Bonbon senang berbicara dengan bu kos dalam bahasa Jawa dialek ngapak dari daerah Banyumas dan sekitarnya. Dan logatnya lebih kental daripada saya yang orang Jawa tulen. Bahasa Indonesianya masih menyisakan jejak-jejak lidah Banyumas tadi. Saya sampai heran. Such a quirk of linguistic world! Kalau saya boleh berkomentar (lagi), Bonbon menjadi bukti betapa mudahnya warga keturunan Tiongkok di tanah air. Logat mereka sudah tidak cedal lagi seperti nenek moyangnya. Pelafalan “r” jauh lebih canggih. Pernah seorang teman keturunan dikomentari oleh sesama orang keturunan yang menjadi warga negara jiran, “Orang China Indonesia itu hebat ya. Kalau ngomong sudah tidak bisa dibedakan lagi mana orang Melayu, mana yang China. Logatnya sudah lebur dengan sekitarnya.” ‎Justru yang heran kalau ada orang keturunan yang tinggal di sini selama beberapa tahun dan mencari nafkah tetapi tak kunjung menguasai bahasa Indonesia. Pemalas, pikir saya. Atau arogansi berbahasa? Bisa jadi ia berpikir, “Berbahasa Inggris dan Mandarin saja sudah cukup, kenapa harus berbahasa Indonesia?” Maka dari itu, saya anggap ada semacam ketidakadilan di sini. Saat orang-orang asing mencari nafkah atau menuntut ilmu di negeri ini, mereka tak diharuskan bisa menguasai ketrampilan berkomunikasi dasar dalam bahasa kita. Tetapi begitu kita mengirim tenaga kerja ke luar, mereka diwajibkan lulus tes bahasa lokal. Kalau negeri-negeri Anglosaxon memiliki TOEFL dan IELTS, kenapa kita tidak bisa mengadakan ujian kompetensi berbahasa yang sama untuk bahasa tercinta kita? Serendah itukah posisi tawar kita di depan bangsa lain?

Kembali ke kos ibukota dan masih tentang warga asing ‎. Bukan cuma warga negara Indonesia yang menyewa kos di sini. Banyak juga ekspatriat yang mencari nafkah dan harus menyewa kos. Seperti Mr. Han, demikian nama palsunya untuk mempermudah bercerita. Usianya sudah tidak muda lagi, paruh baya. Anaknya 1, seorang gadis dewasa yang tinggal di Seoul bersama istrinya. Saya pernah menyaksikannya menggunakan Skype untuk mengobrol dengan anaknya. Buntungnya, jaringan Internet seluler di sini tidak bisa dibandingkan dengan negeri asalnya Korsel yang sudah seperti kijang yang melesat diburu harimau. Kecepatan Internet Indonesia yang hanya seperti katak (karena terlalu kejam juga menganggapnya seperti siput) membuat komunikasinya tersendat. Beberapa kali sinyal putus hingga ia putus asa. Sudahlah, dan ia putuskan mengunjungi warnet terdekat. Karena ia pikir menghabiskan waktu di Seven Eleven itu boros, karena harus membeli sesuatu dulu sebelum nongkrong dan berselancar Internet di sana. Mr. Han memang sangat amat hemat. Ponselnya cuma Samsung Galaxy Young dengan harga sejuta lebih. Laptopnya cuma Acer yang sederhana. Pakaiannya cuma beberapa, dan saya serius. Cuma beberapa! Pakaian santai cuma 1. Kemeja murah berwarna oranye yang sama. Lalu 1 kaos abu-abu untuk jogging. Kemudian beberapa helai kemeja murah yang bisa dibeli di Carrefour atau Lotte Mart terdekat. Ia seakan menjadi penyangkalan atas citra Korsel sebagai kiblat budaya hedonis dengan busana dan dandana ajaib mereka yang tak ada habisnya. Padahal saya yakin penghasilannya cukup untuk membeli lebih. Saya menduga, ia kirim sebagian besar gajinya ke keluarga di Korsel. Saya sangat heran ada ekspatriat yang mau tinggal di kos sederhana seperti ini. Kebanyakan ekspatriat tinggal di apartemen. Kamarnya kecil, lebih sempit dari saya. Dan sangat gerah kalau hari panas. Makanya, tidak heran kalau di kos, dia jarang pakai baju. Meski usia sudah paruh baya (saya taksir sekitar 50-an), Mr. Han tergolong masih bugar, dan awet muda. Bukan hanya karena suka makan kimchi yang kaya antioksidan, ia juga getol berlari (jogging) di sore hari di sebuah taman luas beberapa ratus meter dari kos kami. Perutnya rata, tidak membentuk 6 pack tetapi sangat rata dibandingkan beberapa teman kantor saya yang usia mereka bahkan belum 30 tahun tetapi sudah seperti pria usia senja dengan lemak perut menggelambir ke mana-mana. Memprihatinkan memang. Tidak salah kalau dulu saya diberitahu bahwa bangsa Korea paling peduli pada kesehatan. Dibandingkan masakan Tiongkok yang bergelimang minyak, masakan Korea relatif lebih segar dan minim minyak. Kimchi memang tidak segar karena hasil fermentasi tetapi sangat sehat karena kandungan vitamin dan mineral serta bakteri probiotik dari proses fermentasi itu mampu membantu meningkatkan kesehatan pencernaan dan konon, saya pernah baca, meningkatkan pembakaran lemak dalam badan si pemakan. Nah, tidak aneh sangat jarang kita temui orang Korea tambun-tambun walaupun sudah berusia uzur kan? Bandingkan dengan orang-orang Amerika atau kita terutama yang sudah bergaya hidup kota dengan aktivitas fisik yang kurang dan asupan makanan sembarangan.

‎Menyoal tentang aktivitas fisik dan olahraga, ada juga anak kos di sini yang begitu gandrungnya dengan olahraga sampai di depan kamarnya tersedia barbel dari semen. Tubuhnya tinggi dan berkulit kuning. Ia jago bermain voli dan sering menghabiskan waktu di pusat kebugaran atau lapangan futsal terdekat bersama teman-temannya. Namanya Sumanto, yang mengingatkan kita pada seorang pria pemakan mayat dari daerah Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Lain dari Sumanto kanibal yang bermuka menjijikkan itu, Sumanto yang ini termasuk sadar penampilan. Dengan tubuh hasil pahatan fitness center itu, ia tidak malu hanya bercelana pendek ke seantero kos. Anggap saja ia sedang memamerkan hasil kerja kerasnya selama ini mengangkat barbel-bar Walaupun profesinya pegawai keamanan di kantor Pertamina , tunggangannya sehari-hari berganti-ganti. “Iya mbak begitulah masnya suka berganti-ganti motor,”keluh pacarnya yang sesekali menginap di kamar kosnya pada bu kos. Mungkin ia cemas akan diganti juga dengan pacar baru, secepat Sumanto mengganti sepeda motornya juga. Maklum Sumanto lumayan tampan jadi dirinya khawatir akan dicampakkan. Di sini, pacar menginap sudah jamak. Hal itu tetap terjadi meski pemilik kos tidak mengijinkan. Lama-lama asal bayar biaya menginap Rp50.000 per malam, silakan saja mengajak siapa pun menginap ke dalam sampai penuh.

Tapi si Tono lebih parah dari Sumanto. Ia sering memasukkan pacar ke dalam kamar dan menginap secara sembunyi-sembunyi. Triknya, sandal si pacar dibawa masuk ke dalam kamar agar bu kos tak bisa melacaknya. Kamar pun harus tenang, tak boleh berisik agar tidak mencurigakan, tak peduli apapun yang mereka berdua lakukan di dalamnya. Kamar Tono yang berseberangan ‎dari kamar Sumanto itu memiliki pendingin udara, yang menjadikannya satu-satunya kamar tersejuk di kos kami. Untuk menikmati fasilitas pendingin udara tadi, Tono rela merogoh kocek 2 kali lebih dalam dari yang seharusnya. Maklum saja, ia tak betah di udara pengap kamar sempit. Meski sempit, setidaknya harus sejuk, pikir Toni. Bisa dipahami keinginannya itu, karena bagi kami kaum pekerja di sekitar daerah pusat bisnis internasional Mega Kuningan, biaya sewa satu kamar sempit dan pengap itu harganya sudah setara harga sewa satu rumah petak di daerah pinggiran Jakarta. Hanya saja kami tak perlu cemas dengan pengeluaran transportasi yang membubung. Belum lagi tingkat stres saat berada di jalan. Waktu menjadi lebih terasa lapang, hidup lebih tenang dan kesehatan jiwa lebih terjaga.

Untuk menambah keanehan, kos ini juga punya anak kos dengan kewarasan yang meragukan‎. Dia menghabiskan hampir semua waktunya berada dalam kamar di lantai dua. Turun ke bawah cuma saat buang air, mencuci wajah lalu kembali mengeram di kamar. Mandi pun kalau ingat dan ingin. Makan dan minum pun hanya menunggu apa yang disajikan oleh bu kos. Tak peduli selapar apapun dan sebosan apapun, ia toh selalu menunggu sajian dari bu kos. Dan dia tak pernah mengeluhkan rasa, porsi, dan sebagainya. Hanya menerima yang diberikan. Tanpa syarat. Tak juga meminta dimasakkan makanan kesukaan atau membuang bahan makanan yang tak disukai. Semuanya dilahap. Terlambat mengajikan pun tidak mengapa. Sebelum ini ia menggelandang, menganggur dan hanya duduk di depan rumah orang tua dan adiknya untuk meminta belas kasihan mereka. Meminta uang saku dan menghabiskannya meski ia sendiri sudah mengantongi ijazah sarjana. Aneh bukan si Wowor ini? Saya panggil dia Wowor karena penampilannya semrawut seperti Rudy Wowor.

‎Tidak semuanya aneh seperti Wowor. Banyak juga yang relatif baik dan normal. Seperti Nurul, seorang gadis pertengahan 20-an dengan calon suami seorang polisi. Ia begitu bangga dengan masa depan sebagai istri seorang abdi negara dan penegak hukum sampai suatu saat harus dibenturkan kenyataan pahit bahwa meski rencana pernikahan sudah dilakukan dan biaya sudah keluar serta undangan tersebar luas, si pujaan hati mengatakan ada idaman lainnya. Seorang wanita yang juga berprofesi polisi. Lain dengan Nurul yang bekerja di perusahaan swasta. Bayangkan perasaan Nurul saat si lelaki itu mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan untuk membatalkan pernikahan mereka yang makin dekat. Orang tua Nurul gusar bukan main. Nurul terpukul berat sampai kehilangan nafsu makan. Ia menjadi pendiam dan murung. Tetapi dasar sudah mabuk kepayang, Nurul masih berupaya membujuk si lelaki agar mau kembali. “Tidak masalah kalau dia mau kembali, melupakan itu semua dan menikah seperti rencana. Saya dan orang tua memaafkan,”katanya seperti dikatakan bu kos saya yang sangat dekat dengannya. Saya pikir, haruskah sampai seperti itu cintanya pada pria pengkhianat tadi? Jika sebelum menikah saja sudah berkhianat, apalagi nanti kalau sudah hidup seatap? Kami yang mendengarnya benar-benar tak habis pikir. Semudah itukah memaafkan demi cinta? Atau citra? Agar tidak tertimpa guyuran rasa malu terhadap tetangga dan kolega? Entahlah, toh itu pernikahan yang Nurul harus jalani dan tanggung apapun konsekuensinya. Dan tampaknya ia tak ragu melakukan pengorbanan segala rupa agar si calon suami tetap di sisi. Bagaimana ada orang sebaik dan sepemaaf ini? Lalu bagaimana dengan harga diri? Tampaknya Nurul harus berkompromi, sampai akhir nanti. Atau mungkin kelak ia akan menyadari ilusi ini dan lebih memutuskan bagaimana lepas dari ikatan suci dengan sang suami. Hanya waktu dan Tuhan yang bisa menjawab.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s