Manfaat Membaca Fiksi

Dalam bukunya yang berjudul “The Lessons”, G. Kingsley Ward‎ memaparkan nasihat-nasihatnya tentang bisnis dan kehidupan dalam bentuk narasi khas surat pribadi yang seolah ditujukan pada anak-anaknya yang kelak akan mewarisi bisnis yang sudah susah payah ia rintis. Salah satu mutiara hikmah yang ia wariskan pada anaknya ialah pentingnya mengadopsi kebiasaan membaca untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan sebagai pebisnis yang hendak merengkuh sukses. Membaca itu penting, cetusnya kurang lebih demikian. Banyak membaca membuatnya mampu menghayati pengalaman dalam kehidupan banyak orang, tanpa menjadi orang-orang tersebut, tanpa secara langsung mengalami kesusahan yang mereka derita. Tetapi bacalah buku-buku non-fiksi untuk pengembangan diri karena ia hampir merasa “buang-buang waktu saja membaca khayalan orang lain” dalam buku-buku fiksi.

Membuang waktu? Benarkah membaca karya-karya fiksi itu cuma membuang waktu saja?

Sebagai lulusan jurusan Sastra yang ‎sedikit banyak bergelut dengan bacaan fiksi, saya merasa opini itu sah-sah saja. Kenapa? Karena si pelontar opini adalah pebisnis yang umumnya berpikir pragmatis dan praktis. Orang semacam ini membaca sesuatu dengan motivasi yang berbeda dari, katakanlah, saya sebagai penulis dan jurnalis dalam bidang susastra, iptek, dan sebagainya. Terang sekali bahwa hanya sedikit manfaat yang bisa dituai dari karya fiksi oleh pebisnis yang, misalnya, mau menggenjot laba perusahaannya, atau membuat bisnis baru, menghindari dampak krisis keuangan dunia, atau menang bersaing di pasar yang makin jenuh dengan kompetitor. Bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak ada. Saya bisa memahaminya argumen Ward tersebut.

Namun, bukan berarti membaca karya fiksi itu sia-sia belaka. Tetap ada manfaat yang bisa dinikmati dari sana, yang mungkin Ward abaikan. Salah satunya yang menurut saya penting ialah daya imajinasi. Menjaga perkembangan daya imajinasi juga membuat kita lebih visioner, tidak hanya berpikir pendek dan sempit. Ingat bagaimana membaca karya fiksi adalah juga latihan kesabaran untuk menelaah buah pikiran seorang manusia, membuat seseorang menjadi lebih bijak dalam memberikan tanggapan terhadap berbagai situasi di sekelilingnya.

Lalu manfaat lainnya yang tak kalah signifikan ialah melatih kepekaan akal dan budi kita sebagai manusia. Manusia bukan cuma homo economicus, makhluk ekonomi, tetapi juga memiliki sisi-sisi kompleks lainnya yang tak bisa tergali dan terasah dengan bacaan-bacaan non-fiksi. ‎Dan kita butuh keseimbangan, bukan? Dalam konteks bisnis, akal dan budi bisa dikaitkan dengan etika bisnis. Apakah yang harus dilakukan agar bisnis tetap berjalan dan menguntungkan namun tidak bertabrakan dengan norma dan tatanan moral di masyarakat tempat kita hidup sekarang? Bukankah itu juga tidak kalah krusialnya?

Membaca fiksi juga membuat kemampuan berempati lebih baik karena membuat kita dapat lebih menghayati plus minus berada di posisi orang lain, menjalani pahit manis kehidupan mereka agar kita tidak sewenang-wenang dalam berbisnis.

‎Masih berpikir membaca karya fiksi mmebuang waktu?

Referensi:
Ward, G. Kingsley. 2011. ‎The Lessons (terjemahan “Letters of a Businessman to His Son”). Hal 143

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s