“How to Be a Writerpreneur” Ajari Anda Raup Laba dari Menyusun Kata

‎Terlihat tertumpuk rapi di satu rak di sebuah toko buku Gramedia terdekat, buku yang ditulis Eni Setiati ini menarik perhatian saya dengan judulnya yang berbau entrepreneurship/ wirausaha. Alasannya sederhana saja:karena sehari-hari saya juga bercengkerama dengan dunia tulis menulis dan entrepreneurship. Sudah sejak lama saya ingin menekuni dunia menulis secara lebih serius dan profesional untuk kemudian bisa membebaskan diri dari status pegawai.

Akan tetapi semua itu butuh proses, dan proses membutuhkan kesabaran, energi dan waktu yang tidak sedikit. ‎Membaca buku ini, saya harap, bisa memberikan secercah gambaran dan panduan mengenai bagaimana merintis karir di jalur kepenulisan, tantangan yang harus diantisipasi dan memastikan apakah hal-hal yang saya lakukan setiap hari akan mengantarkan saya lebih dekat ke tujuan ini atau tidak. Mandiri secara finansial dengan menjadi penulis yang independen, siapa yang tidak tergiur?

Terus terang menjadi seorang entrepreneur yang mendirikan dan menjalankan bisnis terasa terlalu jauh di awang-awang bagi saya. Kenapa? Karena saya merasa bisnis adalah bidang di luar kompetensi saya. Kalau saya harus berbisnis, saya harus berbisnis apa? Tetapi kalau harus berbisnis dalam bidang yang saya sudah akrabi sekian lama mungkin akan lebih terasa asyik dan sepenuh hati.

‎Eni Setiati, sang penulis yang juga seorang ibu tunggal (seperti pengarang terkenal Inggris Joanne Rowling), membuka dengan pengantar tentang dirinya yang tumbuh sebagai anak berayahkan seorang jurnalis. Eni kemudian tertarik dengan dunia menulis di masa dewasa dengan kuliah jurusan jurnalistik di IISIP Lenteng Agung, Jakarta.

Dari membaca bagian awal secara sekilas, dapat diketahui buku ini tidak menggunakan pakem menulis yang ketat. Maksud saya, gaya penulisan dan bahasanya terkesan ringan dan sembarangan. Sejumlah kesalahan dalam teks yang tergolong kecil tetapi fundamental (dan sangat mengganggu karena kerap ditemui di seluruh bagian buku), misalnya penulisan imbuhan “di-” yang kadang dipisah dan digabung, “menyediakn” yang seharusnya “menyediakan” (hal 12). Begitu acak-acakannya teks dalam buku ini hingga saya berpikir,”Apakah Eni dikejar tenggat waktu saat menulis buku ini? Atau sedemikian sempitkah waktu yang diberikan untuk menyempurnakan naskah hingga menyunting naskah buku ini dengan profesional tidak bisa dilakukan dengan maksimal? Sungguh sangat disayangkan, buku dengan tema semenarik ini harus disajikan dalam kalimat-kalimat kacau dan kesalahan penulisan, grammatika, dan lain-lain yang anak sekolah pun akan temukan dengan mudah. Menemukan kesalahan sepele tetapi mendasar dalam naskah buku ini membuat saya mempertanyakan kredibilitas dan profesionalisme Eni sebagai seseorang yang mengaku sebagai pengusaha-penulis. Gaya penyampaian yang informal diselingi formal (memakai kata “saya”) membuat pembaca kebingungan. ‎Tak heran, karena ternyata Eni sendirilah yang menjadi penyunting bagi bukunya sendiri. Untuk menekan biaya dan menghemat waktu? Entahlah, tetapi yang jelas hasilnya mengecewakan. Bukan tingkat kualitas tulisan yang dapat dibanggakan dari seseorang yang mengaku melakoni profesi reporter sejak 1993 dan sekolah di kampus jurnalistik.

‎Terlepas dari semua itu, pesan-pesan di dalamnya harus diakui sangat memotivasi. Baca saja halaman 22, saat Eni menceritakan kepenatannya dalam menjadi reporter yang harus sering pulang malam sekaligus ibu tunggal dengan satu anak. Tahun 2003 di usia 35 tahun, ia putuskan menjadi writerpreneur, tak peduli kenyamanan yang ditawarkan oleh posisi reporter yang membuatnya bisa melancong atas nama pekerjaan dengan menggunakan biaya kantor atau menikmati guyuran hadiah sebagai kuli tinta. Saya bisa merasakannya karena saya juga sekarang bekerja sebagai reporter. Sungguh mengagumkan bisa mengetahui ada seorang ibu yang mencari nafkah untuk keluarga dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang “mapan” dan menjanjikan kemapanan dan stabilitas keuangan. Sebuah teladan bagi saya yang masih gamang.

Terjun bebas‎ sebagai seorang writerpreneur, Eni berkisah dirinya nekat melakukan dengan menerima pesanan membuat 10 naskah untuk 10 buku untuk orang lain. Inilah yang disebut sebagai ghostwriter atau penulis yang menulis naskah yang kemudian ia jual pada orang lain. Nama ghostwriter ini tidak terpampang di sampul buku. Yang justru saya ingin ketahui ialah:” Bagaimana ia bisa mendapatkan pesanan sebanyak itu?” Eni menjelaskan order bisa datang dari individu atau penerbit.

Di halaman 40-41, Eni mencantumkan sebuah kisaran harga untuk berbagai jenis materi tulisan seperti penulisan untuk buku milik sendiri, penulisan buku untuk orang lain, penyuntingan, dan sebagainya. Tak lupa, ia berikan informasi singkat mengenai ‎peluang menjadi pelatih menulis dan penulisan materi iklan (copywriting) yang konon berupah tinggi.

Satu kutipan yang saya suka adalah: “Menulislah apa yang dapat Anda tulis, jangan menulis berdasarkan permintaan pasar karena hal ini akan membuat Anda tidak kreatif.”‎ Namun, di halaman lain ia menyarankan agar calon penulis banyak survei ke toko buku untuk menemukan tema yang banyak disukai penerbit-penerbit masa kini. Nyata sekali bahwa dunia penulis juga tak lepas dari motif ekonomi dan idealisme, serta permasalahan yang muncul akibat tari ulur keduanya.

Eni juga mengajak calon penulis agar melek hukum agar tidak diperlakukan semena-mena oleh pihak lain yang ingin mengeksploitasi hasil karya intelektual penulis. ‎Bayangkan jika Anda sudah menulis naskah ratusan lembar hasil kerja keras berbulan-bulan begadang dan tiba-tiba diklaim sebagai karya orang lain dengan kompensasi tak layak. Hal itu pernah menimpa Eni. Kita calon penulis buku tak perlu mengalaminya sendiri karena dapat belajar langkah-langkah antisipasinya dari Eni.

Dari buku ini, saya juga bisa katakan penghargaan masyarakat Indonesia pada para penulis dan hasil kerja keras mereka belum sebaik negara-negara maju, bahkan negeri-negeri jiran. Apa pasal? Tentu saja karena mentalitas yang masih menganggap buku itu mahal, bukan barang kebutuhan pokok, bisa diperoleh gratis dengan meminjam atau menyalin tanpa ijin penulis dan penerbit, dan sebagainya. Penegakan hukum untuk pelaku pembajakan buku juga tidak bisa diandalkan sama sekali. Intinya, penghargaan pada profesi penulis masih rendah di Indonesia.

‎Buku terbitan Maqom Intuisi Media tahun 2012 ini dapat saya katakan sebuah panduan yang baik bagi calon penulis dan penulis pemula yang ingin karirnya sebagai writerpreneur lebih mulus dan cemerlang lagi. Namun, dengan tebal hanya 124 halaman dan cacat ejaan, tanda baca dan tata bahasa di sana-sini, rasanya buku ini bisa disempurnakan kembali agar lebih baik dan bernas.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s